Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 27 - Genggaman


__ADS_3

BAB 27


Dwyne menatap malas pada suaminya ini karena tetap bersikukuh ingin berada di dekatnya padahal jarak sofa dengan ranjang pun tidak terlalu jauh hanya beberapa langkah. Ia memutar bola mata lalu memunggungi suaminya itu dan memejamkan mata.


“Dwyne?”


“Hem”


“Dwyne?”


“Apa?”


Dokter tampan ini sangat senang menjahili istrinya, melihat dan membuat Dwyne kesal menyenangkan bagi Dewa. Setidaknya ada interaksi diantara keduanya yang cukup sulit Dewa dapatkan.


Mata Dwyne mulai terpejam, pengaruh obat menjadikannya semakin mengantuk. “Dwyne, kenapa kamu belum tidur?”.


“Dewa, seharusnya sebagai seorang dokter kamu lebih paham kalau mengganggu pasien itu tidak dibenarkan”, ucap Dwyne emosi.


“Aku hanya merindukanmu, Dwyne. Baiklah sekarang kita istirahat”, Dewa menyentuh kepala istrinya walau hanya sesaat, ia beranjak dari brankar dan mulai membaringkan tubuhnya di atas sofa.


Beberapa jam berlalu Dewa masih belum bisa nyenyak tertidur, selain sofa yang tak nyaman ia pun memikirkan Zayn telah lancang menyentuh tangan istrinya. Dewa tidak rela wanitanya disentuh pria lain, apalagi selama ini dirinya tahu persis jika sang istri bukanlah wanita yang mudah tersentuh oleh pria baik fisik atau perasaannya. Sembari memandangi punggung istrinya, kedua tangan Dewa mengepal kuat bayangan bagaimana Zayn berusaha dekat dengan istrinya. Bahkan ketika pesta resepsi pernikahannya pun Zayn selalu mengamati istrinya dari jauh dan membuntuti setiap pergerakan Dwyne, itu sebabnya Dewa merengkuh istrinya sangat posesif.

__ADS_1


Pernikahannya boleh karena perjodohan dan keterpaksaan, juga status sosial keduanya yang berbeda jauh, tetapi setelah mengucap janji pernikahan saat itu juga Dewa seorang suami yang menginginkan istrinya hanyalah miliknya dan untuknya, ia pun akan menjaga wanitanya dari apapun, penolakan Dwyne tak pernah membuat jera untuk menyerah mendapat cinta wanita yang kini terbaring di ranjang rumah sakit.


Selama berjauhan dari Dwyne hati dan pikiran Dewa menjadi tidak sinkron, pria itu seperti tak memiliki semangat hidup. Apalagi Dwyne pergi tanpa pamit, hal itu masih ingin ditanyainya, padahal jelas sekali mereka bersama satu hari sebelum istrinya berangkat, Dewa pun tiba-tiba ingat jika Dwyne mengatakan hendak pergi bersama Zayn tapi tak menyebutkan tujuannya, Dewa pikir itu hanya untuk memanasi hatinya saja tapi ternyata tidak.


Karena masih sangat rindu pada wanita arogan ini, Dewa berjalan memutari ranjang dan memindahkan kursi hingga wajah cantik dan damai istrinya bisa ia nikmati tanpa harus berdebat lebih dulu.


“Dwyne”, tangan Dewa begitu berani menyentuh pipi mulus itu dan melabuhkan belaian lembut tanpa istrinya merasa terusik, lalu jemarinya beralih pada bibir pink yang selalu memberikan kata-kata pedas padanya. Namun Dewa tersenyum mengingat pertama kali ia menikmati benda kenyal itu saat istrinya tidak sadar, dan itu amat memabukkan baginya.


Tak terasa hari semakin cepat berlalu dan waktu pun cepat berganti, Dewa tertidur di atas kursi dengan posisi badan membungkuk menahan serta menyandar pada ranjang rumah sakit. Dwyne perlahan membuka matanya sedikit terganggu oleh sinar mentari yang masuk, “Dewa?”, tangannya tak sengaja menyentuh kepala dengan rambut hitam milik Dewa Bagas Darka.


“Kenapa dia tidur disini?, bukankah semalam di sofa?”, Dwyne pun menyadari jika suaminya sengaja , bahkan memindahkan posisi kursi sehingga keduanya saling berhadapan. “Ck, tidak sopan”, merasa tak nyaman di tatapi oleh suaminya namun apa boleh buat hal itu telah tejadi beberapa jam yang lalu.


“Dewa, bangun. Dewa”, menggoyangkan kepala suaminya secara perlahan. “Dewa apa badanmu tidak pegal tidur seperti ini?, Bangun”, masih tetap mengganggu suaminya.


“Sayang?, hah lagi-lagi kau bermimpi kekasihmu. Lepaskan tanganku”, berusaha menarik tangannya dari genggaman Dewa, “Lepas, Dewa ini aku Dwyne bukan kekasihmu”, terus menarik tangannya namun Dewa tak membiarkan itu, sedikitnya ia menikmati punggung tangan istrinya menyentuh bagian kulit pipi memberi kehangatan tersendiri bagi Dewa.


Sebal tak kunjung dilepas juga, Dwyne memilih suatu ide untuk suaminya. “Ahh Dewa kepalaku pusing, Dewa”, lirih Dwyne dalam hati tertawa melihat suaminya langsung bangun dan berwajah bantal sigap memeriksa keadaan Dwyne Bradley.


“Katakan, dimana yang sakit?, seperti apa rasanya? Sejak kapan?”, Dewa menyentuh kepala istrinya menggunakan dua tangan.


“Sudahlah lepas”, menyingkirkan kedua tangan suaminya.

__ADS_1


“Tidak bisa, aku akan meminta dokter yang merawat mu untuk melakukan MRI”, panik Dewa tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya.


“Ish, kau itu berlebihan. Aku tidak merasakan apapun Dewa”, seru Dwyne.


“Jangan bohong Dwyne, jujur saja akan lebih baik dan cepat penangananya. Aku khawa.....”


Dwyne duduk sembari melotot pada suaminya ini, “Aku tidak apa-apa, aku hanya menjalankan ide supaya tanganku terlepas dari mu”, mengangkat sedikit dagunya.


Dewa menempelkan satu tangan pada keningnya, terasa pusing bangun tiba-tiba hanya karena Dwyne mengerjainya. “Tapi seharusnya tidak perlu mengatakan kepalamu pusing kan?”, ucap Dewa.


“Kau tidak mau melepas tanganku, ya apalagi yang harus aku lakukan”, menaikan sebelah bahunya, lalu turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membuang apa yang ditahannya sedari tadi.


“Dwyne mau kemana?”, Dewa menahan tubuh istrinya supaya tidak beranjak dari kasur pasien yang seperti kasur hotel ini.


“Lepas Dewa, aku itu ingin buang air kecil, huh”, keluh Dwyne menatap geram pada suaminya ini.


“Jika aku bukan Dewa Bagas Darka, apa boleh menyentuh mu, Dwyne, istriku?”, suara datar Dewa menghentikan langkah Dwyne diambang pintu. Berbalik menatap suaminya dan mengerutkan dahi karena tidak mengerti apa maksud ucapan suaminya ini.


Tbc


 

__ADS_1


 


__ADS_2