Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 59 - Kencan


__ADS_3

BAB 59


Dua orang yang baru saja menikmati keindahan dunia untuk pertama kalinya ini setelah berbulan-bulan pernikahan, melupakan waktu yang semakin siang. Beruntunglah ini hari libur, kegiatan padat pun tidak menyita waktu, keduanya kembali bergelung di bawah selimut memenuhi ruang kamar dengan suara lenguhan dan peluh yang membanjiri.


“Hah, hah, Dewa aku, aku lelah”, ucap Dywne usai Dewa ambruk dan berbaring di sisinya. “Aku lapar”, lirihnya merasa tak bertenaga.


Bagaimana tidak lapar, mereka melewatkan waktu sarapan hingga menjelang siang. Dewa tidak ingin melepas istrinya keluar dari kamar, bahkan ia meminta izin pada Cakra dan rekan bisnisnya kalau hari ini akan menemani Dwyne di rumah dengan alasan tidak mau ditinggal sendiri, tentu itu hanya akal-akalan Dewa.


“Kamu mau makan apa?”, Dewa menghapus keringat di kening istrinya.


“Apapun, perutku lapar sekali”, lirih Dwyne memberengut.


Dewa tersenyum bahagia, ia senang bisa memiliki wanita arogan ini sepenuhnya, kini tugas Dewa hanya membuat sang istri mengungkapkan isi hatinya.


“Sebaiknya kita mandi, baru setelah itu makan, aku bantu”


“Tidak mau, Dewa. Keluar lah dari kamar dan bawakan aku makanan”, perintah Dwyne.


“Baiklah sayangku”, sebelum beranjak Dewa me-l-um-a-t bibir pink yang semalam hingga siang ini selalu me-d-e-s-ah.


Tidak perlu memasak, Dewa hanya menunggu asisten rumah menghangatkan makanan. Tidak lupa ia pun meminta potongan buah untuk istrinya, karena mulai sekarang Dewa akan mengawasi ketat pola makan Dwyne. Menjaga kondisi tubuh wanitanya agar tidak sakit, Dewa sangat berharap Dwyne segera mengandung buah hati mereka.


“Ini Pak Dokter makananya”


“Iya terima kasih bik”, Dewa membawa nampan berisi buah apel dan anggur, semangkuk sup rumput laut, beef slice brokoli dan rolade ayam kesukaan Dwyne, tidak lupa satu piring nasi.


Beberapa orang asisten rumah hanya tersenyum malu melihat punggung tuannya menjauh. Dewa yang keluar hanya dengan kaos tanpa lengan menampakan tanda merah di bagian lehernya benar-benar tercetak jelas.


“Sepertinya sebentar lagi rumah ini akan ramai oleh tangis bayi”


“Iya aku berharap nona cepat hamil”


“Pasti bayinya kembar”


Dewa memasuki kamar, tersenyum manis dan hangat. Dwyne yang melihat itu sungguh dibuat malu dan beringsut menutup wajahnya dengan selimut tebal.


“Hey kenapa sayang?, katanya lapar, ini”


“Kenapa dia terus menatapku seperti itu?”, gumam Dwyne.


“Sayang, aku suapi saja ya”


“Ja-jangan Dewa”, Dwyne hendak turun dari ranjang namun kembali menyandarkan tubuh polosnya karena tiba-tiba perih di bagian inti, “Aw, sakit”, lirihnya.


“DEWA”, teriak Dwyne salah tingkah, suami tampannya tersenyum geli dan semakin maju mendekati.


“Kam tidak perlu khawatir, rasa sakitnya tidak akan lama”,ucap Dewa.

__ADS_1


“Ya ya aku percaya pada Pak Dokter Dewa. Mana makanan ku?”, ketus Dwyne.


“Ini sayang”, Dewa menyimpan nampan di atas ranjang tepat di depan Dwyne. “Makan yang banyak, aku tahu satu minggu ini makanmu tidak teratur dan tidak pernah menghabiskan makanan”.


“Hem ya, aku ....”


“Ssst, diam sekarang waktunya makan”, jari telunjuk Dewa menyentuh bibir pink istrinya dengan lembut.


Selepas sarapan, Dewa dan Dwyne mandi bersama untuk pertama kalinya. Jangan bayangkan keduanya kembali memadu kasih, karena meskipun prianya ingin tetapi mendapat penolakan dari wanita, lalu bisa apa?. Kenyamanan hal utama bagi Dewa. Ia tidak mau Dwyne menjauh lagi disaat hubungan keduanya telah sedikit membaik.


“Dewa, kamu itu bisa kan fokus?, tidak perlu menyentuh bagian yang lain”, omel Dwyne karena sudah 3 kali Dewa menyentuh area sensitifnya. Padahal suaminya hanya bertugas membersihkan kulit punggung Dwyne.


“Maaf sayang”


“Huh, 3 kali kamu bilang seperti itu, kalau sampai keempat kalinya, aku tidak mau memberinya lagi”, ancam Dwyne masih tetap menjadi dirinya yang arogan dan gemar sekali memberi perintah.


“Maaf Dwyne, aku tidak bisa menahannya”, Dewa membalik tubuh sang istri, memagut penuh cinta bibir tipis dan pink itu. Keduanya hanya saling bertukar saliva saja tidak melakukan penyatuan mengingat Dwyne telah melarang keras suaminya hari ini.


.


.


**


Sepasang suami istri yang lengket seperti pengantin baru padahal usia pernikahannya sudah berlalu berbulan-bulan, berjalan bersama menyusuri pusat perbelanjaan setelah puas menonton film. Dewa mengajak istrinya ini kencan, awalnya Dwyne menolak tapi bujuk rayu Dewa akhirnya mampu membuat nona muda ini keluar dari istananya.


“Mau. Aku pikir orang sehat sepertimu tidak suka makanan manis”, ejek Dwyne.


“Hey kamu juga sehat, aku bukan tidak suka hanya membatasi saja”, jawab Dewa yang mengantri di belakang pengunjung lain.


“Kenapa tidak langsung?, harus antri jadi lama”, keluh Dwyne. “Mereka semua tahu aku, jadi majulah”, perintah Dwyne.


“Sayang, lebih baik kita mengantri saja, tidak lama. Aku tahu keluargamu pemilik mall ini tapi apa salahnya menghargai mereka yang lebih dulu sampai disini, benarkan?”.


“Huh, terserah kamu saja, aku pegal”


Dewa menggeleng kepala melihat tingkah Dwyne yang selalu menggunakan kekuasaannya dimana pun, ia ingin istrinya ini bersikap sewajarnya tak perlu menunjukan siapa diri sebenarnya.


Tidak sampai 15 menit Dewa menghampiri sang istri yang duduk cemberut pada kursi kayu. Karena kesal menunggu Dewa lama hanya membeli es untuknya. Dwyne sangat tidak suka menunggu baginya membuang waktu berharganya.


“Ini sayang”, Dewa berjongkok dengan satu lutut menyentuh lantai mall.


“Hem”


“Jangan marah cantik, kamu mau beli tas?, atau belanja yang lain?”.


“Tidak mau”, seru Dwyne yang memang tidak gemar menghabiskan uang hanya untuk belanja.

__ADS_1


Dewa terus merayu Dwyne yang marah padanya hanya karena mengantri membeli es


“Ayolah Dwyne, ini kencan pertama kita”


“Huh, menyebalkan”, gerutu Dwyne berjalan lebih dulu memasuki pusat permainan untuk menghibur diri.


“Main apa sayang?”, Dewa meninggikan suara dan bicara tepat di sisi telinga wanitanya.


Tunjuk Dwyne pada alat dance yang tengah digunakan oleh pengunjung lainnya, rupanya Dwyne meminta Dewa beraksi di atas alat itu sedangkan dirinya menonton sembari merekam gerakan Dewa dan tertawa.


“Sayang sudah ya”, Dewa kelelahan karena seakan tak puas Dwyne memintanya sampai 3 kali menunjukan aksi di alat itu.


“Sebaiknya kita cari makan malam, kamu lapar kan?”, ajak Dewa merankul pinggang wanitanya.


“Aku mau makan di rumah oma”, ide Dwyne membuat kening Dewa mengkerut.


“Tapi mana mungkin mendadak begini sayang”


“Kita pesan saja makanan”


Sementara Dewa memesan makanan, Dwyne duduk menunggu sembari menghubungi neneknya itu, ia juga rindu Oma Nilla yang selalu membantu Mama Nayla mengurusnya sejak kecil.


“Ayo Dwyne”, Dewa membawa beberapa kantung berisi makanan.


.


.


**


Rumah Oma Nilla


“Dwyne, cucu ku sayang, sini masuk nak”, Oma Nilla memeluk dan mencium cucu dari putri keduanya ini.


Bunda Nayra dibantu seorang asisten rumah tangga merapikan makanan yang dibawa oleh keponakannya, namun matanya sesekali melirik Dayana yang menatap sendu pada Dewa dan Dwyne yang tertawa di ruang keluarga.


Dayana menelan saliva berkali-kali, ia cemburu Dewa merangkul Dwyne sangat posesif padahal mereka berada dalam rumah Oma.


“Jadi kapan, kalian kasih oma cicit?”


Melihat istrinya hanya menunduk diam dan malu, Dewa menjawab pertanyaan Oma Nila dengan bahagia “Secepatnya oma”, mengusap pinggang Dwyne.


“Jangan”, seru Dayana mengalihkan pandangan semua orang di ruang makan dan keluarga.


...TBC...


 

__ADS_1


 


__ADS_2