
BAB 85
Hari yang tidak menyenangkan pun tiba, Dwyne dan Dewa pergi ke pengadilan untuk memenuhi persidangan Mr Lee. Tepatnya sidang terakhir yang digelar untuk menentukan berapa lama hukuman yang akan diterima oleh pria itu.
Dwyne menanggapi hari ini dengan tenang, berbeda pada Dewa yang sedikit cemas. Mengingat istrinya ini mudah terbawa emosi dan akan berpengaruh pada kandungannya.
“Dewa, kamu itu kenapa?”, tanya Dwyne melihat suaminya gelisah.
“Entahlah Dwyne, aku.....perasaanku tidak enak”
“Huh, kamu itu berlebihan Dewa”, balas Dwyne. “Ayo masuk”, keduanya datang menyusul, sementara Dariel dan Papa Rayden lebih dulu sampai di ruang sidang.
Dewa dan Dariel dapat merasakan jika tim pengacara pengacara Mr Lee tersenyum licik di depan sana.
“Semoga hari ini berjalan dengan baik”, ucap Dewa pada Dwyne lalu mencium pelipis istrinya itu.
Sidang pun dimulai, mendengar beberapa penuturan yang disampai oleh jaksa penuntut, tim pembela Mr Lee, sampai pada Dwyne diminta memberi keterangan di depan.
“Kamu bisa sayang”, bisik Dewa.
“Tentu saja”, Dwyne menggenggam kuat tangan suaminya.
Dwyne menjelaskan dengan rinci kejadian yang sebenarnya, beberapa kali pertanyaan yang diberikan padanya pun tak mengubah jawaban Dwyne.
Kesaksian serupa juga diberikan Asisten D sebelumnya.
“Berani sekali wanita itu padaku”, kesal Mr Lee di hatinya.
Dwyne menatap tajam pada pria yang pernah menjebaknya itu, sungguh ia tidak menyangka bahwa pertemuan bisnisnya akan berakhir dengan sebuah jebakan picik dari pria hidung belang.
Selesai Dwyne memberikan kesaksian, ia berjalan turun ditemani petugas pengadilan melewati Mr Lee yang duduk mengepal tangannya.
“Aku senang kau datang sayang”, ucap Mr Lee tidak tahu malu, sontak semua yang hadir dalam ruangan teralihkan pada kedua orang itu. “Aku senang mendengar kau hamil anakku, tolong jaga dia baik-baik, Dwyne sayang”, ucap Mr Lee sontak Dwyne berjalan ke arahnya dan ingin melepaskan pukulan tepat di bibir pria bejat itu.
“Nona jangan”, petugas pengadilan menahannya.
“Sialan, berani sekali dia”, geram Dewa bangkit dari tempat duduk, rasanya ingin merobek mulut kotor pria di depan sana. Tak rela apa yang menjadi miliknya diakui oleh orang lain.
Ruang persidangan nyaris ricuh jika saja Dariel tidak menahan kakak iparnya, Dewa sungguh tak menerima kalimat menjijikan yang keluar dari mulut terdakwa p******** di depan ini.
“Lepaskan aku Dariel”, sentak Dewa.
__ADS_1
“Kakak ipar, dia sengaja melakukan ini”, ucap Dariel.
“Anak dalam kandungan Dwyne itu milikku bukan pria bejat itu”, seru Dewa dengan suara tegas.
Dwyne pun mulai berjalan kembali ke tempatnya semula, dibantu 2 orang petugas, karena wanita ini begitu enggan mengalihkan tatapan tajamnya dari Mr Lee.
Hingga persidangan berakhir, pihak Mr Lee masih terus berusaha membebaskan dan meminta keringan hukuman, sampai pada akhirnya hakim memutuskan menjatuhkan hukuman selama 10 tahun penjara untuk pria yang selalu membantah apa yang dilakukannya.
“Semoga dia sadar setelah mendapat hukuman”, kesal Dariel.
Dwyne yang tiba-tiba mual, berlari ke toilet dan menumpahkan isi perutnya. Ketika selesai membasuh mulut dan keluar pintu, Dwyne terkejut seorang wanita menampar pipinya hingga panas terasa.
PLAK
“Aaahhhh, apa yang anda lakukan nyonya?”, teriak Dwyne mengundang perhatian awak media yang hadir.
“Dengar perempuan murahan, berani sekali kau menggoda suamiku, hah”, istri dari Mr Lee menarik kuat rambut Dwyne.
“Apa? Suami anda yang menjebak ku, dia benar-benar tidak tahu diri”, seru Dwyne berusaha melepas genggaman tangan wanita itu dari rambutnya.
“Aku tidak menyangka kau mengandung anak suamiku. Aku tahu aku tidak memberinya keturunan tapi kau tidak berhak hamil anaknya”, teriak wanita itu.
“Dwyne”, panggil Dewa bergegas menghampiri wanitanya.
“Apa benar Nona Bradley, anda saat ini tengah mengandung anak dari terdakwa?”, tanya salah satu media.
“ITU TIDAK BENAR”, ucap Dewa sembari melepaskan tangan yang mencengkram kuat rambut istrinya.
“KALIAN DENGAN BAIK-BAIK”, Dewa menunjuk pada beberapa media, “Anak yang ada pada istriku ini adalah milikku, aku ayah biologisnya, bukan Mr Lee, catat itu”, bengis Dewa, tatapannya pun sangat tajam. Untuk pertama kalinya Dwyne melihat suaminya begitu marah dan murka.
“Dan untuk anda Nyonya Lee, jangan mencemari mulut anda dengan berita bohong”, tegas Dewa. “Aku bisa menuntut anda kembali, karena ini termasuk pencemaran nama baik”, lanjut Dewa tak terima.
“Tapi karena dia, suamiku sekarang di penjara”, teriak Nyonya Lee.
“Suami anda pantas mendapatkannya”, ucap Dewa.
“Dan satu lagi nyonya, aku tidak akan tinggal diam, jika anda berani menyentuh istri dan anakku, ingat itu Nyonya Lee”, lanjut Dewa. Lalu merangkul bahu istrinya, Dewa sangat khawatir pada kondisi Dwyne.
“Sebaiknya kita pulang sayang”, ucap Dewa dengan lembut.
“Dan kalian jangan pernah sekalipun mengabarkan berita bohong”, tunjuk Dewa pada media, kemudian berjalan menerobos kerumunan di depannya.
__ADS_1
“Apa-apaan mereka itu, aku tidak terima anak-anakku diakui olehnya”, dada Dewa naik turun menandakan dirinya emosi.
“Tenang Dewa”, Dwyne menggenggam erat tangan suaminya.
“Bagaimana bisa Dwyne? Apalagi wanita itu menyentuhmu. Apa kamu merasakan sesuatu? Katakan sayang, kita ke rumah sakit”, panik Dewa.
“Tidak Dewa, aku baik-baik saja”, jawab Dwyne datar.
“Ayo kita pulang, dan kalian sebaiknya satu mobil dengan Papa”, ucap Papa Rayden tiba-tiba, ia tak ingin terjadi sesuatu pada anak, cucu dan menantunya saat dalam perjalanan karena terbawa emosi.
“Iya pah”, sahut Dewa dan Dwyne.
“Bagaimana Dariel, sudah selesai?”, tanya Papa Ray pada putranya setelah mereka berempat memasuki mobil.
“Beres pah, tidak akan ada skandal yang menyebar. Apalagi berita ini tidak benar. Aku menjaminnya”, ucap Dariel menyelesaikan masalah yang terjadi.
“Lalu wanita itu bagaimana? Maksud ku Nyonya Lee”, tanya Dwyne.
“Sudah ditangani, dan kini bersama pihak berwajib sampai keluarnya datang menjemput”, ucap Dariel.
“Kerja bagus, son”, Papa Ray menepuk bahu putra satu-satunya ini.
“Enak saja dia mau bermain-main dengan keluarga kita”, oceh Dariel, “Tentu saja tidak bisa, apalagi dia hanya lalat kecil yang mengganggu dengan mudah disingkirkan”, Dariel pun terbawa emosi karena kembarannya dituduh hal yang tidak benar.
Dewa menggenggam tangan istrinya, tatapannya selalu tertuju pada Dwyne yang nampak syok, lalu pipi merah wanitanya.
“Apa ini sakit sayang?”, Dewa membelai pipi merah di sisinya.
“Tidak”, jawab Dwyne ketus.
“Kenapa? Apa masalah tadi membebani mu?”, tanya Dewa.
“Tentu saja pipiku ini sakit Dewa, kenapa kamu tanya lagi, huh”, kesal Dwyne.
“Maafkan aku Dwyne, seharusnya tadi aku mengikuti mu, maaf aku tidak menjaga kalian”.
Hati Dewa tercubit melihat istrinya menerima tamparan, ia merasa kurang menjaga Dwyne hingga fisiknya terluka, walau dapat dilihat jika tak ada yang serius tetap saja Dewa tidak terima wanita yang dicintainya diperlakukan buruk.
“Aku janji akan menjagamu lebih baik lagi, sayang”, kata hati Dewa.
...TBC...
__ADS_1