
BAB 20
Selesai pemutaran film yang berlangsung selama 1 jam 45 menit, Dewa mengajak Dwyne menikmati makan siang yang terlewat di salah satu restoran dalam mall. Keduanya nampak seperti sepasang kekasih karena Dewa selalu menggenggam erat tangan lembut istrinya, tak ia biarkan tautan tangan itu terlepas dengan mudah meskipun Dwyne berusaha melepaskannya.
Hanya saat makan saja dokter tampan itu melepaskan tangan Dwyne, namun sikap perhatiannya masih sangat terasa, Dewa memperlakukan Dwyne sangat baik padahal istrinya ini selalu ketus selama menonton film dan makan siang, tak ada senyum yang terukir di bibir indahnya. Sorot mata tajam pun selalu Dwyne berikan pada suaminya yang menyebalkan itu.
“Aku mau membeli sesuatu”, ucap Dwyne sembari mengangkat dagunya.
“Baiklah”, sahut Dewa.
Dwyne berjalan mendahului Dewa meninggalkan restoran, kedua netranya mencari-cari sesuatu, “Dewa kau itu lama sekali”, mengepalkan tangan karena ia akan membalasnya kini. “Cepat”, ajaknya menaiki lantai 2 di gedung pusat perbelanjaan itu. Mata coklatnya berbinar menemukan apa yang dicari, ia pun masuk salah satu store dan ya seperti biasa pegawai menyambutnya karena tahu siapa wanita yang baru saja memasuki area store ini.
“Ada yang bisa dibantu nona?”
“Aku ingin yang terbaru dan edisi terbatas”, ujarnya datar dan dingin.
Dewa bergidik ngeri melihat jajaran tas di sisi kiri dan kanan serta di depannya, ia pun bertanya pada salah satu pegawai disana, betapa terkejutnya Dewa mendengar harga fantastis hanya untuk satu buah tas. Apalagi permintaan Dwyne ‘terbaru dan edisi terbatas’, Dewa hanya menarik napasnya saja semoga istrinya tidak memanfaatkan situasi.
“Dewa”, panggil Dwyne tepat berdiri di meja kasir menengadahkan tangan pada suaminya, “Bisa kau membayar ini?”, tunjuk Dwyne pada satu buah tas kecil berwarna gold.
“Ya, pakai saja ini”, Dewa mengeluarkan satu kartu debitnya dari dalam dompet. Bahkan ia tidak bertanya berapa harga untuk ukuran tas kecil seperti itu.
“Terima kasih nona", ucap pelayan usai menyelesaikan transaksi.
“Ini”
“Apa?”. Dewa mengerutkan kening.
__ADS_1
“Ck, kau ini bukannya pria cerdas?, tapi tidak mengerti, tentu saja bawakan tas ini”, Dwyne memberikan belanjaan pada Dewa, sedang kartu debit masih melekat erat di jari-jari lentiknya.
“Sepertinya bagus juga”, gumamnya kembali memasuki salah satu store.
Dwyne memilih alas kaki yang akan ia gunakan untuk berkerja, bukan tidak punya atau gemar menghabiskan uang tetapi karena sikap menyebalkan suaminya hari ini ia bertekad akan meminta Dewa membayar semua belanjaannya, supaya dia tahu jika untuk menghidupi dirinya tidak hanya diperlukan perhatian tetapi juga materi yang sepadan seperti apa yang diterimanya selama ini.
“Dwyne”, panggil Dewa karena melihat istrinya itu membeli lebih dari 3 pasang alas kaki.
“Hem?”
“Apa itu tidak terlalu banyak?”, Dewa tak menyangka uangnya akan terkuras hari ini oleh istrinya sendiri.
“Kenapa?, kau keberatan?”, tersenyum sinis. “Kau tidak suka aku memakai uang mu?, ah tenyata suamiku ini tidak sanggup memenuhi kebutuhan istrinya”, lanjut Dwyne dengan nada meledek.
“Aku tidak keberatan karena semua milikku menjadi milikmu juga, hanya saja bukankah kamu sudah memiliki banyak sepatu seperti itu?”
Tak cukup puas menyambangi kedua tempat itu, Dwyne memasuki salah stau butik ternama dan menyuguhkan koleksi pakaian rancangan designer terkenal. Seperti wanita pada umumnya, ia sangat antusias memilah dress dan blouse yang cocok ditubuhnya. “Tidak, tidak bukan yang ini, rasanya kurang pas”, gumamnya.
Sementara Dewa hanya duduk di sofa yang tersedia untuk tamu, memandangi istrinya bergerak lincah ke sana kemari memilah pakaian, ia pun memijat pelipisnya yang terasa sedikit pusing, apalagi pelayan butik dibelakang istrinya membawakan beberapa helai baju branded pilihan.
“Apa kamu ingin mengerjai ku Dwyne?”, batin Dewa lalu menarik napas dan menghembuskan pelan, ternyata kesabarannya harus bertambah berkali-kali lipat. Dewa pun tidak sengaja melihat gaun berwarna merah terpajang cantik, lantas ia meminta bantuan pelayan mengambilnya. Dewa menyambangi istrinya yang berdiri melakukan pembayaran semua pakaian yang diambilnya.
“Ini juga”, ucap Dewa sembari memberikan satu gaun cantik itu pada kasir.
“Ck, untuk siapa? Kekasihmu”, cibir Dwyne pelan yang hanya di dengar oleh suaminya.
“Iya”, jawab Dewa menahan emosi, bisa-bisanya Dwyne berkata jika dirinya membeli gaun cantik itu untuk wanita lain.
__ADS_1
“Nona, maaf kartunya tidak bisa digunakan”, ujar petugas kasir, seketika mengundang senyum jahat di bibir Dwyne karena akhirnya yang ia tunggu tiba juga untuk mempermalukan suaminya ini.
“Begitu ya”, sahut Dwyne.
“Gunakan ini”, Dewa mengeluarkan satu buah kartu dari dalam dompetnya, dan ya transaksi pun berjalan lancar.
Dwyne membuka mulut tidak percaya karena suaminya bisa membayar begitu mudah semua barang yang ia beli hari ini. Bahkan Dewa tak melarang ia memasuki butik, hanya saja pria yang berprofesi dokter mengingatkannya ketika mereka berada di toko sepatu jika Dwyne sudah memiliki banyak heels.
“Dari mana dia punya uang sebanyak itu?”, pikiran Dwyne bertanya-tanya. Apalagi pagi ini keduanya melihat rumah yang cukup mewah sedang renovasi pastilah tanah dan bangunan itu memakan biaya yang sangat banyak. “Apa papa yang memberikan semua ini? Supaya aku merasa terkesan padanya?”, Dwyne semakin berpikir hingga alisnya pun menyatu.
“Ada apa?”
“Tidak ada”, jawabnya yang tersadar dari lamunan.
“Kamu mau membeli sesuatu? Belilah, dan mulai sekarang simpan kedua kartu itu, kamu bebas menggunakannya”, Dewa tersenyum dengan kedua tangan yang dipenuhi barang belanjaan istrinya.
“Ck, kau ingin memberiku semua uangmu?”, cibir Dwyne.
“Tentu, seperti yang aku katakan, setelah kita menikah apapun milikku menjadi milikmu juga Dwyne, istriku”, suara lembut Dewa mengayun indah memasuki telinga wanita yang berdiri angkuh di depannya.
Dwyne bergeming mendengar kata-kata suaminya ini, lubuk hati terdalamnya merasa tersentuh apalagi Dewa sangat memanjakannya hari ini. Entahlah tapi yang pasti Dwyne tetap menaruh curiga jika suaminya bersikap baik karena ingin mengambil simpatinya dan memanfaatkannya saja.
Tbc
__ADS_1