
BAB 115
Dua bulan kemudian pasca liburan bersama, ke beberapa negara di benua biru, Dwyne dan Dewa kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Kehidupan keduanya sangat berwarna, saling melengkapi satu sama lain. Dwyne cenderung lebih agresif dalam menyampaikan bahasa cintanya pada Dewa.
Setiap waktu istirahat Dwyne selalu mengunjungi suaminya ke rumah sakit, membawa makanan untuk makan bersama dalam ruangan atau di kantin, semua Dwyne yang mengatur. Dewa senang saja dengan perhatian yang diungkapkan sang istri, begitu bahagia dicintai wanita arogan seperti Dwyne.
“Asisten D, kamu bebas makan dimana saja. Aku mau ke ruangan Dewa”, Dwyne melangkahkan kaki, rasanya menyenangkan karena usai menerima video call mendengar kata-kata cinta dari suaminya.
“Ah itu dia ruangan Dewa”, Dwyne tersenyum senang dan bahagia.
Pintu yang tidak tertutup sempurna membuat jiwanya mengintip sesaat ke dalam sana, betapa terkejutnya Dwyne melihat sang suami tersenyum pada wanita lain. Wanita yang Dwyne yakini seorang dokter, karena di lihat dari jas putih yang di pakainya.
“Keterlaluan kamu Dewa”, lirih Dwyne, menghentakkan kaki, berlalu dan tidak jadi masuk ke dalam ruangan.
“Selamat siang nona”, sapa petugas yang berkeliling menjaga keamanan.
“Hem”, balas Dwyne, merogoh ponsel dalam tas dan cepat menghubungi Asisten D.
Sementara Asisten D yang baru saja berbinar bahagia karena makanan pesannya telah tersaji, lenyap sudah rasanya begitu menerima perintah bahwa Nona Bosnya ingin kembali ke kantor saat ini juga. Asisten berkacamata tebal itu hanya bisa menelan air liur yang semula menetes akibat harum aroma makanan di atas meja.
“Silahkan Nona”, Asisten D membuka pintu mobil, melihat riak wajah tak ramah dari sang atasan, mengurungkan niatnya bertanya.
“Mulai besok kita makan siang di kantor saja atau restoran mana saja, jangan datang lagi ke rumah sakit”, oceh Dwyne, bahkan mematikan ponselnya.
“D, aku ingin hanya ada pekerjaan yang menghubungiku, untuk urusan pribadi yang tidak penting jangan disampaikan kecuali masalah Denver dan kedua orangtua ku, paham?”, tegas Dwyne sangat dingin.
“I-iya nona, saya mengerti”
__ADS_1
“Aku membencimu Dewa, huh”, geramnya Dwyne dalam hati.
Dewa yang menanti kehadiran sang istri menunggu di depan ruangan berbincang bersama perawat dan petugas keamanan, sambil sesekali melirik ke arah lain.
“Pak Dokter lagi cari apa?”
“Oh, nunggu istri, harusnya sampai rumah sakit 1 jam yang lalu, mungkin macet”, Dewa tersenyum melihat jam tangannya.
“Tadi saya lihat istri Pak Dokter pulang, dari sini Pak. Ternyata Dokter Dewa belum ketemu, tadi istrinya keliatan buru-buru keluar rumah sakit Pak Dokter”, tutur petugas keamanan yang memang berpapasan dengan Dwyne.
“Oh, terima kasih pak”
.
.
Malam hari di kediaman Dwyne dan Dewa
Dokter yang masih menempuh pendidikan spesialis ini pulang terlambat, selain banyaknya tugas Dewa pun terjebak jalanan ibu kota yang tergenang air, hingga harus memutar jalan semakin jauh untu bisa pulang. Sampai rumah dalam keadaan lelah, senyum Dewa merekah saat membuka pintu kamar, menatap Dwyne yang terlelap bersama Denver di sisinya.
Usai membersihkan tubuh, Dewa mencium kening Dwyne dan putranya. “Maaf Denver, papa mau tidur berdua bersama mama”, Dewa memangku putranya dan memindahkan ke kamar sebelah.
Dewa memainkan rambut istrinya, mengecup beberapa kali bibir pink yang membuatnya kecanduan. Lalu memeluk tubuh Dwyne hingga ibu satu anak itu merasa terganggu dan terbangun. Dewa melengkungkan senyum, wajah bantal Dwyne sungguh menggoda nalurinya sebagai pria. Tak ada aba-aba Dewa menarik tali piyama tipis yang membalut keindahan di dalamnya.
PLAK
“Sakit sayang, ada apa?”, Dewa meringis karena Dwyne memukul keras tangannya.
__ADS_1
“Dimana Denver?”, ketus Dwyne. “Berani sekali kamu menyentuhku dan memindahkan Denver”, ucap Dwyne berapi-api rasa kesal, cemburu pada suaminya.
“Di kamar, bukankah kamu bilang sendiri kalau Denver harus terbiasa tidur di kamarnya?. Ada apa sayang?”.
“Hah, kamu menyebalkan Dewa”, Dwyne mendorong tubuh suaminya yang tampak kelelahan sampai nyaris terjatuh menyentuh lantai.
“Aku minta maaf kalau memiliki salah, tapi katakan apa yang aku buat. Kenapa tadi siang kamu pergi sebelum makan siang?”, tanya Dewa penasaran.
“Bukan urusan mu”, Dwyne turun dari kasur mengambil selimut dan bantal dari dalam lemari, menyimpannya ke atas sofa bed. “Tidurlah di sana, aku tidak mau seranjang dengan pria seperti mu”, culas Dwyne.
Dewa menghela napas, rasanya seperti kembali pada awal masa pernikahan dimana ia harus tidur beralaskan sofa dan memeluk bantal. Dewa masih berpikir dan mengingat hal apa yang salah padanya hari ini sampai membuat singa betinanya mengaum ganas.
“Cepat Dewa awas, menyingkir. Aku ngantuk”, Dwyne menggunakan tenaga dalam untuk menarik suaminya sampai pada sofa bed.
“Sayang tapi aku.....”, belum selesai Dewa bicara, Dwyne lebih dulu menenggelamkan diri pada balutan selimut.
“Ok, malam ini aku tidur di sofa”, akhirnya Dewa setuju untuk tidur beralaskan sofa lagi.
.
.
Pagi yang indah bagi Dewa, seperti biasa ia rutin melakukan olahraga pagi di sekitar rumah. Tapi usai mencari keringat, terpaksa kecewa tak mendapati wanita cantiknya dalam kamar. Biasanya mereka akan mandi dan berendam bersama lalu saling menggapai titik kepuasan dipuncak nirwana, memberikan semangat pagi luar bisa. Tapi kini Dewa hanya menatap ranjang yang bahkan meninggalkan jejak Dwyne di atasnya.
“Maaf sayang, tapi aku membuat kesalahan apa?”, gumam Dewa.
...TBC...
__ADS_1