Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 117 - Tuduhan Selingkuh


__ADS_3

BAB 117


Satu minggu sudah Dwyne dan Dewa tak saling tegur sapa, Dwyne yang kesal ingin selalu dekat namun egonya lebih tinggi dari langit. Sedangkan Dewa karena kelelahan tak mau ambil pusing, lebih baik menghindar dari pada menimbulkan konflik baru.


Nafsu makan Dwyne buruk belakangan ini, moodnya sangat tidak teratur, berjauhan dari Dewa ternyata tidak mengenakan hati. Suaminya itu juga cenderung acuh dan hanya peduli pada Denver.


“Apa tidak kangen ya?”, Dwyne menangkup kedua pipi dengan dua tangan bertumpu di atas meja. Wajahnya lesus tertekuk, semangat harinya meredup seperti hari tanpa matahari. Setiap hari selalu membolak-balikkan gawai menunggu sesuatu, tentu saja menunggu Dewa menghubunginya lebih dulu.


“Eh ada apa nona? Apa makanannya tidak enak lagi?”, tanya Asisten D setia menemani Dwyne makan siang. Walaupun beberapa kali ia harus menanggung menghabiskan 3 sampai 5 porsi makanan tak jarang dibungkus karena Dwyne memesan sangat banyak.


“Nona?”


“Ayo D, kita ke kantor aku ingin segera selesai hari ini. Hari ini jadi ikut Gym?”, tanya Dwyne seraya merapikan isi tas. Beberapa hari lalu Asisten D ikut olahraga namun karena baru pertama kali hingga tubuhnya merasa sakit dan remuk, belum terbiasa menerima sentuhan besi-besi di gym.


“Jadi nona, sudah cukup membaik”.


.


.


Pukul 4 sore kedua wanita itu tiba di L gym milik Uncle Leo Armend. Dwyne membayar jasa instruktur fitness seorang pria, karena tidak adanya instruktur wanita dengan jadwal kosong pada jam 4 sore.


Dwyne yang memang telah biasa berolahraga hanya memerlukan sedikit bimbingan saja dan pengawasan ketika menggunakan alat-alat berat. Berisiko menimbulkan cidera jika salah posisi dan gerakan. Rasa kesalnya pada sang suami seketika hilang tapi hanya pada saat melakukan aktifitas fisik ini saja, selebihnya Dwyne kesal bukan main pada Dewa.

__ADS_1


“Nona Dwyne, sebaiknya anda menambah berat badan. Asupan kalori jangan dikurangi, saya menghitung berat badan dan tinggi badan anda kurang sesuai”, tutur personal trainer.


“Iya om ganteng, satu minggu ini nona makan sedikit, malah sering tidak makan siang”, jawab Asisten D.


“D !!!”, mata tajam Dwyne semakin menusuk pada asisten kepercayaannya karena membongkar pola makannya belakangan ini.


Entahlah sarapan dan makan malam pun rasanya hambar, air mineral yang biasa ia habiskan cukup banyak kini hanya bisa 3 gelas. Mulut yang terasa masam dan tidak nyaman menjadikan Dwyne enggan hanya untuk melepas dahaga.


Bukan hanya itu, susu yang biasa ia teguk setiap pagi kini dilewati, bau menusuk pada hidungnya. Tidak jarang Dwyne dibuat mual karena mencium bau susu, bahkan aroma susu milik Denver pun 3 kali membawanya masuk ke toilet dan muntah di pagi hari.


Selesai berlatih gym jika kebanyakan orang minum banyak, Dwyne hanya beberapa teguk saja. Ia yang ingin melangkah pulang terpaksa terhenti karena melihat banyaknya member tampan rupawan memasuki area gym.


“Waaah”, binar Dwyne.


“Nona ayo kita pulang”, Asisten D menarik nona mudanya, karena jika tidak Dwyne pasti akan menatap kelima orang itu sembari tersenyum sendiri.


“Nona, kasihan Tuan Muda menunggu di rumah”, D tetap berjuang membawa nona bosnya memasuki mobil dan akhirnya Dwyne ikut melangkah pergi.


Wanita cantik putri Rayden Bradley itu memang gemar mengkoleksi gambar pria tampan di dalam ponselnya. Hal aneh memang 1 bulan selalu senang melihat sosok rupawan, tapi Dwyne juga tidak merasa risih lagi pula hanya menyimpan bukan bermaksud mendua atau lebih.


.


.

__ADS_1


Tiba di rumah Dwyne hanya melirik sekilas Dewa yang tengah bermain bersama Denver di ruang keluarga. Tidak ada lagi kebersamaan bermain bertiga, kini Dewa dan Dwyne gantian mengisi waktu main Denver.


Bayang-bayang Dewa bersama wanita lain selalu teringat jelas di kepala Dwyne kala melihat wajah suaminya itu.


Dewa tidak diam saja, ini sudah terlalu lama mereka saling menyakiti saling menjauh satu sama lain. Ia  putuskan menyusul istrinya ke kamar. “Denver main sama mbak ya, papa mau ketemu mama dulu”.


Namun sepertinya keputusan salah yang diambil Dewa, Dwyne melirik tajam dengan ekor mata, ia benar-benar tidak suka melihat wajah Dewa.


“KELUAR”, usir Dwyne.


“Sayang? Kita harus bicara”


“Aku bilang keluar”


“Dwyne? Katakan salahku apa. Jangan seperti ini sayang”


“Aku benci kamu Dewa, kamu selingkuh ya kan? Dokter mana lagi yang kamu ajak selingkuh?”, teriak Dwyne, tubuhnya bergetar cukup hebat akibat amarah yang keluar.


“Tidak Dwyne, aku tidak pernah selingkuh. Dokter apa maksudmu?”.


“Aku melihat kamu tersenyum pada dokter lain di dalam ruangan, minggu lalu kamu terlihat bahagia bersamanya”, Dwyne memegang kepala yang pening dan berputar.


“Sayang? Kamu kenapa?”

__ADS_1


“SAYANG”, pekik Dewa.


...TBC...


__ADS_2