
BAB 96
Pergerakan Dwyne tertahan dengan tangan Dewa berada di atas paha mulusnya.
“Apa?”, bisik Dwyne tidak mau menarik perhatian keluarga besar yang sedang menyantap makan malam.
“Biar aku yang mengambilnya, kamu mau makan yang mana?”, tanya Dewa.
“Itu, aku mau itu”, tunjuk Dwyne.
“Apapun untukmu sayang”, Dewa membelai paha istrinya lalu segera mengambil makanan yang dimaksud.
Dewa sudah tidak canggung lagi bersama keluarga besar sang istri, ia mudah membaur apalagi sepupu Dwyne dan Dariel gemar bercanda, semakin mengikis jarak diantara mereka.
Setelah makan malam pun Dewa di giring oleh sepupu Dwyne untuk duduk bersama ketiganya di taman belakangan rumah. Sementara Dwyne menggendong Baby Denver duduk di ruang keluarga.
“Nayla, kami pamit, ini terlalu malam, terima kasih jamuan makan malamnya, aku pasti datang lagi”, Samantha memeluk erat tubuh Nayla, begitupun Adam yang mengepalkan tinju dan memukul lemah bahu adik sepupunya.
Stefan dan Steve mengekor di belakang kedua orang tua mereka, karena khawatir suara canda tawanya mengganggu ketenangan Denver yang tertidur lelap.
“Dwyne, sebaiknya kamu bawa Denver ke kamar, tidurkan dia supaya badannya tidak pegal”, saran Mama Nayla.
“Iya mah”
Dewa bergegas menyusul sang istri, mempercepat langkah kaki agar sampai lebih dulu dan ya dengan napas terengah Dewa membukakan pintu kamar bercat putih untuk istrinya.
“Silahkan masuk mama dan anak kesayangan papa”, manis Dewa.
Menutup pintu perlahan, dan menguncinya, ia harus bicara berdua dengan Dwyne dan lelah rasnya didiamkan wanita lama seperti ini.
“Sayang, Dwyne . Aku ingin bicara denganmu”, tatapan serius Dewa ditangkap oleh istrinya.
“Apa? Katakan saja Dewa, aku tidak suka basa basi”, melipat tangan depan dada, duduk bersandar di headboard.
__ADS_1
Dewa meminta maaf untuk kesekian kalinya, hingga menekuk lututnya dan berjonkok di sisi sang istri, meraih tangan Dwyne menggenggamnya erat. Bukan hanya Dwyne yang sakit, namun ia juga sakit apalagi selalu mendapat penolakan.
“Sayang, aku mohon, maafkan aku”, lirih Dewa.
Namun dalam lubuk hati terdalam, Dwyne telah memaafkan suaminya ini, hanya saja ia masih merasa kehilangan Dafa. Seketika tangis pun mengalir di wajah cantiknya, mengingat bagaimana perjuangan melewati hari demi hari selama kehamilan yang berat, lalu pada akhirnya salah satu bayi kembarnya tidak selamat.
“Dwyne, aku juga sedih. Kehilangan Dafa memang tidak mudah, tapi bukan berarti pernikahan kita jadi sepeti ini, sayang aku mohon”, lirih Dewa.
“Aku masih perlu waktu untuk menerima semuanya Dewa”, isak tangis Dwyne.
“Baiklah, tapi satu hal yang aku tegaskan. Aku akan tetap bersama kalian kemana pun kamu pergi, karena Arkatama anakku juga”, Dewa mengambil bantal dan selimut menatanya di atas sofa.
.
.
Satu minggu sudah Dewa melalui hari-harinya di rumah ini dengan tatapan tajam dan dingin dari istrinya. Percakapan hangat pun tidak ada diantara mereka. Dwyne mulai tetap menjaga jarak dari suaminya. Meskipun Dewa tak pernah absen memberi bunga bahkan sejuta perhatian diberikan, rasanya percuma dan buang-buang tenaga.
“Dwyne, jam berapa pulang?”, tanya Dewa pada istrinya yang mulai aktif berkerja sejak satu minggu yang lalu.
“Tidak, aku pulang malam hari ini, ada pekerjaan yang harus di selesaikan”, imbuh Dewa membenarkan kancing kemejanya. Duduk di tepi ranjang ikut memandangi Denver dalam tidur, "Kamu tidak apa di rumah sendirian? Hari ini papa dan mama ada acara pertemuan di Bandung kan? Pengasuh anak kita juga izin pulang dua hari ini”, sambung Dewa khawatir istrinya lelah hingga tak memperhatikan bayi mereka.
“Kamu tenang saja Dewa, aku sudah biasa sendirian”, Dwyne memangku bayinya dan memindahkan ke box bayi di ruang keluarga. “Sayang mama berangkat kerja dulu ya, kamu baik-baik di rumah”, mencium gemas pipi gembul Denver.
Dewa pun mengikuti apa yang dilakukan Dwyne, “Papa juga berangkat ke rumah sakit, Denver anak kuat, yang baik ya hari ini. Papa menyayangimu”, mencium kening putranya dan refleks mencium pipi Dwyne, “Papa juga mencintai mama”.
“Ish, Dewa apa yang kamu lakukan?”, mendorong suaminya lalu bergegas pergi ke kantor, Asisten D yang telah menunggu menyambut nona mudanya penuh senyum.
“Silahkan Nona, rapat pagi ini dimulai di gedung XX, dan kita segera ke lokasi untuk menghindari keterlambatan”.
Sedangkan Dewa masih memberi petuah pada asisten rumah yang membantu menjaga Denver, “Jangan lupa berikan dia susu dan ganti diapersnya”
__ADS_1
“Baik tuan”, jawab dua orang serempak, karena mereka berdua yang akan mengasuh Denver dua hari ini.
Usai memberi banyak pesan pada asisten rumah tangga, Dewa melangkah kaki ke garasi dan mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dewa teringat bayangan semalam saat Dwyne terbangun mendengar Denver menangis. Wajah bantal yang benar-benar ingin dikecupnya namun untuk saat ini hanya bisa dipandangi saja, ia pun tersenyum sembari memegang setir.
“Lihat Dwyne, bayanganmu memenuhi kepala dan hatiku. Tolong jangan buatku seperti ini sayang”, gumam Dewa.
Sampai di rumah sakit Dewa sangat sibuk dengan pasien yang seolah silih berganti memasuki IGD mulai dari gejala ringan hingga memerlukan waktu dalam pemeriksaannya. Dewa menyimpan tas dan mengambil ponselnya memasukan ke dalam saku kemeja.
“Dokter, pasien dengan riwayat serangan jantung membutuhkan penanganan segera”, panggil perawat pada Dokter Dewa.
“Iya”, langkah cepat Dewa menangani pasien tersebut.
Sementara Dwyne sampai siang menjelang sore ini masih sibuk bekerja di lapangan, bertemu beberapa distributor dan pihak market place cukup menyita tenaga, hingga ia dan asisten D duduk beristirahat di cafe milik Papa Ray.
Namun tangannya masih bergerak memeriksa lembar demi lembar berkas yang di bawa, membaca ulang materi yang akan disampaikan sore ini di kantor. Asisten D pun sibuk mencatat apa yang nona bosnya katakan.
Dwyne mencuri pandang pada smartphone di atas meja kayu, beberapa kali dipandangi tak juga berdering menandakan panggilan dari seseorang yang ditunggunya. Memang sudah satu minggu ini Dewa lebih acuh dan tidak lagi mengirimnya kabar di siang hari dengan alasan sibuk.
“Kemana sih?”, Dwyne mendengus kesal, ingin sekali memaki benda pipih tak bersalah itu.
“Kenapa nona, apa anda membutuhkan sesuatu?, tanya Asisten D sembari membenarkan kacamata.
“Tidak, ada. Lanjutkan , 10 menit lagi kita kembali ke kantor”
Entalah, Dwyne seperti remaja labil yang ingin Dewa tak berhenti mencintainya dan merubah sikap perhatiannya namun dirinya sendiri tetap memasang jarak dari sang suami.
Tiba-tiba ponsel itu berdering, sigap Dwyne memegang dan memeriksanya namun ia terdiam ketika membaca siapa yang menghubungi.
“Iya ada apa apa?”
“APA? SEJAK KAPAN? Tunggu aku dan siapkan semuanya”, ucap Dwyne tegas segera pergi dari cafe.
“Asisten D cepat”, perintah Dwyne pada asisten yang kerepotan membereskan peralatan di atas meja.
__ADS_1
...TBC ...