Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 92 - Selamat Jalan


__ADS_3

BAB 92


Dwyne masih berada di bawah pengaruh obat, Samantha memberinya obat penurun tekanan darah, hingga proses penutupan luka sayatan pisau bedah selesai.  Untuk mempercepat pemulihan, Samantha memberi Dwyne obat penenang dengan dosis yang sedikit.


“Sayang”, air mata Dewa menetes melihat istrinya memejamkan mata secara perlahan.


“Dokter Dewa”, panggil Dokter Spesialis Anak.


“Bayi pertama kalian harus masuk NICU, dalam tubuhnya pun terlalu banyak cairan”


Dewa mengangguk pasrah, air mata sudah menganak sungai di wajahnya. ”Terima kasih atas bantuannya dokter”, isak tangis Dewa.


Dokter tampan ini keluar dari ruangan operasi, wajahnya lesu dan merah karena menangis.


Pintu terbuka menampakkan seluruh anggota keluarga Bradley dengan formasi lengkap hadir di ruang tunggu serta keluarga Armend pun datang.


“Dewa, bagaimana keadaaan Dwyne dan cucu mama?”, tanya Mama Nayla, kedua mata sipitnya membengkak akibat menangis.


“Dwyne baik-baik saja mah, jagoanku........ mereka”, Dewa tak kuasa menahan tangisnya, ia pun luruh di atas lantai rumah sakit.


“Kakak ipar”, pekik Dariel


“Dewa, katakan apa yang terjadi, cucu mama baik-baik saja kan?”


Dewa mulai menceritakan apa yang terjadi di dalam ruang operasi, kedua matanya terpejam mengingat jagoan kecil keduanya harus pergi selama-lamanya sebelum dilahirkan.


Berat badan yang tidak sesuai serta kondisi paru-paru dan jantungnya tidak berfungsi dengan baik, beragam upaya telah dilakukan oleh tim dokter namun tetap tidak membuahkan hasil.


“Dwyne belum mengetahuinya mah, karena tiba-tiba tekanan darahnya meningkat drastis”, lirih Dewa.


Pintu ruangan kembali terbuka, spesialis anak dan dua orang perawat membawa putra Dewa dan Dwyne ke NICU. “Kuat jagoan kecil papa”, Dewa menatap nanar pada salah satu anaknya yang lahir selamat.


“Kakak ipar harus kuat karena Dwyne pasti sangat terpukul”, Dariel berdiri di sisi Dewa.


.


.


Malam hari di ruang rawat khusus petinggi rumah sakit, Dwyne mulai membuka kedua matanya. Mencari sosok suami tercinta namun tidak ada, hanya Mama Nayla, Oma Nilla, dan Tante Kezia menemaninya.

__ADS_1


“Mah, dimana Dewa?”, lirih Dwyne.


“Ummmm, Dewa ada keperluan bersama papa dan Dariel”, jawab Mama Nyala yang bingung harus mengatakan apa, karena Dewa sejak sore mengurusi pemakaman putranya.


“Dimana anak-anakku mah?”, Dwyne mencoba duduk namun rasa perih di perut sangat mengganggu pergerakannya. “Sssshhh”


“Hati-hati sayang”


“Dimana anak-anakku mah? Apa mereka sehat? seperti apa wajahnya?”, tanya Dwyne beruntun.


Tenggorokan ketiga orang yang menemani Dwyne tercekat, tidak tahu harus menjawab apa dan lebih ditakutkan lagi jika sampai ibu muda ini histeris.


Dewa di dampingi Dariel masuk ruang perawatan, tentu saja dapat ditangkap mudah raut wajahnya tidak senang melainkan sedih.


“Kamu kenapa? Tidak senang aku melahirkan?”, ketus Dwyne.


“Aku bahagia sayang, terima kasih”, mengecup puncak kepala istrinya mendalam dan penuh perasaan.


“Dwyne, aku pernah bilang kalau kita akan menghadapi semuanya berdua dan bersama-sama?”.


“Ya, memang kenapa?”


“Anak pertama kita Arkatama Denver Bradley saat ini menjalani perawatan khusus di ruang NICU, tubuhnya kelebihan cairan sayang”, suara serak Dewa.


“Jagoan kita yang kedua sudah bahagia dan tidak merasakan sakit apapun sayang”, dada Dewa begitu sesak mengatakan kebenaran pada istrinya. Bagaimana pun kondisi Dwyne saat ini belum pulih pasca operasi.


“Maksudmu? Putra ku yang kedua baik-baik saja iya kan?”, Dwyne bukanlah wanita bodoh yang tak mengerti arti kata-kata Dewa, hanya saja ia ingin suaminya ini menjawab hal sesuai keinginannya jika anak mereka selamat dua-duanya.


“Anak kita, dia...... dia, karena berat badannya tidak sesuai dan organ tubuh vitalnya tidak berfungsi , dia meninggal dalam kandungan Dwyne”.


“TIDAK DEWA, kamu bohong, kamu bercanda, jahat sekali”, Dwyne menghempas kasar selimutnya dan turun dari ranjang, ia ingin memastikan apa yang Dewa katakan.


“Sayang, jangan, sayang mau kemana?”.


“Minggir kamu Dewa, aku membenci mu. Jangan berbohong padaku, aku akan memecat mu dari rumah sakit ini mengerti?”, mengabaikan rasa sakit di bagian perut, Dwyne berjalan hendak keluar ruangan.


Tangisnya pun pecah dan memeluk Mama Nayla yang berdiri menghalanginya keluar.


“Mama, anakku ma, kenapa dia pergi sebelum aku menggendongnya, kenapa dia pergi saat aku belum melihat wajahnya, kenapa ma?”, tangis Dwyne, meluapkan emosinya.

__ADS_1


“Sayang, Dwyne. Kamu harus bisa melepas putra kalian pergi”


“Tidak mah, ini semua salah dia”, tunjuk Dwyne pada suaminya yang berdiri lemah. “Kalau saja kamu datang lebih cepat Dewa, pasti kedua putraku bisa lahir selamat, ini semua salahmu Dewa, aku membencimu DEWA BAGAS DARKA, pergilah sekarang juga jangan temui aku lagi”, teriak Dwyne.


“Sayang, jangan seperti ini. Arkatama masih membutuhkan kita, dia sedang berjuang di NICU”, lirih Dewa yang merentangkan tangan ingin memeluk Dwyne, namun lebih dulu di dorong kuat oleh sang istri.


“PERGI SEKARANG JUGA DEWA”, bentak Dwyne.


“Dewa lebih baik kamu keluar dulu, setelah Dwyne membaik barulah coba bicara padanya”, ucap Papa Rayden.


Dwyne masih menangis di pelukan mamanya, selang infus pun berubah warna merah karena gerakan putri Rayden Bradley yang tidak terkontrol ini.


.


.


Keesokan harinya


Dewa tertidur di ruang NICU, semalaman melihat putranya yang bergerak-gerak lucu walaupun tubuhnya dipenuhi alat-alat. Ia merasa bersalah setelah mendengar apa yang Dwyne ucapkan jika semua ini salahnya karena datang terlambat hingga menghambat proses operasi.


Pagi ini sebelum matahari terbit Dewa mengintip ke ruang rawat sang istri, tubuh Dwyne dipeluk oleh Mama Nayla dan Papa Rayden, menurut Dokter Samantha, istri Dewa Bagas Darka itu diberi obat penenang. Sampai dini hari Dwyne masih terus menangis dan ingin keluar dari kamar bahkan berusaha melepas infus yang terpasang.


“Maaf Dwyne, maafkan aku”, lirih Dewa. Ia pun sama terpukulnya dengan sang istri, namun Dewa berusaha tegar, Dwyne dan Arkatama sangat membutuhkannya.


Sedangkan di kamar perawatan Dwyne telah bangun dan bersiap dibantu Mama Nayla, setelah meminta izin dari Samantha untuk keluar mengunjungi makam putranya.


“Tapi ingat pesan mama sayang, jangan siksa dirimu lagi, karena bayi mu satu lagi sangat membutuhkan ibunya”.


“Iya ma”, jawab Dwyne, saat ini dirinya jauh lebih tenang namun tetap tak ingin melihat wajah Dewa.


.


.


Dwyne, Papa Rayden, Mama Nayla, Dariel , beserta keluarga Armend ikut ke makam putra kecil yang mereka nantikan.


Di atas tanah basah dan penuh taburan bunga, Dwyne berlutut menahan tangisnya, ia merasa tidak menjadi ibu yang baik hingga menyebabkan salah satu anak kembarnya tiada.


“Maafkan mama sayang”

__ADS_1


“Mama menyayangimu, walaupun kamu tidak ada di sisi mama tapi keberadaan mu akan selalu mama kenang. Selamat jalan putraku, selamat jalan Aryatama Dafa Bradley, Mama Dwyne menyangimu, selalu”.


...TBC...


__ADS_2