Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 105 - Sibuk


__ADS_3

BAB 105


Dwyne melayangkan kepalan tangan pada panci berisi tom yum yang entah rasanya bagaimana, sigap beberapa asisten rumah tangga memegang tubuhnya, menahan agar alat masak satu itu tidak melayang dan berhamburan isinya. Dwyne bersusah payah, membuang waktu berharganya hanya untuk memasak, mengabaikan Denver selama 2 jam tapi lagi hasilnya nol besar.


“Arrrgh, aku tidak mau makan tom yum itu malam ini”, teriak Dwyne kesal, kakinya pun mantap melangkah menapaki anak tangga. Semua yang ada di dapur hanya mengelus dada dan menarik napas saja.


BRAK


Suara pintu tertutup cukup nyaring, untung Baby Denver sedang bersama pengasuhnya di taman belakang rumah.


Dalam kamar, Dwyne memeriksa smartphone benar terdapat tiga kali panggilan dari Dewa dan satu pesan yang memberitahunya kalau malam ini tidak pulang. Membludaknya pasien membuat direktur meminta bantuan tambahan pada beberapa dokter umum yang ada di GB Hospital, termasuk Dewa.


Dwyne mengetik banyak kata, gerakan ibu jarinya sangat kuat menekan huruf pada layar datar berukuran 8 inch. Kedua bahunya ikut terguncang menyalurkan rasa kesal, banyak pertanyaan Dwyne tulis pada aplikasi chat.


Tapi akal sehatnya masih berfungsi baik, dihapusnya chat panjang lebar yang susah payah di tulisnya. Dwyne tidak mau Dewa menerima amarahnya lagi. Menarik napas pelan dan menghembuskan, wanita arogan ini kembali menekan huruf demi huruf namun sedikit lebih tenang dan terjeda memikirkan kata apa yang pas untuk disampaikan.


“Dewa, jaga kesehatanmu, aku dan Denver menunggu di rumah, Denver mencintai papa”


“Dewa, meskipun kamu berubah, aku akan bertahan sepanjang pernikahan kita. Aku tidak akan pernah melepasmu Dewa, tidak akan pernah”, lirih Dwyne dalam hati, begitu kuat dan teguh.


“Aku tak mau kita berpisah hanya karena kesalahpahaman”, Dwyne memandang foto pernikahannya. Ia benar-benar tersiksa dengan perubahan sikap Dewa yang selalu mengabaikannya.


**


GB Hospital


Dewa mengabaikan suara dan getaran pada ponselnya, lagipula yakin hanya pesan. Karena saat ini tidak memungkinkan untuknya membuka dan bermain gawai. Banyak pasien lebih memerlukan tenaga dan bantuannya.

__ADS_1


“Dokter, pasien nomor 15 tubuhnya demam”, seorang perawat tergesa-gesa menghampiri Dewa sembari membawa catatan medis.


“Baik, ayo”, langkah kaki mengayun cepat dari satu titik ke titik lainnya. Adanya kecelakaan beruntun pun menjadi salah satu penyebab sibuknya tim medis IGD. Dewa dan Dokter Cakra saling membantu sampai waktu untuk duduk sejenak saja tidak ada.


Sampai pukul 1 malam kondisi stabil dan lenggang bisa di rasakan semua, “Huh”, helaan napas Dewa duduk di kursi besi kecil dalam bilik istirahat khusus dokter. Dewa memeriksa ponselnya dan satu pesan dari Dwyne berhasil memberi suntikan semangat baru untuknya. Tetapi ada satu kalimat yang kurang, “Jadi hanya Denver yang mencintai papa?”, tersenyum kecut, tentu Dewa sangat berharap kalimat itu bertambah satu nama yaitu ‘Dwyne’.


“Tidak apa kalau hanya Denver, tapi yang pasti papa mencintai Denver dan Mama”, Dewa mengulas senyum. Cukup tahu Dewa, bagi Dwyne dirinya tidak berarti. Dewa tak akan ingkar pada janjinya untuk selalu mencintai wanita miliknya itu, sebuah kesetiaan menjadi pegangannya, ya hanya Dwyne tak akan ada yang lain dalam ikatan pernikahan ini.


Jemari Dewa gatal, ia pun membalas pesan itu “Terima kasih Denver, papa mencintaimu juga”, Dewa dan Dwyne memiliki sifat yang sama, selalu terbelenggu dalam pikiran masing-masing hingga menimbulkan suatu prasangka pada pasangan.


.


.


**


“Padahal papa kangen sama Denver”, ungkap Dewa kecewa, membelokkan mobil pada pagar hitam yang perlahan terbuka.


Turun dari mobil pergerakan kakinya terhenti dan menyandar pada badan kuda besi. Seketika petugas keamanan yang melihatnya membantu Dewa masuk ke dalam.


“Eh, menantu mama kamu sakit?”, Mama Nayla terkejut pada kondisi pucat wajah menantunya.


“Hanya perlu istirahat aja mah”, jawab Dewa santai dan tegas tak ingin mama mertuanya turut cemas.


“Sampai disini aja pak, terima kasih”, Dewa duduk di ruang keluarga, menumpu seluruh tubuhnya pada sofa empuk. Memijat pelipis yang terasa pening, juga bagian tubuhnya yang terasa pegal.


Dwyne baru saja turun dari dari lantai 2, menggendong Denver untuk santai di taman belakang. Bola mata coklatnya menangkap pria yang ia rindukan sejak semalam penuh sampai tidurnya tidak nyenyak. “Dewa”, panggil Dwyne. “Kapan pulang?”.

__ADS_1


“Oh Dwyne, baru saja. Pagi putra tampan papa, apa kabar hari ini. Maaf papa tidak bisa gendong”, raut wajah sedih Dewa pancarkan. “Sedikit menjauh Dwyne, aku flu. Khawatir Denver tertular”, pungkasnya.


Dwyne menyadari saat ini Dewa sangat membutuhkannya, ia menitipkan Denver pada pengasuh dan juga Mama Nayla. “Mah, Mbak, aku titip Denver. Dewa lagi sakit”, alasan Dwyne.


Tak membuang banyak waktu Dwyne mengulurkan tangan pada suaminya, menawarkan bantuan untuk memegangi sampai masuk kamar. “Kenapa kamu diam?”, tanya Dwyne karena Dewa hanya menatap kosong pada punggung tangan di sisi wajahnya. “Ayo ke kamar, lebih baik istirahat di kamar. Biar aku bantu”.


“Aku masih bisa berjalan sendiri, terima kasih atas bantuannya”, Dewa berdiri dan berjalan menuju kamar, Dwyne masih setia mengekori suaminya.


Suara pintu kamar yang tertutup membuat Dewa menoleh pada istrinya yang berjalan santai. Tidak banyak basa-basi Dwyne membuka kancing kemeja suaminya sampai terlepas sempurna dan sabuk yang mengikat pada pinggang Dewa.


“Sebaiknya kamu mandi dulu Dewa, aku siapkan air hangatnya”, Dwyne tak canggung membawa kemeja kotor ditangan. Dewa menikmati saja perhatian dari wanita yang dicintainya.


Berselang beberapa menit, kepala Dwyne menyembul dari balik pintu kamar mandi, “Dewa, air hangatnya siap, kamu bisa kan berjalan kesini sendiri?”, tanya Dwyne yang menahan gugup, apalagi otot di perut dan dada suaminya sungguh menggoda.


“Ya tentu, terima kasih Dwyne”, sementara Dewa masuk dan Dwyne keluar menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya ini.


Oh benar-benar godaan bagi Dewa, saat berpapasan dengan Dwyne. Bibir pink kenyalnya begitu merayu ingin di kecup tapi sayang ia sedang flu, wajah Dewa hanya masam dan melepas khayalannya.


Dwyne mondar-mandir di kamar, ia gugup sekaligus bingung apa yang akan dilakukan selanjutnya. Tidak mudah mengendalikan diri ketika bersama Dewa, getaran di dada tidak bisa membuat Dwyne berpikir jernih.


“Eh”, pekiknya terkejut Dewa tiba-tiba keluar kamar mandi.


“Baju gantinya telah aku siapkan”, Dwyne bicara tanpa melihat wajah pria yang menatap sayu padanya.


“Terima kasih”, lagi hanya kata itu yang lolos dari bibir Dewa.  


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2