Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 66 - Memenuhi Pikiran


__ADS_3

BAB 66


Siang ini Dewa dan Dayana duduk berhadapan setelah menikmati santap siang mengisi perut untuk kembali mengisi energi.


“Apa yang ini kakak katakan?”, tanya Dayana berharap Dewa segera melamarnya.


“Dayana, kau tahu aku mencintai Dwyne? Aku hanya minta kau bersedia menjalankan tes bahwa malam itu di antara kita tidak terjadi apapun”, Dewa memohon dengan sangat pada kakak sepupu istrinya.


“Bukankah memang terjadi sesuatu Dokter?”, Dayana mengepalkan tangan di bawah meja, bukan lamaran yang di dengarnya melainkan pernyataan cinta untuk adik sepupunya.


“Tidak Dayana, aku hanya menolong mu. Sebagai seorang dokter sudah tugasku melakukan itu semua”, jawab Dewa.


“Kakak tahu aku mencintai mu? Sama seperti perasaan kakak pada Dwyne, sama seperti yang akan kakak lakukan demi mempertahankan cinta kakak, aku juga begitu tidak ingin kehilangan kakak. Tidak ada kah tempat dalam sana untukku meski sedikit saja?”, Dayana menunjuk pada dada Dewa.


“Aku selalu bermimpi indahnya hari tua bersama kakak, menjalani hari-hari bahagia bersama mu, aku......”, Dayana menghela napas sebelum kembali bicara, “Aku lebih dulu mengenal dan mencintai kakak, bukan Dwyne. Apa kakak menerimanya karena dia berasal dari keluarga yang berlimpah materi, benarkan? Katakan sejujurnya ka”, manik coklat Dayana menahan tangis yang ingin luruh.


“Dayana, aku menerima pernikahan ini karena aku jauh mengenal dan mencintai Dwyne sebelum kita bertemu. Aku tidak akan melarangmu untuk menyukai ku hanya saja gunakan akal sehat yang baik, meskipun istriku bukan Dwyne kita tidak bisa bersama karena takdirku bukan bersamamu”, ucap Dewa tanpa nada emosi. Ia masih mempunyai hati nurani meskipun kesal menyelimuti dirinya.


“Tapi kita bisa merubah takdir itu Dokter, aku yakin ketika kita bersama nanti, pasti dokter bisa mencintaiku sama seperti Dwyne”, Dayana masih tetap bersikukuh untuk menjadikan Dewa miliknya.


“Kapan Dokter Dewa akan berpisah dengan Dwyne?”, tanya Dayana tidak sabaran.


“Dayana, aku tidak akan pernah menceraikan Dwyne sampai kapanpun”


“Tapi aku tidak bisa menjadi istri kedua kakak, aku ingin menjadi satu-satunya”, egois Dayana, lalu meraih tangan Dewa menggenggamnya dengan kuat.


“Lepas Dayana”, Dewa tidak ingin kesalahpahaman terus terjadi.


“Cintai aku ka, sama seperti yang kakak berikan untuk adik sepupuku”, iba Dayana.


“Maaf, Dayana tidak bisa. Sebaiknya kau katakan kapan bersedia melakukan tes?”, Dewa berdiri di damping juniornya.


“Tidak, tidak akan pernah”, jawab Dayana begitu tegas dan yakin.


Dewa merasa pembicaraan ini tidak membuahkan hasil, 3 kali ia meminta Dayana melakukan serangkaian tes bahkan usai pulang dari hotel memaksanya untuk visum hanya saja wanita ini tidak berkenan.


Berjalan memasuki ruang kelas, Dewa melihat foto pernikahannya di layar gawai dan tersenyum. Sungguh ia merindukan wanita arogan miliknya.


“Dwyne, cepatlah pulang. Aku tidak bisa tanpamu”, Dewa mengirim pesan singkat untuk wanitanya, ia tidak peduli jika nomornya di blokir.


Sepanjang mengikuti kegiatan belajar Dewa kehilangan fokusnya, hanya senyum dan sikap ketus Dwyne memenuhi isi kepalanya saat ini. Senyum manis yang baru dilihatnya belakangan ini, hanya bisa ia kenang tanpa memandang langsung wajah cantik sang istri.

__ADS_1


“Dwyne”, lirih Dewa.


“Anda sedang memiliki masalah?”, tanya rekan yang duduk di sebelah Dewa, “Saya lihat tidak fokus”


“Ah ya, terima kasih sudah mengingatkan”, mengulas senyum tipis.


“Sama-sama”


.


.


Waktu berjalan lambat bagi Dewa, ia memasuki rumah yang gelap hanya ada beberapa cahaya minim di sudut ruangan. Dewa yang selalu semangat ketika pulang ke rumah, saat ini merasa malas dan  hanya ingin memutar waktu. Membalik keadaan menjadi seperti sebelumnya.


Duduk di salah satu anak tangga memandangi setiap ruangan yang terjangkau netranya, tempat kesukaan Dwyne tak luput dari perhatian, taman samping rumah selalu menjadi tempat untuk Dwyne menghirup udara segar. Lalu sofa di ruang keluarga menjadi saksi bisu percintaan panas yang pernah keduanya lakukan.


Dewa tersenyum getir, apalagi bayangan Dwyne seperti nyata berjalan kesana kemari dengan membawa segelas jus memenuhi mata Dewa.


“Seperti ini rasanya merindukan seseorang”, gumam Dewa.


Ia pun berdiri memasuki kamar, membuka walk in closet dimana pakaian wanita masih  bergantung memenuhi ruangan itu. Beberapa tas yang dibelinya tersimpan dalam lemari kaca, Dewa tersenyum melihat tas kecil yang dibeli Dwyne pertama kali dari uangnya.


**


Mansion Utama Bradley


“Ah Dwyne, kamu tidak mau membantuku?”, teriak Denna yang harus menerima sikap jahil kakak laki-lakinya.


“Denna kenapa terus berlari?”, panggil Dariel ingin menghukum adiknya karena perjanjian keduanya siapa yang kalah bermain catur maka harus mendapat hukuman.


Oma Anggi dan Opa Dave menikmati ketiga cucunya yang berlari, namun ada yang aneh pada salah satu twin D hanya diam duduk di sofa.


“Dwyne, apa Dewa akan menyusul?”, Oma Anggi membelai lembut rambut panjang Dwyne.


“Dewa sibuk oma, lagi pula dia baru mulai pendidikan spesialis jadi mana mungkin izin”, penjelasan Dwyne masuk akal diterima oleh Oma Anggi.


“Bagaimana pekerjaanmu ? Opa harap kau belajar dengan cepat Dwyne”, Opa Dave ikut duduk di sofa.


“Baik Opa, ya Dwyne akan berusaha lebih giat”, nada datar Dwyne dan sedikit tersenyum.


Dwyne, Dariel dan Denna duduk bersantai di rooftop mansion, apalagi Dariel sibuk melihat bintang dengan teropong.

__ADS_1


“Langit benar-benar indah”, ujar Dariel.


“Denna bagaimana sekolahmu?, mama dan papa kangen”, ucap Dwyne hanya duduk bersandar menerima angin yang menyentuh kulitnya.


“Baik, Ka. Aku juga ingin pulang tapi kasihan pada Oma dan Opa”, Denna memberengut.


“Hah, memiliki dua saudari memang tidak bisa diajak keluar mansion, aku merindukan stefan dan steve”


“Apa kau bilang kami tidak asyik”, seru Dwyne memukul Dariel yang diikuti oleh Denna.


Ketiga kakak beradik itu salin bercanda menghabiskan waktu bersama, karena esok hari Dariel harus terbang ke Swedia memantau perusahaan cabang di sana.


Senyum lebar pun terbit di bibir Dwyne, tentu Dariel sangat senang akhirnya bisa melihat senyum manis saudari kembarnya setelah satu minggu hanya memasang wajah kecut dan angkuh.


“Sebaiknya kita istirahat, aku tidak mau besok terlambat”, Dariel meninggalkan kedua saudarinya.


“Dwyne”, Denne memeluk kakaknya menyalurkan kasih sayang.


“Aku tahu kau wanita kuat, aku akan selalu mendukungmu Dwyne”, Denna semakin mengeratkan pelukannya, meberi semangat pada kakaknya yang tengah diterpa badai.


“Apa kamu tahu dari Dariel?”


“Ya, dia menceritakan semuanya. Aku harap kau tidak memakai emosi Dwyne”


Istri Dewa Bagas Darka membalas pelukan hangat adik bungsunya, “Terima kasih Denna”.


“Dewa kau sedang apa? Huh pasti sudah tidur, iya kan?”, ucap Dwyne dalam hati.  Merindukan masa-masa indah bersama suami tampannya yang selalu bersikap baik pada siapapun.


“Tidak, tidak, aku tidak boleh mengingatnya”, menggelengkan kepala.


“Kamu kenapa Dwyne? Katakan saja”, Denna mendongak melihat wajah kakaknya.


“Tidak ada adik kecilku”, menjawil hidung mancung Denna Bradley.


...TBC...


...**...


^^^teima kasih atas dukungannya ah senenh ^^^


 

__ADS_1


__ADS_2