
BAB 100
Wanita paruh baya menghampiri pasangan orang tua muda yang harap cemas menanti kabar buah hatinya. Dokter spesialis anak tersenyum pada Dewa dan Dwyne, menyampaikan kabar baik kemajuan pesat kondisi bayi mungil cucu Rayden Bradley di dalam sana.
“Kami akan lakukan observasi sampai sore, jika hasil semua bagus, maka Tuan Muda Denver bisa dibawa pulang sore ini juga, harap Dokter Dewa dan Nyonya Dwyne mengerti karena ada beberapa prosedur yang harus kami lakukan”, terang Dokter Spesialis Anak.
Dewa menganggukp paham, “Terima kasih dokter atas bantuannya”.
“Tak perlu sungkan Dokter Dewa, memang tugas saya. Denver anak yang baik dan memiliki semangat juang tinggi”, tersenyum pada Dwyne yang menunjukan raut senang pada wajahnya. “Kalau mau melihat Denver sudah bisa, silahkan. Nanti perawat akan membantu, saya permisi”, sambungnya.
“Dewa?”, panggil Dwyne, sorot matanya sangat ingin sekali melihat langsung keadaan buah hati di dalam sana.
“Ayo”, Dewa berjalan lebih dulu membuka pintu, dirinya pun sama senangnya dengan Dwyne.
Dwyne tersenyum tipis menggerakkan sedikit tangannya mendekat pada tubuh Dewa, berharap digenggam oleh telapak tangan lebar milik suaminya. Tapi lagi-lagi semua itu semu, kala Dewa berjalan lebih dulu meninggalkannya.
“Dewa, huh. Kamu menyebalkan”, gerutunya dalam hati, tapi hanya wajah cemberut saja yang ia tunjukan.
“Ada apa? Kenapa hanya diam?”, tanya Dewa pada istrinya diam di tempat. “Kenapa wajahnya ditekuk seperti itu?”, tanya Dewa tertahan di bibir.
Melangkahkan kaki memasuki ruangan yang memiliki dekorasi ramai, dan kesan anak-anak pada wallpaper dinding aneka karakter kartun.
Petugas yang berjaga membantu Dewa dan Dwyne masuk ruang khusus, bisa keduanya lihat Denver membuka mata. Mengedip lucu, bibirnya terbuka sedikit dan bergerak membentuk huruf ‘O’. Tangan mungilnya pun bergerak di sisi tubuhnya, adanya alat yang menempel tak mengganggu bayi kecil ini.
“Halo jagoan papa, sore ini kita pulang ke rumah. Denver kangen kan tidur bareng papa?”, kata-kata Dewa sukses mengalihkan pandangan Dwyne.
__ADS_1
“Tidur bareng?”, gumamnya pelan. Dwyne ingat bagaimana Dewa tidur di sofa setelah pulang ke rumah. “Maafkan aku Dewa”, batin Dwyne.
Dwyne memegang tangan mungil yang sangat ia rindukan, “Denver ini mama, sayang harus sehat ya. Mama.......mama dan.......mama dan papa menyayangimu”, kalimat itu mengalun indah sampai pada gendang telinga Dewa.
Segenggam hatinya menghangat, “Apa kamu sudah memaafkan ku Dwyne?”, tanya Dewa dalam kepalanya. Dewa selalu bersyukur bisa memiliki Dwyne, meskipun hanya fisiknya mungkin juga hatinya. Karena Dwyne adalah wanita yang dikirim Sang Pencipta untuk dirinya. Sejak awal ia melihat wanita ini telah jatuh hati seluruhnya, sepanjang perjalanan tak pernah sekalipun Dewa melirik wanita lain, hatinya telah terpatri kuat oleh satu nama yaitu Dwyne, dalam hati hanya Dwyne pemilik hatinya seorang.
Hanya Dwyne yang ia inginkan dan tunggu dalam setiap detiknya, Dewa sangat berharap kehidupannya dengan Dwyne menapaki jalan kebahagiaan, apalagi Denver berada di tengah-tengah mereka.
“Terima kasih Dwyne sudah melengkapi hidupku. Ku mohon maafkan aku sayang”, lagi dan lagi tertahan di bibir.
Sementara Dwyne mencuri pandang pada suaminya, sangat berharap Dewa mengatakan sesuatu yang akan memperbaiki hubungan keduanya. “Ayo Dewa katakan sesuatu, aku mau mendengarnya”, mohon Dwyne dalam hati, menghembus napas pelan sampai beberapa detik tak jua sepatah kata keluar dari bibir Dewa.
Keduanya hanya tampak seperti manusia bodoh yang tenggelam dalam pikiran masing-masing. Menunggu pasangan untuk mengungkapkan isi hati dan mengawali lebih dulu untuk memperbaiki hubungan pernikahan yang merenggang ini.
.
.
Dwyne menatap haru pada putranya, wanita ini akan memastikan memberi semua yang terbaik pada putranya, termasuk mulai memperbaiki hubungan dengan Dewa.
“Obat untuk Denver sudah lengkap, ayo”, ajak Dewa sembari menggendong tas bayi di pundaknya. Lagi dan lagi tak ada tautan jari diantara sepasang suami istri yang sedang berjalan menuju pelataran rumah sakit.
Dewa tak ingin mementingkan egonya untuk bersentuhan dengan sang istri, karena kedua tangan Dwyne harus mendekap erat buah cintanya. Selain rasa gugup dan takut wanita pujaannya itu tak mau menerima sentuhan.
Sedangkan Dwyne sangat berharap, Dewa memegang tangannya walau hanya sampai area parkir, dirinya sangat ingin menerima sentuhan hangat telapak tangan suami tampannya ini.
__ADS_1
“Dewa, aku kangen”, rengek Dwyne hanya bisa dalam dada. Sungguh ego dalam diri menghalangi perasaan yang sebenarnya.
Sepanjang perjalanan pulang pun Dwyne dan Dewa saling diam, tak bertukar sepatah kata apapun. Selalu sepasang suami istri ini terbelit dalam pikiran masing-masing. Bagi Dewa mencintai Dwyne dalam diam saat ini adalah caranya tersendiri. “Dwyne, sayang aku rindu kamu, suaramu, tawamu, pelukanmu”, tutur Dewa dalam hati.
“Aku akan bertahan semampuku Dwyne, aku tak akan pernah pergi dari sisimu dan Denver. Biarkan aku tetap di sisimu walau kamu tidak menginginkannya”, lirih Dewa sangat menyayat dalam hati. Sadar akan posisi statusnya yang bagai bumi dan langit, Dewa akan mempertahankan miliknya dan jika Dwyne ingin berpisah tak akan pernah Dewa izinkan.
Beberapa kali Dwyne melirik suaminya yang sedang fokus memegang setir, dirinya benar-benar tidak mau sampai kehilangan Dewa. Ayah dari putranya, hanya Dewa yang berbeda dari pria lain yang ingin mendekatinya. Kalau saja tidak malu dan tidak menggendong Denver, Dwyne akan memeluk pria di sampingnya ini, bila perlu mengikat Dewa agar tidak jauh dan selalu dalam pengawasan.
Sungguh Dwyne tidak rela Dewa tertawa renyah seperti pagi ini pada perempuan lain. Ia masih mengingat jelas suara dan wajah Dewa tadi pagi.
“Tidak.... tidak akan aku biarkan wanita lain mendekatimu, bahkan seekor ratu semut pun tak akan aku biarkan. Kamu milikku Dewa, hanya untukku, dan aku pastikan hatimu masih mencintaiku”, mungkin jika kata-kata itu keluar dari bibir Dwyne langsung, pasti wanita cantik ini akan menggebu-gebu mengatakannya, ia begitu takut kehilangan Dewa.
“Akhirnya sampai”, ucap Dewa, usai memarkirkan mobil di halaman rumah kediaman Bradley.
“Emmmm, Apa kamu langsung kembali ke rumah sakit Dewa?”, tanya Dwyne yang ingin sekali jawaban suaminya ‘tidak’. Menggigit bibir bawah menanti jawaban dengan cemas.
“Tidak”, jawab Dewa.
“Yes”, pekik Dwyne, suaranya tertahan tapi binar bahagia terpancar dari manik coklat serta wajah cantiknya.
“Kenapa?”, Dewa mengangkat sebelah alisnya, heran serta tak jelas mendengar apa yang istri arogannya ini katakan. “Tapi siang aku berangkat ke Unversitas, kemarin sudah izin tidak mungkin hari ini izin lagi”, tutur Dewa, khawatir tertinggal materi dan poin nilai untuk gelar spesialisnya.
Dwyne mengulum senyum, sangat senang. Ia melirik jam tangan pada pergelangan tangan, ya tidak apa hanya 2 jam yang penting memiliki waktu bersama Dewa, dan benar-benar akan dimanfaatkan sebaik mungkin.
...TBC...
__ADS_1