
BAB 41
Setelah mengirimi sang istri pesan, Dewa kembali memeriksa pasien di IGD bersama Dokter Cakra dan dokter jaga lainnya. Sedangkan Dayana dan Sania diberikan waktu istirahat karena kedua wanita itu tampak kelelahan. Dewa yakin Dwyne telah lelap dalam alam mimpi makanya hanya memberi kabar berupa pesan, sebenarnya sangat ingin melihat wajah cantik wanita bermanik coklat itu meskipun melalui layar ponsel.
“Ayo Cakra”, panggil Dewa melihat rekannya duduk bersandar pada kursi kayu.
“Sudah teleponnya?, benar-benar hebat kamu Dewa bisa menaklukan nona muda itu. Dulu aku mengagumi Nona Dwyne tapi karena sikap angkuhnya, lebih baik hanya menjadi penggemar dari pada mendapat penolakan mentah-mentah”, gurau Cakra yang memang menyukai istri rekannya.
“Hey, cinta itu perlu perjuangan, dan aku tidak suka kau masih memiliki perasaan untuk istriku”, Dewa memukul pelan punggung Dokter Cakra.
“Santai Bro Dewa, lagi pula aku bukan perebut istri orang”, Cakra mengusap punggungnya yang terasa perih. "Ternyata kau ini suami posesif Dewa", lanjut Cakra.
"Bagaimana tidak posesif memiliki istri seperti Dwyne, sainganku bukan hanya dirimu tetapi pengusaha muda yang selalu ada di sekitar istriku", curhat Dewa.
"Semangat lah bro", Cakra menepuk lengan Dewa.
Ketiganya pun menyebar melihat kemajuan dari pasien yang mendapat perawatan, Dokter Dewa langsung sibuk membantu beberapa pasien yang hendak dipindah ke ruang perawatan, serta rumah sakit lain berdasarkan rujukan dokter spesialis.
Sampai pagi terus silih berganti pasien baru berdatangan dengan beragam penyakit serta luka-luka di tubuhnya. Karena rumah sakit ini baru berdiri satu bulan yang lalu sehingga belum banyak dokter bergabung dan peralatan penunjang pemeriksaan kesehatan belum lengkap.
“Dokter Dewa”, panggil Dayana cukup panik.
“Ada apa?”, tanya Dewa tersentak dengan Dayana yang menarik tangannya.
Ternyata seorang anak mengalami kejang juga demam tinggi, Dewa langsung menangani anak perempuan di depannya bersama Dayana yang datang membantu. Di balik tirai, Dokter Cakra yang tidak terima karena pasiennya di periksa oleh ketua kelompok merasa geram. Pria ini menunggu Dewa di dekat meja informasi, untuk bicara tegas pada suami dari Dwyne Bradley.
__ADS_1
“Dokter Dewa?”, panggil Cakra.
“Ya, Dokter Cakra? Ada apa?”
“Bukankah anda telah membagi tugas, dan pasien disini terbagi siapa saja yang menanganinya?, kenapa anak kecil tadi anda yang memeriksa, sedangkan itu pasien dokter lain. Seharusnya sebagai ketua kelompok anda lebih paham”
“Jadi karena masalah itu kau marah?”, Dewa menggelengkan kepalanya. “Kau tahu Cakra, pasien mu itu mengalami demam tinggi disertai serangan jantung, mana mungkin aku memanggil mu lebih dulu untuk melakukan pemeriksaan sementara jarak ku dengan pasien sangat dekat. Sebagai dokter sudah tugas kita melayani dan merawat orang sakit tanpa memandang siapa itu dan pasien dokter siapa, karena ada nyawa yang lebih penting”, jelas Dewa panjang lebar, matanya menatap tajam pada rekan kerja sekaligus bisnisnya ini. Dewa menahan emosi, sebenarnya bisa saja ia memukul Cakra yang mencari masalah hanya karena hal sepele.
Dayana yang melihat dua dokter seniornya beradu pendapat menghampiri Dewa dan memberinya satu botol air mineral.
“Dokter Dewa, ini diminum”
“Terima kasih Dayana, sebaiknya kamu tetap berada di dekat Dokter Cakra”, Dewa tak ingin hanya karena masalah tidak penting dirinya kembali bertengkar dengan Cakra.
**
Rumah Dewa dan Dwyne
Dwyne tersenyum, menggulir layar ponselnya. Setelah membaca pesan chat dari Dewa ia pun tertidur tanpa membalasnya lebih dulu. Dengan ponsel yang dipeluk, sebagai tanda jika Dwyne merindukan suaminya.
Seperti meminum obat tidur Dwyne baru bangun ketika pagi hari, membuka kedua matanya dan melirik ke arah sofa. “Kosong”, gumamnya kecewa. Membersihkan diri dan bersiap berangkat ke perusahaan.
Dwyne yang baru saja selesai berdandan, kembali terkejut mendengar dering ponselnya, ia pun dengan malas melihat siapa yang pagi sekali telah mengganggunya. Seketika dua bola mata melebar melihat Dewa menghubungi.
Dwyne : “ Ya ada apa?”, tanya Dwyne tetap dingin dan datar.
__ADS_1
Dewa : “Selamat pagi cantik, pasti kamu sudah selesai mandi ya. Ada meeting dimana hari ini?”
Dwyne : “Perusahaan XX”
Dewa : “Semoga tidak sampai malam ya, kemarin aku menelepon mu tapi kenapa tak ada jawaban sayang?, apa kamu sibuk Dwyne?”
Dwyne : “Hem ya”
Dewa “ “Bukan masalah yang penting tetap menjaga kesehatan, dan jangan lupa......”
Dwyne : “Kamu terluka? Bertengkar dengan seseorang?, bibirmu memar”
Dewa : “Ya, tapi sudah lebih baik, tenang saja. Apa kamu khawatir bibirku terluka karena tidak bisa mencium mu lagi?”
Dwyne : “ Dewa, lebih baik aku tutup panggilan video ini”
Dewa : “Jangan sayang, Dwyne aku merindukan mu. Satu hari tanpamu ternyata berat”
Dwyne hanya mendengarkan saja kata-kata yang keluar dari bibir memar suaminya, sesungguhnya ia pun rindu kehadiran Dewa namun urung dikatakan mengingat egonya masih setinggi langit.
Dewa : “Sayang sudah dulu ya, nanti aku hubungi lagi. Aku mencintaimu Dwyne Juliette Bradley istriku”
Dwyne hanya membalas dengan tatapan datar dan dingin pada layar benda pipihnya, tak menjawab atau tersenyum pada Dewa yang mungkin menunggu semangat darinya.
Tbc
__ADS_1