
BAB 89
Dewa mengantar Dwyne pergi ke rumah Papa Rayden, ia tak ingin istrinya terlalu larut dalam kesedihan. Dewa pun menghibur istrinya dengan menceritakan kejadian lucu ketika ia di Universitas. Namun Dwyne hanya tersenyum masam menanggapinya.
“Dwyne, mau makan apa? Bagaimana kalau aku carikan sesuatu”, ucap Dewa terus menginjak pedas gas.
“Tidak ada yang aku mau”, datar Dwyne.
“Kue atau rujak di tempat langganan kamu mau?”, Dewa selalu berusaha mengalihkan pikiran wanitanya.
“Tidak ada, aku mau cepat sampai rumah mamah”, suara Dwyne bergetar menahan tangisnya.
Dewa menepikan mobil, membelai rambut coklat sang istri, menarik Dwyne dalam pelukannya. Benar-benar tak kuasa melihat istrinya bersedih, kalau menutupi masalah pun akan menghambat pengobatan. Dewa menyesal memberitahu keadaan yang sesungguhnya.
“Sayang, aku tahu apa yang kamu pikirkan. Aku pun sama Dwyne, kita akan lakukan yang terbaik”, mengecup wajah istrinya penuh cinta.
“Dewa......tapi aku. Aku takut”, air mata Dwyne kembali tumpah membasahi kemeja suaminya.
Lidah dokter tampan ini begitu kelu untuk mengucap kalimat menenangkan, sesungguhnya ia sama seperti Dwyne takut. Takut pada sesuatu yang belum pasti. Ternyata situasinya menjadi serumit ini dalam tahun tahun pertama pernikahannya.
Mobil hitam mulai melaju menuju lokasi, pagar hitam yang menjulang tinggi pun mulai terbuka ketika mobil salah satu keluarga Bradley mendekat.
Dapat Dwyne dan Dewa lihat wanita cantik bermata sipit tersenyum di usia yang tidak lagi muda. “Mama”, gumam Dwyne.
Dwyne menghambur memeluk mamanya setelah keluar dari mobil, tentu saja lebih dulu di gendong oleh Dewa menaiki anak tangga di depan rumah mewah ini.
“Mama”, isak tangis Dwyne terdengar pilu.
“Eh ada apa ini? Kalian bertengkar?”, tanya mama mertua Dewa.
“Mama”, Dwyne yang begitu arogan dan angkuh menglepas semua sifatnya saat berada di pelukan Mama Nayla.
Wanita cantik ini pun membawa putri dan menantunya masuk rumah, duduk di sofa ruang keluarga. Masih memeluk putri sulungnya yang belum berhenti menangis.
__ADS_1
“Sayang, tenanglah, kamu aman bersama mama. Ada apa lagi ini?”, Mama Nayla menyorot tajam pada menantunya.
“Bukan Dewa ma”, jawab Dwyne serak.
Mama Nayla meminta seorang asisten rumah membawakan minuman serta camilan untuk kedua anaknya yang datang mendadak pagi ini.
Menghapus jejak air mata di pipi putrinya yang menangis sesegukan, selama ini tidak pernah Dwyne menangis pilu dan pedih seperti ini. Mama Nayla dibuat cemas bukan main melihat sikap Dwyne.
“Dewa bisa jelaskan pada mama apa yang terjadi?”, pinta Mama Nayla masih terus memeluk Dwyne.
Dewa menarik napas secara dalam sebelum menjelaskan semuanya pada Mama Nayla, mulai dari keluhan yang dialami oleh istrinya, sampai pada keadaan Dwyne demam kemarin. Dewa menutup mata saat mengatakan bahwa Dwyne mengalami Twin to Twin Transfusion Syndrome.
Mama Nayla hanya bisa menutup mulut dengan satu tangannya, tidak menyangka jika kehamilan putrinya mengalami masalah.
“Lalu solusinya bagaimana Dewa?”, serius mama mertua.
“Ada dua tindakan yang akan diambil ma tergantung tingkat urgensinya, besok Dwyne akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh untuk menentukan tindakan selanjutnya, karena harus segera ditangani”, Dewa berusaha tegar menyampaikan pada Mama Nayla.
“Kamu tenang Dwyne, percayakan pada Samantha. Dahulu tantemu itu membantu mama dari sebelum hamil sampai melahirkan kalian berdua dengan selamat”, Mama Nayla berusaha tersenyum untk memberi kekuatan pada Dwyne. “Kamu harus yakin kalau kedua janinmu akan baik-baik saja”.
.
.
**
Keesokan harinya di GB Hospital
Dewa memegangi tangan Dwyne sangat erat, pria ini setia mendampingi istrinya menjalani beberapa prosedur pemeriksaan.
“Dewa aku takut hasilnya buruk”, cicit Dwyne.
“Tidak sayang, tenanglah”, Dewa mengecup kening dan bibi istrinya.
__ADS_1
Dewa bahkan izin satu hari tidak masuk kelas, saat ini Dwyne berbaring di atas ranjang ruang rawat khusus petinggi rumah sakit. Papa Rayden dan Dariel ikut menemani anggota keluarga yang sedang membutuhkan dukungan.
“Cucu opa kalian harus kuat, mama kalian pun kuat”, Papa Ray mengusap perut buncit putrinya.
“Kamu pasti bisa Dwyne, aku yakin. Kita juga lahir dengan selamat, benar kan?”, Dariel ikut mengusap keponakannya di dalam sana.
Setelah hasil pemeriksaan diketahui, Dwyne akan memasuki ruang tindakan pukul 4 sore nanti, dan langkah yang diambil adalah operasi laser melalui endoskopi.
Karena jam praktik spesialis kandungan telah usai, Samantha memilih masuk ke dalam ruang rawat keponakannya. Berbincang hangat bersama anggota keluarga sekaligus memberi ibu hamil ini ketenangan.
.
.
Tepat pukul 4 sore, Dwyne didampingi Dewa masuk ruang tindakan, dengan tangan keduanya yang saling bertautan. “Aku mencintaimu sayang”, bisik Dewa di telinga istrinya.
“Dewa aku takut”, lirih Dwyne memasuki ruangan yang dingin ini lengkap dengan peralatan canggih kedokteran.
“Kamu tenang sayang”
“Jangan takut Dwyne”, Dokter Samantha mengulas senyum hangatnya.
Proses yang dijalani pun memakan waktu hampir 1 jam lamanya, karena bukan merupakan pembedahan besar. Dwyne hanya perlu waktu 30 menit untuk pemulihan di ruangan khusus sebelum di pindah ke ruang rawat.
“Apa ini berhasil Dewa?”, tanya Dwyne begitu cemas.
“Tentu saja sayang, ini berhasil, kedua anak kita akan mendapat nutrisi yang cukup dari mu. Untuk itu mulai hari ini aku akan benar-benar menjaga pola makanmu”, ucap Dewa.
“Ah baiklah, apapun itu”, Dwyne tersenyum rasanya lega sudah karena proses yang dijalani telah usai. Namun dirinya masih harus menjalani pengawasan ketat dari Dokter Kandungan.
...TBC...
__ADS_1