Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 17 - Bantuan


__ADS_3

BAB 17


Hari ini Dayana menginap di rumah tantenya, setelah beberapa bulan tidak mengunjungi rumah mewah ini sekarang ia harus membesarkan hati mendapat pemandangan menyesakkan di depannya. Dewa dan Dwyne duduk bersebelahan, sementara dirinya duduk di samping Dariel. Kelimanya menunggu kepala keluarga rumah itu duduk bersama mereka.


“Papa pikir kalian tidak makan malam di rumah”, Rayden tersenyum pada putri dan menantunya. “Sebaiknya keluarlah menikmati malam, papa dan mama sejak menikah selalu ingin berduaan”, Rayden melirik istrinya yang mengulum senyum.


“Ck, mulai lagi”, gumam Dariel, orang tuanya memang kerap kali menunjukkan sikap mesranya di depan anak-anak mereka.


“Sebaiknya kamu segera mencari calon istri”, menunjuk pada Dariel.


“Hah, mana mungkin Pa, aku masih terlalu muda”, Dariel tertawa garing.


“Dwyne sepertinya mama baru lihat kamu pakai kalung itu?”, mata Mama Nayla yang sudah sipit semakin kecil memperhatikan benda melingkar di leher putrinya.


“Benar sayang, seingat papa belum pernah membelinya untukmu. Kamu senang juga membeli perhiasan rupanya”, ungkap Rayden sembari memilih lauk yang tersaji di atas meja makan.


“Mana mungkin dia membeli sendiri, pilihan mu bagus Dewa”, sahut Dariel. Sontak Dwyne menoleh pada suaminya yang juga tersenyum padanya.


“Benarkah Dewa?”, ucap  mama dan papa mertuanya.


“Ehem, iya Pa, Ma. Hadiah untuk Dwyne”, Dewa menatap istrinya seraya tersenyum.


Semua anggota keluarga terlarut dalam kebahagiaan, terkecuali seorang wanita yang duduk di samping Dariel. Matanya sedikit mengembun menahan tangis, namun tetap berusaha tersenyum.


“Tahan, kamu harus kuat”, batinnya.


“Dayana, setelah makan malam jadi kan menemani aku main game?”, tanya Dariel membuyarkan lamunan kakak sepupunya.


“I iya tentu saja”, tersenyum kaku.


Sikap Dayana ini tidak luput dari perhatian Dwyne yang menatap datar kakak sepupunya, sementara yang lainnya tidak ada yang menyadari perubahan pada Dayana.

__ADS_1


.


.


Dwyne yang seorang workaholic langsung masuk ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan beberapa laporan penjualan yang belum ia periksa. Dia pun dibuat naik darah karena Dewa membuntutinya bahkan kini duduk di atas sofa tepat menghadap pada Dwyne.


“Ck, kenapa kau tidak pergi ke tempat lain?”, usir Dwyne secara langsung, bahkan saat ia menutup pintu pun, Dewa terang-terangan menahan pintu itu dan ikut ke dalam ruangan, tangannya hampir terjepit bukan masalah bagi Dewa.


“Tidak bisa”, jawab Dewa santai.


“Kau itu punya kaki dan tangan sebaiknya melakukan kegiatan berguna”, kesal Dwyne.


“Bagiku ini berguna”, Dewa tanpa henti berpaling dari istrinya. “Bersamamu, menghabiskan waktu denganmu sangat berguna”, batin Dewa, kata-kata itu seakan tertahan di bibirnya.


“Keras kepala”, gumam Dwyne. “Ok, jika ingin di sini berhentilah melihatku seperti itu, kau bisa melakukan hal lain, membaca buku mungkin”, lelah Dwyne mengusir suaminya yang erat menempel seperti terkena lem di bokongnya.


Wanita cantik ini kembali menatap layar di depannya, sesekali manggut-manggut dan memegang dagu dengan ibu jari. Sampai pada saat Dwyne menggigit kuku ibu jarinya, Dewa berdeham menetralkan suasana hati betapa tergoda ia dengan wanita yang duduk di atas kursi kerjanya itu.


“Boleh aku melihatnya?, mungkin bisa membantu”, tawar Dewa, seketika mendapat tatapan tidak percaya dari istrinya. “Boleh?”.


“Ini. Jangan membuang waktuku percuma”, ketus Dwyne langsung memutar laptop pada suaminya.


Dewa tersenyum, setidaknya sebagai pelaku bisnis meskipun jauh di bawah perusahaan ayah mertuanya ia pun harus mengerti mengenai laporan omset penjualan, laporan keuangan dan lainnya. Dokter tampan ini bahkan dengan lugas menjelaskan secara rinci pada Dwyne dan tanpa sadar jarak keduanya berdekatan sampai harum mint tertangkap indra penciuman Dwyne, harum vanilla pun memenuhi rongga hidung seorang Dewa Bagas Darka, namun kedua insan itu tetap fokus pada ribuan angka di depannya.


Dwyne mengangguk paham dan tersenyum karena pekerjaannya kini telah selesai. Dewa tak mengedipkan kedua matanya saat melihat senyum manis terukir indah di bibir istrinya, “Manis, cantik”, batinnya.


“Ok, ternyata kau berguna juga”, tidak mengucapkan terima kasih tetapi langsung berdiri hingga kepalanya membentur dagu Dokter Dewa, “Aw, Dewa kau itu apa-apaan?, cepat menjauh”.


Dwyne berjalan santai ke kamarnya tak memedulikan Dewa meringis sakit memegang dagunya, “Dwyne mau aku ambilkan jus?”, tanya Dewa.


“Tidak perlu”

__ADS_1


“Dwyne kau itu hanya keras di luar tetapi sebenarnya hatimu mudah tersentuh”, gumam Dewa tersenyum, menuruni anak tangga menuju dapur.


Dayana yang baru saja keluar kamar pun langsung berjalan cepat mengejar suami adik sepupunya, “Dokter Dewa, sedang apa malam-malam di sini?”.


“Kamu sendiri sedang apa?”, Dewa memilah buah yang akan ia jadikan jus.


“Aku.... aku haus, mau minum”, jawabnya jujur, karena baru beberapa menit yang lalu ia dan Dariel selesai bermain game di ruang keluarga.


“Oh”, Dewa menganggukkan kepal, mulai memasukan buah pada mesin pembuat jus.


“Apa itu untuk Dwyne?”, tanyanya walaupun tidak penting, “Kumohon jawab bukan”, harapnya dalam hati.


“Tentu ini untuk istriku dan untukku juga, kami kelelahan jadi harus kembali mengisi dengan minuman bervitamin”, jawab Dewa memang benar apa adanya, Dwyne lelah menyelesaikan setumpuk laporan, ia pun lelah karena sejak selesai dari praktik belum istirahat sedetik pun.


“APA?”, pekik Dayana membayangkan hal lain.


“Kenapa?”


“Ti tidak dokter”, mengepalkan satu tangan dibawah meja mini bar. “Emm, apa aku bisa minta tolong?”, seketika Dewa menoleh dan menatap Dayana, “Emmm, aku juga ingin jus yang sama dengan Dwyne, apa dokter bisa membuatnya untukku?”, tanya Dayana perlahan.


"Maaf Dayana, Dwyne menungguku di kamar. Mungkin kamu bisa membuatnya sendiri”, Dewa membawa dua gelas dari hadapan Dayana dan berlalu pergi tanpa tersenyum pada juniornya ini.


“Menyesakkan”, menepuk dadanya pelan dan meneteskan air mata. “Kenapa Dwyne selalu memiliki apa yang aku inginkan?”, lirihnya. “Kenapa aku tidak terlahir di keluarga ini?”, mengingat betapa miris perjalanan hidupnya sejak dalam kandungan.


Mendapati ayahnya berselingkuh dengan wanita lain, kedua orang tuanya bercerai, bahkan ia pun memiliki saudari berbeda ibu, menjalani hidup hanya dengan kasih sayang Bunda Nayra, Oma Nilla. Kasih sayang seorang ayah hanya ia dapatkan sedikit dari Papa Rayden yang terkadang datang mengunjungi rumah bersama Mama Nayla, tentu twin D yang selalu ikut. Dayana tidak pernah bisa mendapatkan kasih sayang Papa Rayden secara utuh hanya untuk dirinya.


Apa boleh untuk sekali ini ia ingin egois?, menginginkan Dewa sebagai pendamping hidupnya, bukan merelakan pria itu bersama adik sepupunya.  


Tbc


 

__ADS_1


__ADS_2