Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 57 - Datang


__ADS_3

BAB 57


Mr Lee mengambil benda dari dalam tas dan memasangnya tepat di depan tempat tidur. Pria itu akan merekam kegiatan panasnya dengan putri Bradley, karena jika tanpa bukti pasti Dwyne dengan mudah lepas darinya.


“Ceraikan suami tidak bergunamu itu dan menikahlah denganku”, katanya sembari duduk melihat pada Dwyne. Setiap erangan dan rintihan Dwyne begitu dinikmatinya. “Aku menyesal kita terlambat bertemu, sayang”, Ia mulai membuka celana panjang serta sepatu pantofel mahal miliknya yang di lempar sembarangan.


Mengukung tubuh Dwyne, “Kita nikmati malam ini bersama, kau pasti akan puas”, melihat wajah cantik yang memerah serta peluh memenuhi dahi. Deru napas Dwyne terdengar menggoda di telinga pria jahat itu, apalagi telah kehilangan kesadarannya dan semakin bergerak liar di atas ranjang.


“Kau salah karena menolakku Dwyne, aku tidak pernah mendapat penolakan”,  Ia menyalahkan Dwyne yang menolaknya. Tentu saja mana mungkin Dwyne mau menjalin hubungan dengan pria beristri.


Mr Lee mulai mengecupi jemari tangan Dwyne, membuat suasana semakin panas dalam tubuh wanita yang tidak berdaya ini. ”Aaah”, racau Dwyne sangat ingin gairah yang menjalar terpuaskan.


“Kita mulai, sayang”, tepat saat Mr Lee akan membuka dress yang melekat pada tubuh Dwyne, Dewa datang ditemani Papa Rayden membuka pintu dengan kasar.


BRAK


“DWYNE?”, Dewa terkejut memandang tubuh Dwyne gelisah di atas ranjang. Ia langsung hilang kendali, memukul Mr Lee hingga tak bisa berkutik, beberapa luka memenuhi wajah. Dewa sangat ingin membuat pria di depannya habis malam ini juga, tetapi Papa Rayden sigap menahan kedua tangan Dewa. Papa Rayden tidak mau menantunya sampai membunuh orang seperti Mr Lee hanya akan merepotkan dikemudian hari.


“Bawa istrimu keluar dari sini Dewa”, ucap Papa Ray.


“Dwyne sayang, sadarlah”, Dewa menepuk kedua pipi istrinya yang hanya menanggapi dengan tertawa. Dwyne di bawa pulang oleh Dewa ke rumah.


Sementara Papa Rayden mengikat Mr Lee dan membawanya agar di proses jalur hukum. “Kau salah berurusan dengan keluargaku, tak akan ku ampuni kau”, desis pria yang juga memimpin tim khusus bersama saudara sepupunya Adam Bradley.


“Berani sekali dia memasang kamera”


.


.


Sepanjang perjalanan Dwyne terus meracau tidak jelas, ”Ah, kenapa berhenti?”, Dwyne menggaruk tengkuknya dan memilin rambutnya. “Kau cepat kesini, aku mau dirimu”, tertawa terbahak-bahak, bahkan belahan d-a-d-anya terlihat jelas oleh Dewa karena Dwyne membukanya sendiri yang terpaksa membuat sang suami harus menahan diri. Dwyne pun tidak bisa diam terus mencolek pipi, hidung, memainkan telinga Dewa.


“Wajahmu mirip dengan suamiku”, Dwyne tersenyum lalu tertawa, “Ya, suami menyebalkan itu yang membuatku cembru karena pergi bersama perempuan sialan, hey kau tahu namanya?, sini aku beri tahu dia adalah Dayana”, ucap Dwyne.

__ADS_1


“Aku tidak suka suamiku dekat dengan wanita lain”, suara Dwye berubah sedih.


“Dwyne”, gumam Dewa. Semakin sakit kepala dokter tampan ini menahan sesuatu yang memberontak di bagian bawahnya.


Dewa menggendong tubuh wanitanya memasuki rumah dan kamar mereka, Dwyne masih tidak bisa diam, mengusap lembut dada Dewa dan mend-e-s-ah dengan sendirinya tanpa sentuhan dari Dewa. Mungkin jika ia sama bejatnya dengan Mr Lee, dirinya akan memanfaatkan situasi membuat Dwyne menjadi miliknya namun Dewa tak mau melakukan itu semua tanpa kesadaran penuh sang istri.


“Tunggulah di sini sebentar”


Dewa yang seorang dokter segera menangani Dwyne yang dibawah pengaruh obat perangsang dan mabuk. Merendam tubuh Dwyne untuk menghilangkan efek panas yang menjalar.


“Ah dingin, kau paling pandai menyenangkan aku”, goda Dwyne.


Selesai berendam Dewa segera  memberinya obat pereda nyeri. Memaksa wanita ini meminum obat tersebut, karena beberapa kali Dwyne membuangnya, Dewa pun dibuat lelah oleh kelakuan liar istrinya malam ini.


Dewa meminta bantuan dua orang asisten rumah untuk membantu istrinya  berpakaian, “Kenapa bukan tuan yang membantu nona?”


“Aku tidak bisa”, jawab Dewa menunggu di depan pintu kamar.


Mereka dibuat terheran-heran karena suami nona mudanya enggan menyentuh istrinya sendiri.


“Terima kasih atas bantuannya”, Dewa kembali memasuki kamar, memeriksa keadaan Dwyne yang masih berada di bawah pengaruh obat.


“Hi, tampan”, panggil Dwyne langsung memagut bibir Dewa tidak sabaran, memeluk suaminya erat, juga membuka kancing kemeja sang suami.


“Hentikan Dwyne”, suara serak Dewa menahan gairah. “Aku tidak boleh terbawa suasana”.


Tentu saja Dewa tergoda tapi kesadaranya kembali pulih mengingat istrinya ini dalam pengaruh obat.


Dewa menggiring Dwyne agar berbaring dan segera tidur, “Tidurlah Dwyne, aku yakin kamu akan baik-baik saja”, Dewa memeluk erat Dwyne yang selalu mengerang.


Beberapa jam berlalu akhirnya efek obat itu menghilang, kini istri dari Dewa Bagas Darka dapat tidur nyenyak menyusupkan kepala di dada bidang sang suami yang memberinya rasa nyaman.


“Jangan seperti ini lagi membuatku khawatir, Dwyne aku mencintaimu, maaf aku belum menjadi suami yang kamu impikan”, Dewa membelai rambut panjang coklat yang menempel pada bantal.

__ADS_1


.


.


Pagi hari Dwyne yang berada dalam pelukan Dewa tidak ingin waktu cepat berlalu. “Dewa”, lirihnya sesaat membuka kedua mata, merasa pusing pada bagian kepala belakang juga tubuhnya remuk seperti membawa beban berat.


“Kamu sudah bangun?”, Dewa melepas pelukannya dan berdiri memasuki kamar mandi. Dwyne setia menunggu pintu itu terbuka lebar.


“Dewa, tunggu”, ia menjelaskan pada Dewa jika kejadian kemarin murni kecelakaan dan dia tidak tahu Mr Lee menjebaknya.


“Ya aku tahu, kamu tidak mungkin memberikan pria lain celah menyentuhmu kan?, sudahlah aku ingin kamu melupakan kejadian kemarin, dan kabari aku kemanapun kamu pergi. Kemarin D memberitahu keberadaan kalian”.


“Asisten D bagaimana keadaanya?”.


“Dia di rawat dan sudah membaik, asistenmu itu pingsan di toilet karena mual dan muntah hebat”


“Aku mau menjenguknya Dewa, bisa mengantarkan aku ke rumah sakit?”, Dewa dan Dwyne menjenguk Asisten D yang di rawat karena keracunan makanan.


.


.


Beberapa hari berlalu, Dewa selalu setia mengantar istrinya ke kantor polisi guna memberi keterangan tentang kejadian yang menimpanya. Namun sikap Dewa masih saja dingin. Terlalu acuh bagi suami menurut Dwyne. Dia yakin sikap Dewa berubah karena dirinya tidak suci lagi, Dwyne hanya bisa menangis sembari memeluk lututnya yang tertekuk, ia jijik pada drinya karena di sentuh oleh Mr Lee.


“Apa aku harus pergi dari kota ini?, terlalu buruk mengenangnya”, gumam Dwyne.


Baru saja tiba di rumah, Dewa tidak tega melihat istri cantiknya bersedih, dia pun melupakan rasa lelahnya yang baru selesai praktik. Dewa menemani Dwyne di kamar. Tanpa di sangka wanita ini memeluk erat tubuh Dewa dari belakang menumpahkan segala amarah juga kecewa. Menangis membasahi jaket tebal milik Dewa.


“Maafkan aku Dewa”, cicit Dwyne masih menangis ia menyesal karena sikapnya terlalu arogan pada Dewa, khawatir suaminya ini pergi meninggalkannya.


...TBC...


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2