Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 54 - Menjadi Dingin


__ADS_3

BAB 54


Dayana berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada meja rias, menahan dengan kedua tangan. Menarik napas sebelum menjawab apa yang Bunda Nayra tanyakan.


“Kenapa sayang?”.


“Pria itu memiliki sifat sangat baik bun, sering membantu Dayana menyelesaikan tugas dan memberi beberapa buku, tapi.....”.


“Tapi?”, Bunda Nayra semakin mengerutkan alisnya.


“Sudahlah bun, tidak perlu di bahas”, Dayana memilih masuk dalam selimut dan memejamkan matanya yang ingin menangis, benar-benar ia tidak mau sampai wanita yang disayangi melihatnya menangis karena seorang pria beristri.


“Sayang, maaf kalau bunda lancang. Apa pria itu sudah memiliki kekasih atau mungkin istri?, jika iya sebaiknya kamu merelakannya, melepasnya sayang. Masih banyak pria di luar sana yang lebih baik. Bunda menyayangimu putri kesayangan bunda, jangan jadikan dirimu duri dalam kehidupan orang lain”, Bunda Nayla mengecup puncak kepala Dayana dan tidur memeluk putri sematawayangnya.


Dayana meneteskan air mata yang jatuh membasahi bantalnya. Namun ia hanya diam pura-pura tidur. Hal ini tak luput dari pengamatan Bunda Nayra yang juga pedih melihat putrinya sakit hati, tapi mau bagaimana lagi, Dewa bukanlah pria lajang yang harus ia rebut cintanya.


.


.


**


Satu bulan berlalu


Hubungan Dewa dan Dwyne tidak berjalan di tempat atau semakin mendekat, keduanya kini menjaga jarak. Dingin dan hambar itulah kehidupan pernikahan yang di jalani Dokter Dewa. Bahkan Dewa masih tetap tidur di kamar tamu dan memindahkan barang-barang miliknya ke kamar itu, hanya bertemu dengan Dwyne saat pagi hari ketika sarapan dan berangkat berkerja.


Dewa masih tetap mengantar istrinya ke kantor, namun setelahnya tak ada lagi panggilan video di siang dan malam hari, kata-kata lembut dan manis Dewa seakan menghilang bersama angin. Tapi pria tampan itu masih memberi kabar sesekali pada sang istri jika ia harus pergi ke Universitas dan praktik di klinik.


Sikap Dwyne yang arogan , tak jarang membuatnya memarahi Asisten D karena salah memberi laporan.


“Kau itu bisa berkerja atau tidak?”, kesal Dwyne.


“Ma-maaf nona, saya perbaiki lagi laporannya”, Asisten D memunguti lembaran kertas yang tercecer di lantai ruangan.


“Cepatlah, D. Jangan sampai klien kita menunggu”, seru Dwyne mendaratkan kembali bokongnya di kursi kebesaran.


Sedangkan perempuan berkacamata tebal dengan rambut yang dikepang, memajukan bibirnya, entah sudah berapa kali ia dimarahi oleh nona bosnya. Diakui memang D kurang dalam memberi laporan dan menyiapkan materi.

__ADS_1


“Belakangan ini nona sering sekali marah-marah”, ucapnya dengan jemari lincah mengetik sesuatu di keyboard. Memang benar sudah beberapa minggu ini Dwyne kerap memarahi pegawai di divisinya, apalagi D dan Zayn sudah sering terkena semprot karena nona muda mereka yang sedang memikirkan nasib pernikahannya.


Dalam ruang CMO, Dwyne mengetuk-ngetuk meja menggunakan kuku indah. Jelas ia sudah tahu jika Dewa tak akan menghubungi tetapi selalu menunggu gawainya berdering dengan nama Dewa tertera di layar pipih itu.


“Sebaiknya jangan lagi menunggu Dewa, kamu harus bisa lepas dari bayang-bayangnya Dwyne. Dewa tidak tulus mencintaimu”, gumam Dwyne.


Tidak ada lagi kata sayang, ucapan selamat pagi bahkan tidak menikmati makan malam bersama suaminya, Dewa kerap kali sibuk hingga akhir pekan tentu sampai larut malam. Ketika hari minggu datang, Dewa memilih mengurus perkebunan dan peternakannya. Dwyne pun sama hanya berjalan-jalan sendiri di pusat perbelanjaan dan menghabiskan waktu bersantai di rumah orang tua, bermain game bersama Dariel.


“Nona, direktur rumah sakit sudah menunggu anda”, Asisten D memberitahu jadwal pertemuan Dwyne yang berikutnya. Keduanya akan bertemu dengan klien di GB Hospital.


“Baiklah”, sahut Dwyne lesu.


Satu bulan yang lalu ia begitu bersemangat mendatangi tempat kerja suaminya, pasti Dewa akan menunggu serta menyambutnya di lobby rumah sakit, namun minggu lalu menghadiri rapat komite medis sama sekali tidak ada Dewa memberikan senyum manis menyambutnya di depan pintu rumah sakit.


“Huh”, Dwyne menghembuskan napas kasar, menyandar pada jok mobil.


“Apa nona sakit?”.


“Tidak”


.


.


“Apa kau tidak bisa merubah jadwal ku hari ini?”, ucapnya pada asisten pribadi.


“Ya nona kenapa?”


“Lupakanlah”, lirih Dwyne berjalan memasuki GB Hospital. Tapi seketika matanya melebar melihat Dokter Dewa berjalan didampingi seorang perawat yang tengah memegang berkas pasien. “Dewa”, ucapnya.


Tapi sayang Dokter Dewa tidak melihat istrinya sama sekali, karena terlalu fokus pada topik yang dibahasnya.


“Dokter, tadi ada Nona Dwyne, beliau sepertinya menunggu Dokter”, perawat yang bersama Dewa memberitahu kedatangan putri pemilik rumah sakit.


“Istriku?”


“Iya dokter, di sana”, tunjuk perawat itu namun Dwyne sudah menghilang bersama D ke dalam lift. “Eh, apa aku salah lihat, tapi tadi memang benar istri dokter”.

__ADS_1


Dalam lift Dwyne tidak habis pikir Dewa mengabaikannya, apa mungkin pria itu sudah melupakan kesepakatan yang telah mereka setujui . “Bagaimana bisa?”, gumam Dwyne.


Dwyne keluar lift diikuti asisten dan wakil direktur, memasuki ruang rapat yang sudah dipenuhi perwakilan dokter serta beberapa orang perawat. Pemaparan materi pertama di sampaikan oleh Dokter Samantha, lalu pada dokter spesialis lain dan terakhir dokter umum namun perwakilannya tidak kunjung menyampaikan materi.


“Dokter Gaby sedang cuti melahirkan, sebaiknya panggil Dokter Dewa karena beliau yang paling senior sekarang”, ucap dokter lain.


Sontak Dwyne membenarkan posisi duduknya, meneguk setengah botol air, menghilangkan rasa tegang yang mendera secara tiba-tiba. Sepuluh menit menunggu, Dokter Dewa bersama Dokter Cakra memasuki ruang rapat. Pandangan matanya terkunci pada wanita cantik yang duduk di jajaran petinggi rumah sakit.


“Dwyne”, mengulas senyum tipis yang tidak terlihat. Sungguh ia pun rindu pada istri arogannya ini.


Selama Dewa memaparkan materi, Dwyne fokus melihatnya tanpa melirik kanan dan kiri. Memperhatikan suaminya dengan tatapan yang lain,  kagum pada pria yang selama ini ia sia-siakan.


Selesai Rapat semua peserta keluar lebih dulu, sementara Dwyne memijat kepalanya yang terasa pusing.


“Nona, ayo makan siang. Kenapa selalu menolak, aku tidak mau nona sakit lagi”, khawatir Asisten D.


“Kau saja yang makan aku tidak lapar”, Dwyne memejamkan mata duduk bersandar.


Sedangkan Dewa kembali memasuki ruangan karena ada barangnya yang tertinggal, ia tertegun menatap Dwyne. “Sayang?”, panggilnya dalam hati. Dia memberi isyarat pada Asisten D untuk keluar memberikan waktu pada dua sejoli ini.


“Nona, aku akan menunggu di kantin. Perutku lapar”.


“Hem”


Dewa menarik kursi, duduk di depan wanita yang selalu menolaknya. Dapat Dwyne rasakan hadirnya seseorang dalam ruangan itu.


“Kau bilang menungguku di kantin, pergilah, jangan mengganggu”, ucap Dwyne perlahan membuka mata dan ia tersentak mengetahui Dewa yang duduk bukan Asisten D, kini keduanya duduk saling berhadapan.


“Dewa?"


...TBC...


...****...


...Jangan lupa kasih dukungan untuk author ya...


...Terima kasih banyak...

__ADS_1


...😘😘😘😘😘😘😘😘...


__ADS_2