
BAB 77
Mendengar pertanyaan yang ditujukan untuknya, Dwyne menggigit bibir bawahnya. Ia bingung harus menjawab apa, lidahnya begitu kelu dan bibir terkunci rapat.
“Katakan sayang, hal apa yang membuatmu ingin bertemu dengan Dayana hingga kalian bertengkar?”, Dewa membelai rambut wanitanya.
“Dewa sebaiknya cepat kita ke kamar, aku ingin istirahat”, ucap Dwyne lemah, ia benar-benar ragu mengatakannya pada Dewa, apalagi saputangan itu, pikiran Dwyne kembali menerawang jauh bahwa Dewa memang memiliki ketertarikan pada Dayana, lalu kenapa menolong kakak sepupunya sampai sejauh itu. Dwyne belum siap mendengar semuanya, lebih baik alasan pertengkarannya di sembunyikan.
“Pelan-pelan sayang”, Dewa membantu Dwyne merebahkan tubuh di atas ranjang rumah sakit.
“Tidurlah, aku akan menemanimu sampai tertidur”, Dewa mencium pipi dan tengkuk wanitanya, lalu mengusap perut dan menggenggam erat tangan Dwyne.
“Maaf jika kamu bangun nanti aku pergi, aku harus ke Universitas dan praktik di klinik, tapi kita akan selalu terhubung melalui telepon, tidurlah sayang”.
Keduanya saling bertatap, Dewa mengulas senyum hangat pada wanita yang kini sedang mengandung anaknya, sedangkan Dwyne masih bingung akan perasaannya pada Dewa. Dwyne masih memerlukan waktu untuk mengukuhkan hatinya.
“Dewa, aku mohon jangan dekat dengan wanita lain”, kalimat yang tertahan di bibir. Lama keduanya terbuai dalam pikiran masing-masing, akhirnya Dwyne terlelap tidur.
Perlahan Dewa melepaskan tangannya, sungguh berat meninggalkan wanita ini, wanita yang telah membuat perasaannya campur aduk, wanita yang selalu membuatnya seperti menaiki roller coaster, menenangkan dan tiba-tiba Dewa harus menghadapi kehidupan pernikahan begitu rumit.
“Sayang, aku pergi dulu”, mengecup daun telinga Dwyne.
“Kalian harus sehat dan jaga mama ya”, berbisik di depan perut yang tertutup selimut.
Dewa berjalan menemui Mama Nayla dan Denna yang duduk di ruang tamu.
“Ma, Dewa titip Dwyne, terima kasih mah”, tatapan Dewa beralih pada Dwyne, berat melangkahkan kaki keluar.
“Tenang Dewa, kamu belajarlah dan cepat lulus. Percayakan Dwyne pada Mama dan Denna”, kali ini Mama Nayla bersikap lembut.
“Terima kasih ma”, keluar ruangan dan bergegas ke Universitas.
“Ma, kenapa baik banget sama kakak ipar?”, tanya Denna setelah Dewa pergi.
“Bukankah kakak ipar sudah mengkhianati kakak?”
“Aw, mama sakit”, Denna mendapat cubitan di pipinya.
“Mama mendengar penjelasan papa berulang kali tentang kejadian di hotel sebenarnya Dewa hanya menolong Dayana dan membawanya ke kamar karena Dayana tidak kuat berdiri bahkan berjalan. Hanya saja yang sulit kami percayai apa yang terjadi dalam ruangan karena tidak ada CCTV”
“Tuh kan benar ma”
“Denna, mama percaya papa dan Dariel, tidak lama setelah Dewa dan Dayana memasuki kamar, Bunda Nayra masuk kan? Dan mereka masih tertutup pakaian, memang kemeja dan rambut Dewa basah, lalu Dayana hanya memakai bathrobe, tapi jika terjadi sesuatu pasti ada yang ditemukan di atas ranjang terutama seprei, petugas kebersihan hotel tak menemukan apapun”, jelas Mama Nayla.
“Maksud mama apa yang harus ditemukan?”, tanya gadis berusia 17 tahun ini dengan polos.
__ADS_1
“Ah ya sudahlah, untuk apa bicara denganmu, kamu belum paham”, Mama Nayla menghela napas.
.
.
Sore hari Dwyne terbangun, ia kecewa tak mendapati Dewa berada di kamar padahal jelas sekali Dewa mengatakan kemana tujuannya siang sampai malam hari, jika bukan karena mengemban tanggung jawab, ia pun enggan meninggalkan wanita yang sangat dicintainya.
“Kenapa tidak ada telepon dari Dewa”, Dwyne cemberut selalu menggulir layar pada smartphone-nya.
“Dewa menghubungi mama sekitar 2 jam lalu, kamu kan tahu Dewa masih di Univeritas pasti jam belajarnya belum selesai”, jelas Mama Nayla sembari mengupas buah.
“Tetap saja seharusnya mengirim pesan padaku ma, bukan seperti ini, huh”, keluh Dwyne.
“Apa kakak mencintai kakak ipar?”, celetuk Denna tanpa basa basi, seketika mendapat sorot tajam dari Dwyne.
“Memangnya aku salah bertanya? Hanya ingin tahu, kakak itu seperti seseorang yang sedang jatuh cinta”, lanjut Denna.
“Ish, kau itu anak kecil, berisik sekali”, umpat Dwyne.
“Aku salah dimana ma? Benar kan ma apa yang aku katakan?”, Denna mencari pembelaan dari Mama Nayla.
“Huh, kalian ini”, berisik namun sangat dirindukan oleh Mama Nayla apa lagi bulan depan Denna harus kembali ke Inggris bersama kedua mertuanya.
Denna tersenyum puas mendengar jawaban mamanya, “Nah benarkan”.
Perdebatan antara adik kakak itu terhenti saat ponsel Dwyne berdering, menampilkan nama ‘Dewa Si Menyebalkan’ pada layar.
“Dewa”, gumam Dwyne merapikan rambutnya yang berantakan, dan meminum segelas air agar bibirnya tidak terlihat kering.
“Hah, seperti itukah orang jatuh cinta?”, kata Denna.
“Kau tunggulah di sana, jangan menguping”, Dwyne menunjuk ruang tamu yang terhalang dinding.
“Ehem”, wanita cantik istri Dewa Bagas Darka berdeham sebelum menerima panggilan video.
Dwyne : “ Ya Dewa, ada apa?”
Wajahnya tetap datar dan suaranya dingin tanpa intonasi, tanpa Dewa tahu Dwyne senang luar biasa mendapat telepon darinya.
Dewa : “Sayang, hah baru beberapa jam pergi sudah kangen. Kamu lagi apa?”
Dwyne : “Bangun tidur dan mau makan buah, mama sedang mengupasnya”
Dewa : “Tidak ada keluhan kan? Aku harus ke klinik Bogor, maaf tidak bisa menemani kamu seharian”
__ADS_1
Dwyne : “Bukan masalah, kamu bekerjalah dengan baik”
Dewa : “Iya sayang, kelasku sudah selesai dan sekarang aku akan berangkat ke Bogor, kamu mau oleh-oleh apa?”
“Kamu, aku ingin kamu cepat sampai disini Dewa”, kata hati Dwyne yang hanya menginginkan prianya segera kembali.
Dwyne : “Apa saja, aku suka semua mungkin”
Dewa : “ Baiklah sayang, tunggu aku. Aku mencintaimu istriku Dwyne Juliette”
Dewa mengulas senyum sebelum mengakhiri sambungan video.
“Aduh, ternyata menantu mama sangat romantis ya, sama sepeti papa dulu, mama jadi kangen papa kalian”, Mama Nayla tersipu malu.
“Mama mulai lagi”, malas Dwyne karena kedua orang tuanya ini meski tidak muda lagi tetap memamerkan kemesraan dimana pun dan kapanpun.
.
.
Menjelang pukul 10 malam, akhirnya Dewa tiba di rumah sakit. Pria ini berjalan tergesa-gesa mendapat kabar dari Denna bahwa istrinya tak mau makan dan memilih tidur, hingga Dewa harus mengakhiri jam praktiknya lebih cepat.
“Hah, hah”, napas Dewa memburu, ia menetralkan detak jantungnya lalu masuk dengan sesuatu di tangan.
“Dewa, akhirnya kamu datang, Dwyne tidak mau makan sedikit pun”, cemas Mama Nayla.
Dewa mendekat pada istrintya yang sedang tidur miring dan memunggunginya, “Sayang, Dwyne, kamu sudah tidur?”
Dwyne yang terbangun beberapa menit lalu masih enggan membuka kedua matanya.
“Sayang, kamu belum makan ya? Aku suapi mau ya”, Dewa mencuci tangan lalu kembali mendekati ranjang.
Seketika Dwyne memutar tubuh dan langsung menatap senyum manis di wajah suaminya, “Ini untuk mu sayangku”, memberi satu buket bunga anyelir merah dan putih untuk wanitanya.
...TBC...
...****...
...dah ya lanjut besok lagi ...
...😁...
^^^dukungannya ditunggu sama aku 🥰🥰^^^
__ADS_1