
BAB 7
Dewa menuruni anak tangga satu per satu mencari keberadaan istrinya, sampai Dewa menangkap cahaya terang dari arah dapur. Ia pun berharap istrinya ada ruangan itu, langkah kaki Dewa terhenti karena tertegun menatap istrinya sedang asyik menyantap asinan yang ia bawa, terdengar suara renyah buah dari mulut Dwyne, dan senyum tipis menghiasi wajah cantiknya.
Tanpa sadar Dewa pun tersenyum, ia menahan dirinya agar tidak masuk semakin dalam ke dapur. Membiarkan wanitanya menghabiskan lebih dulu makanan dalam mangkuk, barulah Dewa menghampiri Dwyne.
“Ehem”, Dewa berdeham.
“Uhuk uhuk”, Dwyne tersedak ketika menikmati satu sendok terakhir kuah asinan dalam mangkuknya. Sigap Dewa mengambil air hangat untuk istrinya dan membantu menepuk pelan punggung Dwyne. “Kau itu seperti hantu”, oceh Dwyne yang merasa terkejut. Untung saja asinan yang ia makan telah ludes, kalau tidak pasti akan sangat malu pada suaminya ini bagaimana ia menolaknya mentah-mentah, tapi Dewa benar-benar menyimpannya di kulkas dan ternyata masih ada beberapa bungkus lagi di dalamnya.
“Apa yang kamu makan malam-malam begini”, tanya Dewa pura-pura tidak tahu.
“Sup”, jawab Dwyne asal lalu beranjak meninggalkan suaminya yang tertawa pelan di belakangnya.
“Dwyne kamu itu sangat manis”, gumam Dewa meminum air hangat dari gelas yang sama digunakan oleh istrinya.
Sementara dalam kamar Dwyne menghirup oksigen sebanyak-banyak, menghilangkan rasa gugup dalam dada, bagaimana tidak, jika Dewa tahu ia sudah menghabiskan satu mangkuk asinan pasti pria itu menjadi lebih percaya diri untuk mendekatinya.
“Untung asinan sudah habis”, Dwyne mengusap dadanya sembari duduk bersandar pada headboard.
Klek
Dewa masuk membawa satu gelas air hangat, lalu menatap pada istrinya di atas ranjang dengan senyum. “Kamu mau minum?”.
“TIDAK”, seru Dwyne menarik kembali selimutnya dan merebahkan diri. Ia yang ingat sesuatu langsung merubah posisinya. “Kau tidur dimana?”, tanya Dwyne tanpa menatap suaminya yang kini memegang ponsel.
“Sofa”, jawab Dewa singkat, melihat ekspresi Dwyne yang kesal ia berniat menggodanya sedikit saja, “Apa kamu ingin aku tidur disana?”, tunjuk Dewa pada ranjang besar berseprai hijau itu.
“APA?, kasur itu terlalu mahal untukmu”, Dwyne membaringkan tubuhnya.
Lagi-lagi istrinya membandingkan strata sosial mereka, ya Dewa tahu ia belum bisa memberikan Dwyne sesuatu yang mahal. Bahkan penghasilan bulanannya pun dianggap receh oleh perempuan bermulut pedas ini.
Selesai dengan memeriksa smartphone, Dewa merebahkan tubuhnya karena esok aktifitas padatnya harus dimulai sejak pagi. Dokter tampan pun terlelap damai di atas sofa bed dengan menyilangkan tangan di atas dada bidangnya.
__ADS_1
.
.
Seperti biasa tiap hari Dewa menyempatkan dirinya berolahraga di pagi hari sebelum melakukan kegiatan apapun, area taman rumah ini sangat luas dijadikan track joging, Dewa ditemani Dariel dan Papa Rayden lari pagi, tentu mama mertuanya pun ikut dan sesekali mendapat ciuman mesra di pelipisnya. Benar-benar membuat seorang Dewa iri pada pasangan paruh baya di depannya.
Dariel yang sudah biasa menyaksikan kemesraan itu hanya cuek saja melanjutkan lari paginya, ia berprinsip ingin mencari istri seperti mamanya, ceria, manis dan lembut serta pemberani tidak mudah ditindas. Itu kriteria istri yang diinginkan kembaran Dwyne Bradley.
Satu jam kemudian Dewa menyudahi olahraganya dan masuk kamar, betapa terkejutnya Dewa mendapati Dwyne hanya menggunakan pakaian dalam , kedua kelopak matanya enggan berkedip menatap pemandangan indah tersaji di depannya.
“AAAH”, pekik Dwyne, menarik selimut menutupi tubuhnya, “Kau ini masuk kamar tanpa permisi”, sentak Dwyne.
“Maaf Dwyne, aku mandi dulu”, Dewa berlalu cepat sebelum ia hilang kendali atas dirinya yang begitu menginginkan istrinya.
“Dasar mesum”, umpat Dwyne, “Pria tidak tahu diri”, lanjutnya sebelum masuk walk in closet.
Selesai berpakaian Dwyne turun lebih dulu untuk sarapan, sampai di meja makan seperti biasa Dariel sudah menunggu semua anggota keluarga sembari mendengarkan musik. “Dimana kakak ipar?”, tanyanya.
“Dwyne, sebagai seorang adik dan pria aku ingin bertanya sesuatu. Apa kalian sudah melakukannya?”, Dariel memelankan suaranya sedikit berbisik.
“Maksudmu?”
“Ah kamu ini polos atau pura-pura?, begini apa kamu masih perawan?”, tanya Dariel begitu ekstrem, sontak Dwyne berdiri dan memukuli adiknya yang selalu memiliki pola pemikiran berlebihan. “Aw, aw sakit Dwyne, aku kan cuma tanya kenapa harus dipukul begini”, Dariel menghalangi wajah tampannya supaya tidak terkena cakaran kuku saudarinya.
Mama Nayla dan Papa Rayden hanya menggelengkan kepala pelan melihat kedua anaknya bertengkar, meski telah menikah Dwyne belum merubah sikapnya. “Kalian ini benar-benar ya, kamu Dariel selalu mengganggu kakakmu, dan kamu Dwyne memangnya tidak malu pada Dewa”, Mama Nayla menoleh ke arah menantunya yang diam di ambang pintu.
“Sakit ma”, ucap Dwyne dan Dariel akibat kupingnya terasa panas mendapat jeweran dari mamanya.
“Aku tidak salah ma, aku hanya tanya apakah Dwyne.....”, seketika Dwyne membekap mulut adik laki-lakinya dengan tangan.
“Ingat Dariel kita masih memiliki satu adik perempuan yang harus dijaga”, bisik Dwyne.
Semua duduk di kursinya masing-masing, Dewa yang sedari tadi diam pun ikut mendudukkan bokongnya di kursi. Menatap takjub pada sajian makanan sarapan di atas meja makan, padahal keluarga sang istri keturunan Eropa namun semua menu merupakan masakan khas Indonesia.
__ADS_1
“Jangan heran Dewa, ini tradisi yang turun temurun dari Opa Gerry”, jelas Mama Nayla.
“I iya ma”.
“Dewa, setelah sarapan ikut papa ke ruang kerja”, ucap Rayden ingin membicarakan beberapa poin serius dengan menantunya itu.
Nayla melayani suaminya mengambil makanan dan mengisi piring Rayden, sementara Dwyne mengambil makanan untuk dirinya sendiri, “Sayang, layani Dewa”, ucap Mama Nayla.
Dwyne menghela napas kasar lalu menuruti perintah mamanya, “Apa segini cukup?, mau makan dengan apa?”, ekspresi wajah Dwyne tetap datar.
“Cukup, itu saja”, tunjuk Dewa pada opor ayam yang tersaji lezat.
“Ini”, Dwyne menyimpan piring suaminya dan tanpa sengaja menyentuh tangan Dewa, sontak Dwyne langsung menarik jauh tangannya.
Dariel yang menyaksikan itu hanya tertawa dalam hati, “Ma, aku siapa yang layani?”.
“Sendiri”, jawab Mama Nayla dan Papa Rayden membuat Dariel bergeming begitu saja, tidak lupa mendapat juluran lidah dari sadari kembarnya.
Usai sarapan, Dewa mengekor papa mertuanya masuk ruang kerja sebelumnya meminta Dwyne menunggunya karena ia ingin mengantar istrinya itu berkerja.
“Dewa, apa kau nyaman tinggal di sini?, jujur nak”
“Nyaman pa”, Dewa memiliki pikiran jika ia harus keluar dari rumah mewah ini, tak mengapa hanya saja apa Dwyne akan ikut juga dengannya.
“Begini Dewa, papa dan mama ingin kalian hidup mandiri berdua”
“Benar dugaanku”, batin Dewa.
“Papa sudah membeli rumah yang jaraknya tidak jauh dari sini, rumah itu masih renovasi, tinggallah berdua dengan istrimu disana. Ah ya dan ini untuk mu”, Papa Rayden memberikan kunci mobil pada menantunya.
Apa Dewa merasa senang atas pemberian mertuanya?, tentu tidak sebagai seorang pria beristri ia merasa tidak mampu memberikan Dwyne fasilitas mewah seperti kedua orang tuanya.
Tbc
__ADS_1