
BAB 78
Dwyne menerima buket bunga anyelir dengan air muka yang datar dan tak menunjukan rasa bahagia, namun dalam hati dirinya bersorak senang. Selain kehadiran sang suami, Dewa pun benar-benar menjadikannya ratu.
Dewa menunggu Dwyne mengucapkan sepatah kata namun tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir pink wanitanya.
“Ehem, ayo makan sayang”
“Memangnya kamu tidak lelah, Dewa?”
“Apapun untuk istriku dan calon anakku, ayo buka mulutnya”, jawab Dewa benar-benar menggetarkan hati wanita beku ini.
“Iya, tapi aku tidak mau makan sayuran itu, rasanya bau dan membuat perutku mual”, Dwyne menutup hidung melihat Dewa mengambil mangkuk berisi sup.
“Ok, baiklah. Kita turuti keinginan ibu hamil cantik ini”, Dewa menyingkirkan sup dari nampan.
Tanpa sadar Dwyne tersenyum tipis karena Dewa memenuhi keinginannya, hal ini tak luput dari pengamatan Dewa. “Manis, cantik, aku akan berusaha untuk pernikahan kita”, hati Dewa berkata dan tersenyum melihat gurat merah pada pipi wanitanya.
.
.
**
Satu minggu setelah kepulangan Dwyne dari rumah sakit, Dewa selalu menghujani istrinya dengan jutaan perhatian dan kasih sayang meskipun ia selalu sibuk setiap harinya, untuk istirahat pun tidak ada namun Dewa menempatkan Dwyne di skala prioritas utama dan pertama.
Atas saran dari Papa Ray dan Mama Nayla, Dewa membawa istrinya pulang ke rumah kediaman Bradley, karena di rumah ini banyak yang menjaga Dwyne ketika ia sibuk bekerja dan belajar.
Apalagi Dwyne di haruskan bedrest total, pasti sangat membosankan di rumah seorang diri. Sedangkan di rumah ini ada Denna, Mama Nayla, Oma Anggi, dan Opa Dave yang menemani Dwyne pada siang hari, tak jarang Brady dan Steve ikut menemani kakak sepupunya di rumah, menemani Dwyne bercanda atau membawakan wanita hamil itu makanan.
Tepat usia kandungan menginjak 7 minggu Dwyne mengalami mual dan muntah cukup merepotkan seperti ibu hamil pada umumnya, tidak hanya pagi hari tetapi malam hari pun sangat mengganggu tidur ibu hamil ini.
“Huuuek, hueek”
Beberapa kali Dwyne memuntahkan cairan bening hingga tubuhnya lemas dan tak bertenaga, untunglah Dewa yang seorang dokter memahami betul istrinya. Dewa selalu sigap membantu Dwyne, memijat tengkuk dan mengambilkan air hangat untuk membasuh mulut.
“Sayang”, ucap Dewa sembari memapah wanitanya.
“Dewa, apa ada obat mual untukku? Ini benar-benar menyiksa”, manja Dwyne.
__ADS_1
“Bukankah Dokter Samantha sudah meresepkannya? Hanya bisa meredakan sayang bukan menghilangkan”, jelas Dewa.
Dewa membantu Dwyne tidur kembali di atas ranjang, dan ikut duduk di sisi istrinya, membelai wajah yang setiap hari selalu dirindukannya, Dewa begitu bahagia bisa memiliki Dwyne, mendapatkan wanitanya yang begitu sulit digapai.
“Sebelum aku masuk kamar, Denna bilang kamu belum makan malam ya? Apa istriku ini menunggu suaminya?”, mengusap rambut coklat Dwyne yang kembali indah dan rapi.
Tak ingin menyangkal untuk hal satu ini, Dwyne mengangguk seperti anak kecil di depan suaminya. Seketika mengundang tawa hangat dari Dewa, pria itu melabuhkan ciuman di bibir manis sang istri hanya sekadar menempel tidak lebih, khawatir tak akan bisa menahan diri sedangkan kondisi Dwyne masih sangat rentan.
“Tunggu sebentar sayang, aku hangatkan makanan “, Dewa menggulung lengan kemeja birunya sebatas siku dan menuju pintu kamar.
“Dewa, aku tidak mau makan makanan itu, aku......aku mau omelette daging asam manis”, lirih Dwyne.
“Ah rupanya anak-anak papa ingin makan masakan papa ya, baik tapi papa memerlukan waktu dan kalian harus menunggu”, senyum Dewa.
“Dewa, apa aku boleh ikut ke dapur?”
“Tidak sayang untuk hal itu aku akan tegas, tunggulah”
“Huh, bosan di kamar”
Di dapur, Dewa memasak sesuai keinginan wanitanya. Rasa lelah tak lagi berarti bagi Dewa meski jam menunjuk pukul 11 malam.
“Aku ingin memiliki suami seperti kaka ipar”, bisik Denna.
“Ck, kau itu masih kecil jangan memikirkan suami, lulus sekolah pun masih harus melanjutkan pendidikan dan setelah itu bantu aku di hotel, mengerti?, lagi pula siapa pria yang mau dengan wanita manja seperti mu?”
“Kakak, keterlaluan”, kesal Denna.
“Aku bersumpah kakak akan menikah dengan wanita yang lebih manja dariku, ingat itu. Huh”, Denna meninggalkan Dariel seorang diri.
“Dariel tidak baik bersembunyi seperti itu”, ucap Dewa dengan tangan lihainya memasak.
“Wow, kau benar-benar hebat kakak ipar, aku harus belajar darimu bagaimana menyenangkan hati istri”, ucap Dariel.
“Memangnya kamu kapan menikah? Aku tidak tahu calon istrimu”.
“Hah, aku tidak ada waktu mencari wanita di luar sana, kegiatan ku padat, lagi pula aku masih terlalu muda untuk menikah, benar kan kakak ipar?”
Dariel mengambil satu potong telur dari piring, “Dariel kau itu”, geram Dewa.
__ADS_1
“Maaf kak, masakan mu enak”, melengos pergi dari dapur.
Dewa membawa makanan untuk istrinya ke lantai 2, tidak lupa satu tangkai bunga mawar putih menambah kesan romantis makan malam Dwyne.
“Untuk istri dan anak-anakku”, senyum Dewa.
“Kamu memetik ini dari taman lagi?”, tanya Dwyne menghirup aroma harum mawar.
“Ya, aku sudah meminta izin oma dan mama. Buka mulutnya sayang atau aku akan membukanya dengan cara lain”
“Ish, kamu mesum Dewa”, Dwyne mendelik tajam, ingat beberapa kali enggan makan, Dewa pun mencium dan menggigit bibir bawah Dwyne hingga terbuka.
**
Sementara di sisi lain Dayana selalu menutup diri dan pintu kamarnya rapat setelah makan malam bersama Bunda Nayra dan Oma Nilla.
Dayana masih ingin memiliki Dewa namun keadaan Dwyne yang saat ini tengah mengandung menjadikannya sakit dan sesak, ia tak rela akan ada pengikat diantara Dewa dan Dwyne.
Apalagi setelah Dewa, Mama Nayla dan Papa Rayden datang ke rumah untuk meminta penjelasan dari Dayana, semakin jauh pula harapannya untuk memiliki Dewa walau hanya sekadar fisik.
Mama Nayla yang begitu menyayangi Dayana, terpaksa kecewa berat atas apa yang dilakukan keponakannya ini, apalagi Papa Rayden bukankah mereka akan menepati janji tidak akan jatuh pada cinta yang dimiliki saudaranya namun kini dilanggar.
Dewa ingin Dayana datang langsung pada Dwyne dan mengatakan kebenarannya, namun sampai hari ini calon dokter berwajah cantik itu masih belum sanggup menemui Dwyne, apalagi untuk melepaskan Dewa.
“Tidak, tidak, kenapa jadi seperti ini? Dayana seharusnya Dokter Dewa jadi milikmu bukan Dwyne”, Dayana menyandarkan kepala pada dinding.
“Apa yang harus aku lakukan?”, lirihnya.
Kini Dewa tak lagi dapat dimintai tolong olehnya dan semakin menjaga jarak dengan Dayana, selain itu Bunda Nayra dan Oma Nilla kehilangan kepercayaan pada Dayana, semakin hancur perasaan gadis ini.
Bunda Nayra merasa malu pada keluarga adik iparnya atas tingkah laku Dayana. Bunda Nayra pun bersikap dingin pada putrinya sebelum ia menyelesaikan masalah hingga tuntas.
...TBC...
...***...
...Kasian juga ya sama Dayana ...
...😢😢😢...
__ADS_1