Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 82 - Terbalas


__ADS_3

BAB 82


“Dwyne, sayang kamu tidak apa-apa kan?”, Dewa menelisik istrinya dari atas ke bawah memastikan tidak ada luka sedikitpun.


“Kamu ini kenapa Dewa? Tumben pulang lebih cepat”, tanya Dwyne melihat suaminya bernapas terengah-engah.


“Dwyne, jawab. Tidak ada yang terluka atau sakit kan?”, tanya Dewa bernada cemas.


Dwyne menggeleng pelan dengan terus memperhatikan Dewa yang nampak kelelahan, berinisiatif memberikan satu botol air mineral untuk suaminya. “Ini, untukmu”.


“Terima kasih sayang”, Dewa memeluk Dwyne erat.


“Dewa aku tidak bisa bernapas, lepas”


“Maaf sayang, apa Dayana menemui mu? Apa yang dia katakan?”, tanya Dewa begitu menggebu.


Dwyne tertawa pelan lalu menutup mulutnya, Dewa tergesa ke kamar hanya karena melihat Dayana, dan pastinya khawatir jika wanita itu mengatakan sesuatu yang akan menambah beban pikiran Dwyne kemudian berakibat buruk bagi kandungan sang istri.


“Tidak ada”, jawab Dwyne begitu santai, kedua manik indahnya berkedip dengan bulu mata lentik semakin menambah cantik wajahnya.


“Sayang, apa yang Dayana katakan? Aku bersumpah tidak pernah menyentuhnya, hanya kamu Dwyne wanita yang ku sentuh dan aku cintai. Aku berani......”, kedua bola mata hitam Dewa tersentak mendapati Dwyne menatapnya dengan sangat intens dan jari telunjuknya mendarat cantik di bibir Dewa.


“Aku percaya, percaya apa yang dikatakan Dayana”, ucap Dwyne menunjukan tatapan yang tak biasa, sontak Dewa membuka mulut ingin mengeluarkan banyak kata, namun Dwyne meraup bibir suaminya, menyesap lembut, hingga membuat Dewa terbuai akan sentuhan mendadak sang istri.


Tangannya pun sudah melingkar di pinggang Dwyne dan satu tangan menahan tengkuk wanitanya, bolehkah ia senang dengan kejutan dari istrinya ini? Tentu saja Dewa berbunga-bunga.


Bahkan keduanya di terbakar gairah yang membara dalam diri masing-masing, Dewa menggendong wanitanya ke arah kasur mereka, dan menurunkan Dwyne sangat hati-hati. Tanpa melepas pagutan, tangan Dewa begitu mahir meloloskan gaun tidur dari tubuh istrinya sedangkan Dwyne mengikuti nalurinya dan membuka kancing kemeja hingga kain penutup atas milik suaminya terjatuh ke lantai.


Dewa melepaskan diri, menatap dalam wajah Dwyne yang begitu menggoda dengan kecantikannya apalagi tubuh bagian atas tak ada penghalang.


“Dewa?”, panggil Dwyne.


“Ya sayang?”, Dewa menatap penuh puja pada wanitanya, memainkan anak rambut Dwyne dan memasukkannya di balik daun telinga.


“Katakan sayang, ada apa? Jangan ragu, aku mencintaimu Dwyne istriku”, Dewa tersenyum lalu menyesap bibir pink di bawah kuasanya.


“Aku juga”, jawab Dwyne begitu ambigu bagi Dewa.


“Hah, apa? Aku juga apa sayang?”

__ADS_1


“Aku juga ummmm, aku juga....... juga mencintaimu Dewa”, kata-kata yang Dewa tunggu sejak hari pernikahan mereka dan kini Dwyne mengucapkannya, membalas perasaannya.


”Sayang, apa ini nyata? Aku ingin mendengarnya sekali lagi”, wajah Dewa berbinar mendengarnya.


“Dewa, huh. Apa kamu tidak tahu betapa susahnya aku mengucapkan kata-kata itu?” batin Dwyne malu.


“Aku mencintaimu Dewa Bagas Darka”, suara lembut Dwyne.


Dewa tidak tahu harus mengatakan apa saat mendengar untuk ketiga kalinya, “Dwyne, sayang”, binar bahagia yang bercampur gairah semakin membara di dalam kamar, Dewa pun tak sabaran membuka celana panjangnya, kembali menatap Dwyne penuh cinta.


Mulai memposisikan diri untuk melakukan penyatuan, “Ah sayang, aku lupa, maaf”, ucap Dewa begitu frustasi karena Dwyne masih dalam masa pemulihan.


“Ah, Dewa maaf aku juga tidak mengingatnya”, cicit Dwyne merasa bersalah pada suaminya, apalagi wajah Dewa begitu kecewa.


“Tidak sayang, seharusnya aku bisa menahan diri”, pria ini tidak marah sama sekali, membantu Dwyne menggunakan gaun tidurnya.


“Aku mandi dulu sayang”, mengecup puncak kepala sang istri dan segera masuk dalam kamar mandi, membersihkan tubuh sekaligus melakukan ritual memalukan baginya.


“Aaaah Dwyne”, erang Dewa di bawah guyuran shower usai menuntaskan sesuatu yang seharusnya terjadi di atas ranjang.


“Dewa, kenapa kamu bisa lupa kalau Dwyne harus bedrest, malah jadi menyiksa diri sendiri”, keluh Dewa.


“Sayang kamu harus makan”, suara lembut nan menenangkan Dewa.


Dywne menutup mulut dengan kedua telapak tangannya, menggelengkan kepala menjauhi suaminya.


“Aku tidak mau Dewa, aku hanya ingin mengunyah buah”, ucap Dwyne dengan mata hampir menangis.


“Eh sayang jangan nangis, tunggu sebentar aku akan membawakan buah untukmu”, Dewa menuruti keinginan wanitanya. Ternyata cukup menguras tenaga dan pikiran karena Dwyne sangat manja saat hamil berbanding terbalik dari sebelumnya.


Dewa tersenyum melihat Dwyne makan  buah mangga dan kiwi, sampai noda sari buah tertinggal di bibir istrinya. Sangat lucu seperti anak kecil, rupanya istri arogannya ini memiliki sisi lain yang menyenangkan hati Dewa, lepas sudah rasa lelah di tubuh.


“Eh”, Dwyne tersentak karena Dewa menghapus noda buah di sudut bibirnya dengan ibu jari.


“Kenapa anak-anak papa hanya suka makan buah dan minum susu?”, tanya Dewa seakan bicara pada kedua anaknya.


“Besok, bilang mama harus makan yang banyak jangan hanya buah dan susu, supaya kalian tumbuh sehat dan kuat”, Dewa membelai perut rata sang istri yang tertutup selimut.


Dwyne selalu salah tingkah jika Dewa memperhatikannya berlebihan seperti ini, padahal bukan pertama kali namun hatinya tetap berdebar.

__ADS_1


“Dwyne?”


“Hem?”


“Boleh aku bertanya?”


“Tanya saja”, nada suara begitu acuh dan dingin.


“Sejak kapan istriku yang cantik ini membalas perasaan cinta suaminya?”, tanya Dewa, meraup satu sisi pipi Dwyne.


“Uhuuk, uhuk uhuk”, Dwyne yang sedang mengunyah makanan tersedak mendengar pertanyaan Dewa yang bahkan ia pun tidak tahu jawabannya.


“Pelan-pelan sayang”


“Ish ini juga karena dia aku keselek, kenapa harus bertanya hal itu sih”, batin Dwyne.


“Ummm, aku....aku tidak tahu Dewa”


“Benarkah? Tadinya aku pikir istriku ini memiliki jawaban yang pasti”, sahut Dewa lalu mengulas senyum pada wanitanya dan mengecup bibir yang kembali terdapat noda buah.


“Dewa, jangan semanis ini. Aku bisa semakin dalam mencintaimu”, sayangnya kata-kata Dwyne hanya terukir di hatinya saja.


“Kamu tahu Dwyne? Aku pria paling beruntung di dunia ini bisa mendapatkan cinta seorang wanita cantik dan kuat seperti mu, rasanya seperti mimpi, gadis kecil yang dulu aku cintai kini menjadi istriku”, Dewa menggenggam tangan Dwyne dan menciumi punggung tangan serta jemari lentik Dwyne.


“Aku tidak tahu akan seperti apa hidupku jika kamu tidak menerima ku kembali, aku takkan mampu menghadapi dunia ini tanpamu Dwyne. Tetaplah di sisiku, untuk selamanya Dwyne Juliette Bradley”, kata –kata Dewa membuat Dwyne bergeming.


Sungguh Dwyne merasa bahagia dihujani begitu banyak cinta oleh suaminya, Dewa tak hanya mengucapkan kata dan janji namun benar-benar menunjukan dengan sikap dan kerja kerasnya selama ini.


...TBC...


...****...


...Udah ya hari ini...


...Besok lanjut lagi 😁...


^^^Terima kasih teman-teman dukungannya^^^


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2