
BAB 69
“Bagaimana tidur kalian nyenyak? Ah aku masih ingin tidur, tapi terpaksa bangun harus menemani kalian jalan-jalan”, kesal Dariel karena tidurnya terganggu akibat ponsel berdering berulang kali, panggilan dari Dwyne dan Denna.
“Sudahlah kau itu terlalu banyak mengeluh”, cibir Dwyne.
“Iya kakak kan bisa tidur lagi nanti malam”, Denna melengos pergi usai meneguk satu gelas jus.
“Hei? Apa-apaan mereka itu? Baiklah demi kedua saudariku, kalian bebas hari ini tapi besok jangan menggangguku”, Dariel menghela napas kasar lalu menyusul dua wanita yang berjalan meninggalkannya.
Dwyne dan Denna menghabiskan waktu hingga siang hari dengan berbelanja, membeli segala macam hal yang wanita sukai mulai dari kebutuhan kepala hingga kaki. Sementara Dariel mencari perlengkapan game yang ia inginkan.
“Kak, aku sudah selesai. Kita kemana lagi?”, tanya Denna sangat antusias.
“Pantai, tapi lebih baik sore karena sekarang udaranya panas”, ucap Dwyne yang disetujui Denna.
“Huh, aku harus ke pantai bersama mereka berdua”, keluh Dariel ingin segera mencoba alat barunya.
Sembari menunggu sore tiba, Dwyne dan Denna mengunjungi taman hiburan, menikmati beberapa wahana, tertawa bersama dan mengambil banyak swafoto yang dikirim untuk Mama Nayla.
“Syukurlah, kakak tertawa, aku senang. Huh aku membenci kakak ipar”, batin Denna memandangi wajah Dwyne yang tertawa lepas.
Sementara Dariel menunggu di restoran tempat mereka makan siang, pria itu enggan mengikuti sampai ke taman hiburan, selain malas dan panas Dariel merasa lelah akibat perjalanan bisnisnya ke Swedia.
Menjelang sore hari twin D dan Denna sudah mengganti pakaian mereka dan bergegas ke pantai, yang ternyata cukup ramai. Mereka berjalan beriringan, Dariel diapit oleh kedua saudarinya, memegang tangan pria itu sangat posesif tak memberi ruang bagi pria lajang ini untuk mendekati atau di dekati wanita lain.
“Kalau begini bagaimana aku bisa mendapat pasangan”, pasrah Dariel.
“Papa dan Mama sudah menyiapkan jodoh untuk mu”, sahut Dwyne, karena Rayden tak ingin ketiga anaknya jatuh pada hati yang salah, ia pun memastikan jika calon menantunya memiliki latar belakang yang baik dan bukan seseorang yang bermasalah penuh luka masa lalu.
Lagipula Mama Nayla dan Papa Rayden pun bahagia sampai hari ini, mereka di jodohkan oleh kedua orang tuanya. Twin D dan Denna sangat tahu masa lalu kedua orang tuanya, Rayden selalu menceritakan betapa menyesal tidak mencintai Nayla lebih awal sampai mereka bosan mendengar kalimat yang keluar dari mulut sang penguasa perhotelan.
“Kak? Kakak?”, panggil Denna pada Dwyne yang terlihat melamun lurus ke depan.
Bukan melamun melainkan Dwyne tidak sengaja melihat pria yang lewat sangat mirip dengan suaminya, pria itu merangkul wanita seperti yang biasa Dewa lakukan ketika bersamanya di tempat umum.
“Ah ya kenapa Denna?”
“Kamu bengong Dwyne?”, bukan Denna bertanya melainkan Dariel.
“Tidak, bukan”, sanggah Dwyne.
__ADS_1
“Dewa, apa yang kamu lakukan sampai terus menghantuiku?”, lirih Dwyne dalam hati.
“Apa kamu merindukanku Dewa?”
“Apa kamu dan Dayana jadi menikah?”
“Apa kamu akan meninggalkan ku ? kapan? Aku tidak siap Dewa”
Beragam pikiran Dwyne terus berputar tentang Dewa hanya dirinya, Dwyne tidak bisa membayangkan jika akhirnya ia dan Dewa harus berpisah di saat baru mengecap indahnya cinta dan pernikahan. Dwyne pun kehilangan momen berharganya bersama Dewa, ya wanita ini sangat senang mendapat jutaan perhatian dari sang suami.
“Dwyne, ayo kesana”, ajak Dariel menarik lengan kembarannya.
.
.
Malam hari ketiga bersaudara Bradley itu mengunjungi Dubai Fountain, air mancur yang menampakan dirinya semakin cantik di malam hari. Seraya menikmati makan malam dengan pemandangan luar biasa.
Denna dan Dariel memandang takjub pada tarian air mancur, meski bukan pertama kali bagi Dariel tetapi ia ikut tertawa bersama Denna. Sementara Dwyne hanya mengaduk minuman dan makanannya saja tanpa menghabiskan menu kesukaannya.
“Kak?”, Denna menyenggol pinggang Dariel .
Tiba-tiba Dwyne kehilangan selera makannya, padahal hidangan yang tersaji sangat lezat namun ia ingin sekali makan hasil masakan suaminya seperti yang biasa Dewa lakukan untuk memanjakan Dwyne.
“Dewa, pergilah dari kepala dan...... dan.....”, kata hati Dwyne, bahkan dadanya pun terasa berat ingin mengatakan ‘dan hatiku’. Menyandarkan kepala pada kursi, tak di sadari mengambil sesuatu dari dalam tas, rupanya Dwyne mengubah mode blokirnya di aplikasi chat hijau, membukanya dan berharap Dewa terus mengiriminya pesan serta kata-kata sayang.
“Dwyne makanlah, kau itu tidak boleh terlambat makan, aku tidak mau kalian berdua termasuk aku sakit saat liburan seperti ini.
“Kau itu bawel Dariel”, geram Dwyne.
“Hey bukan seperti itu aku hanya bertanggung jawab pada kalian berdua, tahu tidak? Mama dan Papa pasti menggantung ku kalau sampai terjadi sesuatu pada kalian”, jelas Dariel ingat betul pesan yang Papa Rayden sampaikan sesaat sebelum mereka berangkat.
Usai makan malam dan memandangi air mancur, ketiganya kembali ke hotel mengistirahatkan tubuh. Malam ini Denna tidur dengan Dwyne, remaja itu enggan kembali ke kamarnya. Rasanya malas harus tidur dalam sepi.
“Ayo kak kita tidur, aku membutuhkan tenaga untuk besok, jangan sampai tidak jadi mengunjungi Burj Khalifa”, Denna menarik paksa Dwyne untuk tidur bersamanya.
“Dasar anak manja kamu Denna”, ketus Dwyne.
“Kakak?”
“IYA”
__ADS_1
Kedua wanita yang sebelumnya saling bermaskeran itu merebahkan tubuh dengan kepala yang mengarah pada kaca besar, menampakkan pemandangan Palm Island dimalam hari benar-benar indah.
.
.
Menjelang siang Denna dan Dwyne berjalan di mall Burj Khalifa, keduanya kembali berbelanja kebutuhan fashion wanita, namun hari ini Dariel tidak ikut karena malas mengikuti dua wanita itu membuang uang.
“Ka? Lihat bagus kan?”, tanya Denna
“Kak?”
Denna melihat Dwyne yang terdiam dan mengerjapkan kedua matanya beberapa kali.
“Kakak tidak apa-apa? Sebaiknya kita kembali ke hotel”, ajak Dena tetapi istri Dewa Bagas Darka menolaknya mentah-mentah.
“Tidak perlu, aku rasa hanya kurang tidur. Ayo naik ke atas, aku ingin mengambil beberapa foto”, jawan Dwyne.
“Kakak yakin? Aku tidak mau kaka sakit nanti Papa dan Mama bisa marah”
“Sudahlah Denna, kita kepalang ada di sini. Cepat naik, mau ikut atau tidak?”
“Mau kak”
Setibanya di atas, kepala Dwyne kunang-kunang dan tenggorokannya terasa begtu kering sampai terbatuk.
“Kakak? Mi-minum dulu ka”
“Kepalaku berdenyut”, lirih Dwyne.
“Apa aku bilang seharusnya kita kembali ke hotel, aku hubungi Kak Dariel supaya menjemput kita disini”, Denna mengeluarkan ponselnya.
“Ya ampun, karena aku tidak makan tadi malam jadi sakit begini”, keluh Dwyne menyesal hanya makan sedikit.
Denna memapah tubuh kakaknya untuk turun dan menunggu Dariel datang menjemput. Namun Dwyne menutup mata karena pandangannya sedikit memburam.
...TBC...
...****...
...Semoga Dwyne cepet sembuh atau makin sakit biar dirawat sama Dokter Dewa?...
__ADS_1