
BAB 36
Dwyne tidak menerima uluran tangan Dewa, ia turun sendiri dari mobil, membuka kacamata hitamnya, melihat sekeliling perkebunan luas yang pernah di kunjungi bersama Asisten D dan Zayn.
“Apa kamu membuka klinik disini?”, tanya Dwyne sedikit merasa aneh.
Dewa tertawa ringan menanggapi pertanyaan Dwyne, bukan tanpa alasan memang istrinya ini tidak mengetahui pekerjaan apa yang selalu ia kerjakan di akhir pekan. Berkat kerja kerasnya ini selama beberapa minggu Dewa telah membayar hutangnya pada keluarga Bradley meskipun baru setengahnya saja.
“Kemari lah”, Dewa kembali mengulurkan tangan pada wanita cantik di depannya.
“Kita bisa berjalan tanpa harus berpegangan tangan bukan?”, tolak Dwyne.
“Ya, ikuti aku”, Dewa berjalan lebih dulu menunjukan arah mana yang hendak di kunjungi. Mereka berdua bertamu ke sebuah rumah sederhana namun sangat bagus dan layak. Seorang pemuda keluar dari rumah menggendong balita dan langsung memeluk Dewa.
“Apa ini anggota keluarganya?”, batin Dwyne yang merasa minim informasi mengenai suami tampannya ini.
“Dwyne, ini teman sekolah ku dan sekarang menjadi partner bisnis”, Dewa mengenalkan istrinya pada rekannya itu.
“Bisnis?”, gumam Dwyne dalam hati penasaran tapi tak ingin ia utarakan, hanya cukup menampakan wajah datarnya.
Keduanya pun membahas perkebunan dan bibit baru yang akan ditanam, Dwyne menyimak lebih dulu tidak ingin ikut campur dalam urusan suaminya, dapat disimpulkan bahwa bisnis Dewa adalah berkebun buah serta bahan pokok lainnya. Dwyne memuji Dewa dalam hati tapi tetap ekspresi wajahnya tak menunjukan semua itu.
Ketiganya memutuskan mengunjungi peternakan yang tidak jauh dari rumah, sebelum kedatangan tamu cukup penting. Dokter Cakra, datang menggunakan sepeda motor .
“Dewa maaf aku terlambat”, ucap Cakra menyimpan helm di atas kursi rotan. “Wah, ternyata nona muda ikut, baguslah semakin bersemangat kawanku ini”, kelakar Cakra.
__ADS_1
Dwyne memutar bola mata malas menanggapi ocehan tidak penting dari dokter umum rekan suaminya ini. Berjalan di depan tanpa tahu arah, cukup kesal karena Dewa tak menyusulnya. Namun siapa sangka tiba-tiba seorang pria meraih tangan lembut Dwyne yang menggantung di sisi tubuh.
“DEWA?”, Dwyne tersentak.
Dewa menuntun jalan istrinya menaiki sedikit bukit menuju peternakan, Dwyne yang memang terbiasa dengan medan lapangan tidak merasa kesulitan melangkahkan kakinya. Lagi-lagi dibuat kagum ternyata suaminya ini seorang yang handal dalam berbisnis, Dwyne melihat sebuah bangunan semi permanen luas memanjang, beberapa pekerja sibuk memberi pakan dan membersihkan kotoran sapi. Hewan berkaki empat itu berjajar rapi dan banyak menempati ruangan masing-masing, ada juga beberapa ekor yang di lepas di sekitar bangunan.
“Mau masuk?”, tanya Dewa tetap menggenggam erat tangan sang istri.
“Harusnya aku bawa pasangan ke sini”, keluh Dokter Cakra melihat kemesraan dua insan di depannya. "Tapi sayang siapa perempuannya?", gumamnya.
“Ya”, sahut Dwyne. “Jadi ini yang kamu kerjakan di akhir pekan? Ini bisnismu?”, tanya Dwyne terus menatap kagum dan senang melihat banyaknya hewan besar itu.
“Ya, semua untukmu dan ini milikmu, aku membelinya atas namamu”, Dewa tersenyum di sisi wajah Dwyne.
“Maksudmu?”, Dwyne mengernyitkan alis.
“Benarkah ini untuk ku?”, ucapnya dalam hati senang mendapat hadiah yang sangat berbeda dan luar biasa. “Oh, oke”, tanggapan dingin serta datar keluar dari bibirnya.
Usai membicarakan topik seputar peternakan hingga siang hari, Dewa dan Dwyne berkeliling peternakan wanita ini tertawa lepas saat mencoba memandikan sapi. Dewa senang untuk pertama kalinya melihat sang istri tertawa lepas, bahkan Dwyne mengabaikan kehadiran Dewa di dekatnya. Menikmati suasana yang tak pernah ia dapatkan selama ini. Bahkan putri Rayden Bradley ini turut serta belajar memerah susu sapi ketika hari mulai sore, rasanya tak ingin pulang. Lebih nyaman hidup dengan alam yang masih cukup asri namun apa daya kesibukan di ibu kota memaksanya pulang.
Dewa membukakan pintu mobil untuk Dwyne tapi ketika hendak menutup, tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang. Pusing merambat di kepala Dewa, rasa lelah tanpa istirahat menjalani hari-harinya.
“Dewa, kamu sakit?”, tanya Dwyne.
“Aku baik-baik saja”, Dewa yang akan membuka pintu di sisi lain seketika di tahan oleh Dwyne yang langsung duduk di kursi kemudi.
__ADS_1
“Kamu duduklah disana, biar aku yang menyetir. Aku masih ingin selamat sampai rumah”, ketusnya dan juga merasa sedikit khawatir.
.
.
Tiba di rumah, Dewa langsung berbaring di sofa kamar alas tidur selama ini. Tubuhnya yang lemas dan kepala pusing tak sanggup lagi untuk mengganti pakaiannya lebih dulu.
“CK, seharusnya kamu mengganti baju. Ini kotor Dewa”, kesal pada suaminya tapi Dwyne yang penasaran menyentuh kening Dewa dan melotot mendapati suaminya demam. “Kamu demam”, Dwyne ingat ketika di Villa keluarganya Dewa sakit akibat kehujanan.
“Aku hanya membutuhkan istirahat sebentar, terima kasih sudah mencemaskan aku sayang”
“Ck, siapa yang cemas?, aku tidak mau kamar ini jadi kotor karena kamu belum mengganti pakaian”, gerutu Dwyne.
“Ok, aku ganti”, Dewa berdiri melangkahkan kaki pada walk in closet walau badan remuk dan lelah.
Membuka satu per satu helaian pakaian yang menempel lalu memakai celana panjang, dan menenteng kaus putih di tangannya. Tertatih keluar dari tempat penyimpanan pakaian itu, tersenyum kecil pada Dwyne yang melebarkan kedua mata, membuka mulut karena ingin kembali mengomel pada suaminya tapi sebelum terjadi Dewa lebih dulu menjawab.
“Ini aku pakai”, ucap Dewa yang baru saja mengangkat kausnya
Bruk
Dewa terjatuh pingsan menimpa tubuh Dwyne di atas ranjang, dengan kulit tubuh bagian atasnya menempel erat di kulit Dwyne.
“Dewa, kamu ini cepat bangun”, ketus Dwyne.
__ADS_1
Tak ada pergerakan apapun dari pria yang menindihnya, Dwyne terus mengingat kejadian di villa sangat mirip seperti hari ini. Tubuh Dewa demam serta wajahnya pucat. “Dewa, jangan sakit”, harapan Dwyne di lubuk hatinya.
Tbc