Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 84 - Berlebihan


__ADS_3

BAB 84


Dewa cemas meninggalkan istrinya di rumah, setelah mendengar penuturan Papa Rayden jika Dwyne harus hadir di persidangan mendatang membuat suasana hati wanita hamil itu berubah. Hanya ada ketegangan dan marah dalam tatapan mata Dwyne.


Dewa mengetuk meja kerja dengan perasaan gamang, beberapa kali menghubungi Dwyne tak juga menerima jawaban, apa iya dirinya harus nekat pulang ke rumah hanya untuk memastikan sang istri dalam keadaan baik-baik saja.


“Dwyne, ayolah sayang, terima”, gumam Dewa tak tenang.


Dewa tidak tahu harus menghubungi siapa, Dariel dan Papa Rayden berada di luar rumah, sementara Denna ponselnya tidak aktif. Dewa tidak memiliki nomor ponsel mama mertuanya.


“Aku bisa gila kalau terus seperti ini”, masih tetap mengetuk meja bahkan lebih keras.


“Ah ya telepon rumah”


Tidak sampai 1 menit seorang asisten rumah tangga menerima sambungan teleponnya, Dewa dibuat cemas mendengar penuturan yang di sampaikan. Degan cepat ia menyambar kunci mobil dan pulang ke rumah, untung saja jam praktiknya telah selesai jadi tidak membuat pasien menunggu lama.


“Bro, mau kemana?”, tanya Cakra yang melihat Dewa berjalan cepat.


“Pulang”, jawab Dewa tak menghentikan langkahnya.


“Heh, kau gila. Ini masih jam kerja? Memang enak jadi menantu pemilik rumah sakit”, ucap Cakra menggelengkan kepala melihat Dewa.


Mobil yang dikendarai Dewa melaju cukup cepat, kalimat yang ia dengar terus terngiang di kepalanya.


“Nona mengurung diri di kamar, tuan. Saya tidak berani masuk karena nona berpesan tidak ingin diganggu”


“Hah, kenapa pria itu terus mengganggu istriku meski sudah di dalam penjara”, Dewa memukul setir mobil.


Karena siang hari, jalanan cukup kosong. Jarak tempuh pun hanya membutuhkan waktu 15 menit. Dewa memarkirkan mobilnya asal, beruntung area parkir ini sangat luas hingga ia bisa leluasa menyimpan mobilnya.


“Eh, Dewa kamu sudah pulang?”


“Dwyne, dimana mah?”


“Di kamar, dia bilang mau istirahat dan tak ingin diganggu. Apa ada masalah?”, tanya Mama Nayla.

__ADS_1


“Oh tidak ada mah”


Dewa berlalu dari hadapan mama mertuanya dan berlari menaiki anak tangga, mengetuk pintu “Dwyne sayang, aku masuk ya”, ucap Dewa.


Dewa sedikit bernapas lega karena pintu tidak terkunci, “Syukurlah”, gumam Dewa.


“Dewa?”, panggil Dwyne yang sedang menyandarkan tubuh pada ranjang.


“Dwyne, kamu tidak apa-apa kan sayang?”, Dewa memperhatikan tubuh istrinya lekat-lekat.


“Aku baik-baik saja, ada apa?”


Dewa mengulas senyum, memeluk wanita erat. “Aku hanya takut pembicaraan kita tadi pagi membuat beban untukmu”, membelai rambut coklat sang istri.


“Oh aku harus datang ke persidangan? Kamu tenang saja Dewa, itu masalah mudah aku hanya diminta bersaksi. Tidak perlu khawatir. Jadi kamu pulang hanya untuk?”, Dwyne menyipitkan matanya.


“Ya, hanya untuk melihat apakah istriku baik-baik saja atau tidak”


Dwyne tersipu malu mendengarnya, sebegitu khawatirnya Dewa sampai harus pulang di saat kerja.


“Kamu sudah makan?”, tanya Dewa lagi.


“Ummm, belum”, Dwyne menunjukan deretan gigi putihnya.


“Huh, sayang. Kenapa?”, Dewa menghela napas kasar, karena begitu sulit istrinya ini mematuhi jadwal makan yang telah Dewa siapkan dan menu khusus bagi ibu hamil.


“Aku masih kenyang Dewa, kenapa harus makan terus kalau perutku masih kenyang”, oceh Dwyne kembali duduk di atas ranjang dan membaca buku bisnis.


“Sayang, aku tidak mau kamu sakit lagi. Ini juga demi anak-anak kita”, ucap Dewa penuh kesabaran, karena jika tidak pasti Dwyne marah dan keduanya berakhir bertengkar.


“Baiklah, tapi aku mau makan mie”


“Huh, kenapa harus mie?”


“Karena aku ingin”

__ADS_1


“Ok, tapi sekali ini aku izinkan besok tidak boleh lagi”, tegas Dewa.


“Lebih baik jawab saja iya, supaya dapat izin. Masalah besok diizinkan makan mie atau tidak bisa diatur”, batin Dwyne.


“Siap Pak Dokter, hari ini aku ingin mie instan”


**


Di sisi lain Dayana sedang diam melihat pemandangan yang menuju area parkir mobil, ia masih berharap bisa melihat Dewa dari jauh. Cukuplah dari kejauhan, menghapus perasaan pun tidak semudah yang dibayangkan.


“Dayana, kamu lihat apa sih?”, tanya rekan satu kelasnya.


“Oh tidak ada, bukan”, Dayana kembali fokus pada buku tebal di atas meja.


Ia lebih senang duduk di dekat jendela karena bisa melihat pemandangan luar apa lagi jika ia melihat kedatangan Dokter Dewa, seperti mendapat semangat. Dayana yang lemas tak bertenaga langsung tersenyum manis dan berenergi hanya dengan menikmati wajah suami adik sepupunya dari jauh.


“Maafkan aku Dwyne”, lirih Dayana dalam hati. Namun ia telah berjanji dan bertekad tak akan lagi berusaha merebut suami adiknya itu.


Dayana yang biasanya sering mencari Dewa di Universitas kini hanya menunggunya di balik jendela ruang kelas.


Beberapa pria yang mendekati pun tidak membuatnya tertarik, rekan sesama calon dokter atau berbeda fakultas, bagi Dayana belum ada yang bisa menggantikan Dewa di hatinya.


“Dayana, ini kamu dapat bunga lagi”, ucap teman Dayana.


“Oh ya terima kasih”, Dayana tersenyum hambar.


“Bunga lagi?”, batinnya.


“Kamu beruntung Dayana, tapi dari sekian banyak yang mendekati siapa yang kamu pilih?”


“Tidak tahu, aku mau fokus lulus lebih dulu. Belum memikirkan hal itu”, jawab Dayana yang sedang patah hati.


Bahkan Dayana pun memiliki suatu rencana yang belum ia sampaikan pada keluarganya, berharap Bunda Nayra dan Oma Nilla menyetujui keputusannya ini.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2