Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 102 - Gagal Lagi


__ADS_3

BAB 102


Pukul 9 malam Dwyne berjalan gelisah dalam kamar, kakinya ini entah sudah berapa kali hanya berkeliling dalam kamar. Setiap 5 menit sekali pasti melirik jam di atas nakas, lalu tatapannya beralih ke luar balkon. Sengaja Dwyne membukanya, ia menanti seseorang yang selalu membuatnya gelisah beberapa hari ini.


Panggilan telepon dan pesannya tak kunjung mendapat balasan dari Dewa, bahkan pria itu tak membuka aplikasi chat hijau. “Apa sesibuk itu?”, tanya Dwyne, menggerakkan dagu dengan ibu jari tangan kanannya. Dwyne mendaratkan bokongnya pada sofa bed dimana terdapat selimut dan bantal yang biasa digunakan Dewa.


“Dewa, huh kamu menyebalkan”, gerutu Dwyne , menunggu tak pasti kedatangan suaminya. Padahal Dwyne telah siap menyambut Dewa pulang, ia berdandan secantik mungkin dan menggunakan dress terbaiknya, tapi sampai 2 jam lebih menunggu hanya membuat pegal kaki juga kepala.


Terpaksa Dwyne menutup rapat pintu balkon, selain tak ingin rasa dingin semakin menyeruak dalam tulang, dan tubuhnya hanya menggunakan dress dengan bahu sangat terbuka. Menghela napas kasar, 30 menit berlalu Dwyne yang lelah berdiri hampir 2 jam kini memijat tungkai kakinya kemudian menggendong Denver yang menangis.


Rasa lelah fisik serta pikiran dan hatinya selalu berdebat, memikirkan ide-ide untuk mencuri perhatian Dewa. Membuat Dwyne terlelap sembari menggendong Denver dalam pelukannya.


Pintu kamar mulai terbuka, sebelum masuk lebih dalam Dewa tersenyum melihat Dwyne yang saat ini duduk di sofa bed. Tentu saja pria ini hanya bisa menatap bagian belakang wanitanya, rambut coklat panjang dan bagian bahu yang sedikit memanjakan mata.


“Dwyne?”, panggil Dewa tak mendapati pergerakan apapun. Semakin dekat Dewa menghampiri, ia terperangah begitu melihat pemandangan hangat di depannya. Dwyne tidur memeluk buah hati mereka, sigap Dewa memindahkan bayi mungilnya pada box bayi.


“Sayang, tidur yang nyenyak ya. Maaf papa baru pulang”, mencium kepala bayi yang tertutupi topi rajut berwarna biru. Manik hitamnya beralih kembali pada sang istri yang begitu pulas tidur di sofa. Dewa tak ingin Dwyne pegal, menggendong pelan tubuh yang sangat ia rindukan ini. Membaringkan Dwyne pada ranjang besar .


Kening Dewa mengerut mana kala ia menyadari penampilan Dwyne berbeda, padahal ini sudah malam dan jam tidur tetapi istrinya menggunakan dress dan riasan di wajah. Apa mungkin lupa menghapus?, pikir Dewa. Tak ingin percaya diri berlebih jika Dwyne merias dirinya secantik mungkin hanya untuk menyambut Dewa.


“Tidak Dewa, jangan berharap lebih”, Dewa menggeleng kepala cepat, tersenyum kecut. Lalu mengelus pipi sang istri. “Mimpi indah Dwyne istriku”.


Dwyne yang mendengar suara samar-samar gemericik air langsung terbangun, dilihat jam rupanya pukul 12 malam, “Hah aku ketiduran”, pekiknya pelan, mengerjapkan kedua matanya, menyugar rambut dan turun dari kasur empuknya.

__ADS_1


Dwyne yakin Dewa telah sampai di rumah, saat ini sedang mandi. Buru-buru Dwyne bercermin hanya untuk merapikan dan memastikan penampilannya sempurna malam ini. “Argh kenapa harus ketiduran segala”, ia menekuk wajah. Tak bisa dipungkiri wajah bantalnya masih tercetak jelas, tapi tak peduli yang penting bisa menemani suaminya sampai tidur nanti.


“Dwyne?”, panggil Dewa mengejutkan wanita yang sedang menyisir rambut.


“Ya ampun”, pekik Dwyne mengusap dada menggunakan sisir.


“Bukannya tadi kamu tidur? Apa kegiatan ku di kamar mandi mengganggu?”, tanya Dewa, “Maaf, kalau begitu mulai besok aku akan menggunakan kamar mandi di ruang kerja saja”, Dewa yakin istrinya ini mengamuk karena tidurnya terganggu.


“Eh jangan”, spontan Dwyne bergerak mendekat, kenapa suaminya ini malah semakin menjauh. Tidak, tidak akan ia biarkan Dewa semakin membuat jurang pemisah diantara mereka.


“Ummm, Dewa, kamu mau makan? Aku akan membuat sesuatu untukmu”, tawar Dwyne, bergegas keluar kamar. Sementara Dewa menggeleng, tingkah laku wanitanya sangat aneh beberapa hari ini, bukan Dwyne yang angkuh.


Usai memakai pakaian tidur, Dewa menyusul istrinya yang kini tampak sibuk di dapur bersih. Dwyne diam, menunduk lesu melihat lantai. Bingung, ya bingung, dirinya tidak terlatih masak, sampai memecahkan telur saja membuat dapur ini menjadi bau amis.


“Apa makanan untukku sudah selesai?”, suara datar Dewa berhasil mengalihkan Dwyne.


Wanitanya menggeleng lemah tanpa tenaga, begitu lesu tak bersemangat, bukan hanya sekali tapi 6 kali Dwyne gagal memecahkan telur. Jemari berkuku cantik ini pun, beraroma bawang serta bumbu dapur lainnya.


“Dewa, maaf”, lirih Dwyne begitu pelan, ia merasa tidak bisa memanjakan suaminya ini, rupanya menarik perhatian dari seseorang yang kita cintai begitu sulit, membutuhkan tenaga lebih.


Dewa yang tahu istrinya ini memang tak pandai memasak, kecuali jus buah. Menghampiri Dwyne, kedua mata Dewa membola melihat kekacauan yang terjadi, ia tersenyum kaku pada istrinya.


“Duduk saja di sana”, pinta Dewa menunjuk kursi yang tadi ia duduki. Mengambil alih peran Dwyne, Dewa memasak omelette sayur 2 porsi. Tidak butuh waktu lama menyelesaikan semuanya, bahkan ulah Dwyne pun kini bersih tak bersisa.

__ADS_1


“Ini”, Dewa menyimpan piring berisi telur di depan istrinya.


“Yah, gagal lagi”, gumamnya sangat lesu, niat yang telah ia kumpulkan sampai kuku cantiknya kotor harus berakhir sia-sia. Dirinya yang telah mendaki mendekati puncak harus relah terhempas ke lembah.


“Apa Dwyne? Gagal? Maksudmu?”, Dewa yang tidak mengerti, mengajukan seribu tanya dari mimik wajahnya. Tapi tak mau juga ambil pusing, Dewa asyik menyantap makan malam yang tertunda ini.


“Harusnya aku yang melayaninya tapi..... ah sudahlah, huh. Kenapa jadinya seperti ini”, keluh Dwyne di hati. Ia melirik pada dapur bersih yang telah kembali pada keadaan semula, tak ada pecahan telur dan peralatan masak dimana-mana. Dwyne menunduk malu, seolah kompor dan kawan-kawannya itu menertawakan kebodohannya .


“Kalau kamu kenyang, bisa masuk ke kamar dan tidur, kondisi mu harus sehat”, Dewa berdiri membersihakn piring kotor.


“Eh, tidak. Aku lapar, ya lapar”, jawab Dwyne tergesa, jangan sampai Dewa kecewa hasil mamasakannya diabaikan oleh Dwyne.


Dewa mengulum senyum, menyandar pada lemari pendingin besar. Entah apa yang merubah istrinya itu, Dwyne makan lahap sampai mulutnya penuh makanan.


Oh tentu saja, Dwyne menyadari arah pandang Dewa, sampai ia tersedak telur dalam mulutnya.


“Arrrgh sial, aaarghh keterlaluan”, mengumpat dirinya sendiri dalma hati, Dwyne ingin sekali menyumpahi kebodohannya malam ini. Rusak sudah citra anggun dan menawannya di depan mata sang suami.


“Ini”, Dewa menaruh segelah air lemon hangat.


“Te-“, kalimat Dwyne menggantung di udara, perih menusuk raga dan hati, Dewa meninggalkannya di dapur seorang diri, pria itu memilih memasuki kamar secepat mungkin.


“Dewa”, panggil Dwyne geram, bukannya menemani sampai ia menghabiskan minum Dewa melengos begitu saja.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2