Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 45 - Bertemu Bobby


__ADS_3

BAB 45


Ibu jari Dewa bergerak menuju kontak Dwyne, seakan mengerti dan mengetahui keinginan untuk menghubungi wanitanya. Harapannya dengan kembali cepat ke ibu kota dan pulang ke rumah melihat Dwyne yang menantinya sembari tersenyum namun keinginan Dewa tidak sejalan dengan kenyataan. Menyaksikan jika Dwyne tidak menolak Zayn menyentil hati Dewa, perjuangannya selama 2 bulan ini seolah sirna sudah. Istri yang ia sayangi belum membalas sedikit pun. Dewa akui memang Zayn membantu istrinya yang sakit dan ia pun dipenuhi rasa cemburu.


Memutuskan berangkat lebih awal ke rumah sakit sebelum mendaftarkan diri ke Universitas untuk mengambil pendidikan spesialis. Sesuai saran Papa Rayden yang membujuk Dewa supaya melanjutkan pendidikannya ke jenjang spesialis, karena menurut pihak GB Hospital Dewa sangat bisa diandalkan dan berkompeten apalagi jika telah lulus menjadi dokter spesialis.


Siang ini tepatnya sebelum membuka praktiknya, Dewa akan pergi ke Universitas rujukan Direktur GB Hospital. Ia akan mulai mengganti jadwal praktik di klinik menjadi malam hari usai proses belajar di Universitas selesai.


Dewa tak menghubungi Dwyne di sela jam istirahat karena banyak sekali kegiatan yang harus di kerjakannya. Dewa akan melanjutkan bidang spesialis jantung dan pembuluh darah sesuai hasil tes beberapa hari lalu, dan saran dari direktur rumah sakit.


“Semoga ini menjadi langkah yang tepat”, gumamnya sembari berjalan memasuki gedung Universitas.


Dewa yang fokus menatap ke depan dengan langkah pasti, tiba-tiba ada seorang gadis menabraknya dari arah samping karena tidak memperhatikan jalan.


“Akh, ya ampun maafkan aku ka”, ujarnya sembari sedikit menunduk.


“Dayana?”, panggil Dewa begitu hapal dengan suara kakak sepupu Dwyne.


“Dokter Dewa?, kenapa ada di –?”, satu tangan Dayana menunjuk tempatnya berdiri.


“Ya, aku akan melanjutkan pendidikan di sini”, jawab Dewa datar, “Permisi”.


“Maksudnya? Itu artinya aku bisa bertemu Dewa di rumah sakit dan Universitas”, batin Dayana, bibirnya pun tersenyum bahagia. “Dokter Dewa tunggu”, Dayana menoleh dan mencari pria pujaannya namun sayang tak menemukan pria tampan itu, ia hanya melihat orang lain berlalu lalang. “Eh dimana Dokter Dewa?”, ucapnya lesu. Sungguh ia tak percaya seperti takdir yang berpihak dan memberi angin segar padanya karena selalu mempertemukan Dewa dengannya.


“Maaf Dwyne, perjuanganku belum berakhir”, gumam Dayana lalu berjalan masuk ke ruang dosen yang menjadi pembimbing mahasiswa koas.


**


Sementara di sisi lain, Dwyne pun tampak sibuk dengan peluncuran produk baru di stasiun televisi, memantau langsung proses iklan yang akan dilakukan mulai siang ini. Asisten D setia mengekor bosnya, membawa iPad dan beberapa berkas di tangan.


“Nona, sebaiknya duduk di sana”, ucap asisten berkacamata tebal melihat Dwyne memijat pelan pelipis.


“Nona jika tidak kuat kita ke rumah sakit saja”, saran Asisten D yang ditolak mentah-mentah oleh Dwyne.


“Aku sehat”, tegas Dwyne.

__ADS_1


“Ya ampun nona memang keras kepala”,batin asistennya.


Dwyne ikut mengarahkan gerakan dan mimik wajah bagaimana yang harus dilakukan oleh bintang iklan pilihan perusahaan advertising milik keluarga Armend ini. Mengamati beberapa adegan yang diambil tanpa melewatkan satu detik pun.


“Dwyne?”, panggil seseorang.


“Ya?, hi Bob. Aku pikir kamu sibuk sampai tidak menemui ku di sini”, gurau Dwyne datar pada putra kedua Leo Armend.


“Tentu saja aku sibuk tapi seekor burung mengatakan jika Nona Muda Bradley datang ke perusahaanku hanya untuk mengikuti jalannya proses syuting”, Bobby menyilangkan kedua tangan depan dada.


“Ck, berlebihan”, seru Dwyne pada putra Leo yang memang gemar bercanda.


“Apa istri Pak Dokter sudah makan siang?, sebaiknya setelah ini kita makan siang, aku traktir”, Bobby menaikan dagu, tetap menyilangkan tangan dan sedikit bersandar pada Dwyne.


“Makan?”, batinnya lalu mengingat sesuatu dan memeriksa ponselnya, tidak ada satu pesan pun dari Dewa yang mengajaknya untuk makan siang atau kabar jika suaminya itu menuju  klinik. “Aneh sekali, tumben”, lanjutnya dalam hati.


“Hey, melamun”, senggeol Bobby. “Tenang saja suami mu tidak akan cemburu padaku”.


Dwyne mendelik kesal mendengar kata jika Dewa tak akan cemburu, sungguh kata-kata itu tak ingin di dengarnya. Dwyne sangat ingin jika Dewa cemburu karena ia dekat pria lain.


“Ish, tapi kau yang traktir dan jangan lama-lama aku tidak mau mendapat teror dari para kekasihmu”, cibir Dwyne.


.


 


.


Bobby dan Dwyne tiba di cafe R and B dan menikmati santap siang yang terlambat bagi keduanya, terlihat oleh putra kedua Leo jika Dwyne hanya mengaduk makanan dan tidak berselera makan.


“Hey, kamu itu kenapa?, apa makanannya tidak enak?, aku akan bicara pada Dariel untuk memperhatikan para koki di sini”, ucap Bobby seolah serius padahal bercanda.


Bagaimana Dwyne bisa makan lahap kalau tidak mendapat setitik kabar dari suaminya, pagi hari Dewa pergi lebih dulu tanpa pamit dan pesan. Siang pun tidak ada panggilan video mengajaknya makan siang seperti sebelumnya. Sampai pukul 4 sore tak ada jejak sang suami menghubunginya.


"Argh kenapa harus memikirkan Dewa”, kesal Dwyne dalam hati dan menusuk kuat steak di piring.

__ADS_1


“WOW, ada apa denganmu Dwyne?, apa ini masalah  rumah tangga?, oh ayolah kalian baru menikah kurang dari 3 bulan sudah memiliki masalah. Ini sebabnya aku tidak mau menikah muda dan lebih baik bersenang-senang sekarang dari pada harus bertengkar dengan istri”, Bobby mengoceh tidak jelas, ingin sekali Dwyne lakban bibir pria satu ini.


“Kamu tahu Dwyne, kalau menikah kita terikat pada suatu hubungan dan tentu harus berkomitmen sedangkan selama ini jika para kekasihku marah hah aku hanya perlu meninggalkan mereka, mudah bukan?”, sombong Bobby seketika mendapat tatapan tajam Dwyne.


“Hey,  santai Dwyne. Tentu mereka semua tidak sepertimu, kekasihku itu matrelistis dan.......”, kata-kata Bobby terputus karena Dwyne menyumpalnya dengan potongan daging besar.


“Hahahaha”, tawa Asisten D pecah melihat Bobby kesulitan mengunyah makanan dalam mulut.


**


Sedangkan di Universitas, Dayana bersorak senang karena Dewa bersedia megantarnya pulang ke rumah. Setelah memohon karena beralasan banyak membawa buku serta laporan, khawatir hujan deras. Akhinya Dewa luluh tidak tega pada kakak sepupu sang istri yang juga juniornya.


“Masuklah”, ucap Dewa datar.


“Terima kasih”, Dayana tersipu malu.


Wanita cantik berparas manis itu memasuki mobil dan mulai memasang sabuk pengaman, mengamati interior mobil jauh dari kata mewah.


“Ini mobil siapa Dokter?”, ingin tahu Dayana.


“Aku”, jawab Dewa singkat.


Dayana tersenyum kecut melihat dashboard hitam mobil terdpat frame berbentuk hati dengan gambar Dwyne tersemat di dalamnya.


“Bahkan ketika aku bersama suamimu, kau terus saja mengganggu Dwyne”, batin Dayana kesal memperhatikan foto Dwyne tanpa senyum.


“Sepertinya dokter sangat mencintai Dwyne?”, celetuk Dayana segera menutup mulutnya.


Dewa hanya menoleh sebentar dan kembali fokus mengendarai mobilnya mengantar Dayana pulang ke rumah Oma Nilla.


...TBC...


...****...


...Jangan lupa dukungan untuk othor ya bestie, biar semakin semangat Update...

__ADS_1


...😁😁😍😁😁...


__ADS_2