Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 53 - Hampir


__ADS_3

BAB 53


Seolah terhipnotis Dwyne hanya diam tidak melawan, tubuhnya semakin gemetaran takut apa yang dipikirkannya akan terjadi dan mungkin malam ini.


“Sayang”, bisik Dewa lalu menyesap daun telinga wanita yang sedang gugup ini.


“De-Dewa, Ahh”, suara yang sangat indah terdengar bagi Dewa. Setelah beberapa bulan menikah Dewa bisa menahannya namun untuk malam ini sepertinya tidak, ia tidak akan melepaskan wanitanya begitu saja.


“Dwyne”, suara serak Dewa yang kemudian kembali menyatukan bibir.


Benar mungkin ini sebabnya tubuh Dwyne melemas bahkan kehilangan separuh energinya, Dewa begitu lembut menyentuhnya. Bahkan tangannya pun kini lancang memasuki dress santai yang digunakan oleh Dwyne, memberi wanita itu rasa lain untuk pertama kalinya.


“Ah”, suara indah semakin lolos dari bibirnya.


Dewa yang sudah dipenuhi kabut gairah perlahan membuka resleting dress wanitanya dan semakin liar mencumbu bibir kenyal manis berwarna pink itu.


Namun Dwyne dengan cepat menahan tangan suaminya sebelum benar-benar meloloskan dress yang ia pakai. “Ada apa?”, tanya Dewa.


“Dewa, a-aku tidak mau ini terjadi. Aku tidak memiliki perasaan apapun padamu”, Dwyne mendorong dada bidang suaminya.


“Dwyne?”, mata Dewa yang tadinya tertutup oleh gairah kini dipenuhi rasa kecewa luar biasa.


Hampir saja bisa memiliki Dwyne seutuhnya tapi wanita itu langsung menolaknya, meninggalkan rasa pusing, pening dan sakit hati dalam dirinya.


“Dwyne, aku pikir kamu sudah membuka hati untukku dan......”, Dewa tak kuasa melanjutkan kata-katanya.


“Dan apa?, maksudmu membebaskan mu menyentuhku?, mengambil milikku yang berharga?, tidak Dewa”, ucap Dwyne begitu jahat pada suami tampannya. “Tidak untuk sekarang Dewa, aku belum siap dan yakin padamu juga diriku sendiri”, batin Dwyne.

__ADS_1


“Maaf Dwyne, aku terlalu menginginkan kamu menjadi milikku seutuhnya”, Dewa keluar kamar dan memilih menenangkan diri di taman samping rumah.


“Berlebihan kau ini Dewa”, geramnya pada diri sendiri, “Tidak pernah berkaca dari sebelumnya, Dwyne tidak mungkin mau menjadi istriku yang sesungguhnya, rupanya aku harus mengubur harapan untuk memiliki anak dari wanita yang aku cintai”, Dewa tertawa miris, angin malam memasuki pori-pori kulitnya dan menusuk tulang tak sebanding dengan kecewanya ia malam ini, setelah melewati beberapa hari dengan hubungan yang dirasa membaik ternyata semua hanya kepalsuan.


Dewa memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana, menyandarkan tubuh tanpa penutup bagian atas pada dinding, semakin lengkaplah rasa dingin yang ia rasakan.


“Tapi kamu harus tahu satu hal Dwyne, aku tidak akan pernah melepas mu. Jika usahaku sia-sia, mungkin hanya waktu yang bisa merubah semuanya”, ucap Dewa, ia yang lelah setiap hari dari pagi hingga malam hanya untuk mencari materi, melunasi semua hutangnya apalagi pamannya pada Papa Rayden, apalagi dalam waktu dekat akan melanjutkan pendidikannya di bidang spesialis jantung dan pembuluh darah. Pasti banyak menyita waktunya dan kehilangan momen indah bersama sang istri.


Sedangkan di kamar, Dwyne menatap cermin besar melihat leher jenjangnya, terdapat beberapa tanda kemerahan, bahkan resleting dressnya pun tidak ia benarkan. Dwyne belum yakin pada suaminya itu, tidak mau menyerahkan dirinya begitu saja.


“Tidak Dewa. Tidak semudah itu”, gumam Dwyne yang masih takut jika Dewa hanya memanfaatkannya untuk meraih kekuasaan apalagi kalau mengambil alih GB Hospital.


Namun bayang-bayang Dayana seketika muncul di benaknya, Dwyne menjatuhkan diri di atas ranjang menepis jika Dayana akan semakin nekat merebut Dewa.


Dwyne tidak mau kehilangan Dewa begitu saja, ia hanya perlu waktu dan pembuktian dari suaminya ini.


Dewa masuk kamar, kedua bola matanya saling bertatap dengan Dwyne yang juga bergeming di tempat. Beberapa saat pasangan ini hanya saling diam, Dewa tak melangkah maju sedikit pun begitupula Dwyne.


“Ayo Dewa, jadilah Dewa yang aku kenal, jangan berubah sedikit pun”, kata-kata Dwyne dalam hati.


“Maaf, aku mengganggu”, ucap Dewa yang hanya berlalu dari hadapan Dwyne dan melangkah mengambil kaosnya. “Tidurlah yang nyenyak, kalau membutuhkan sesuatu aku ada di kamar tamu”, Dewa bicara memunggungi wanitanya, ia tak kuat melihat wajah manis yang menerima ciumannya, perhatiannya, melambungkan dirinya ke atas awan tapi juga menghempaskan ke dasar lautan.


“Maaf Dwyne”, gumam Dewa sangat pelan.


“De-Dewa”, ucap Dwyne di bibir tanpa suara. Namun tubuhnya hanya diam di tempat memandang punggung sang suami yang menjauh dan menghilang.


“Kenapa begini?”, lirih Dwyne yang merasa kalau Dewa seharusnya lebih memperjuangkan cintanya bukan menyerah begitu saja.

__ADS_1


Akhirnya malam ini sepasang suami istri yang menikah beberapa bulan lalu pisah kamar, Dewa mulai membenahi kamar agar nyaman ditempati. Jujur saja kamar tamu juga luas dan nyaman tapi tidak adanya Dwyne membuatnya gelisah, begitupun wanita bermanik coklat yang hanya bisa tidur sembari menatap sofa bed dimana Dewa terbiasa merebahkan tubuh untuk memulihkan tenaga.


**


Di sisi lain Bunda Nayra sengaja tidur di kamar putri tunggalnya, sudah lama ia tidak melakukan itu untuk bicara selayaknya seorang teman. Karena Bunda Nayra yang selalu sibuk mengelola toko roti.


“Kenapa bunda?”, tanya Dayana yang baru saja selesai mencuci wajah sebagai ritual rutin seorang wanita.


“Bunda kangen sama anak bunda, apa salah?”, canda wanita yang memiliki paras cantik sama seperti Mama Nayla.


“Tidak ada yang salah”, jawab Dayana.


“Sayang, apa teman-teman koas kamu ada yang menarik perhatian? Ummm maksud bunda kamu menyukai salah satu temanmu?”, tanya Bunda Nayra.


“Tidak ada bun, mereka semua aku anggap saudara. Lagi pula bunda kan tahu aku lebih menyukai pria yang usianya jauh di atas ku. Kenapa bun?”


“Bunda hanya berpikir ternyata putri kecil bunda sekarang bukan anak-anak lagi dan Bunda sangat ingin tahu siapa pria yang mungkin kamu sukai?, atau kamu menjalin hubungan mungkin?”, Bunda Nayra membalik tubuh menghadap Dayana.


“Ada senior di rumah sakit. Aku menyukainya bun, dia sangat baik, senyumnya manis dan menawan”, Dayana tersenyum membayangkan wajah Dewa. Bahkan mengingat pertama kali bertemu pria itu 1 tahun yang lalu, Dewa selalu membantunya dikala membutuhkan bantuan, beberapa kali menumpang ke Universitas dan mendapat referensi buku kedokteran yang sangat bagus.


“Ya ampun,  putri kecilku. Kenapa harus Dewa sayang?”, batin Bunda Nayra menangis. “Siapa itu sayang?, apa bunda boleh kenal?, bunda juga mau cepat punya menantu”, goda Nayra.


Seketika Dayana bungkam, raut wajahnya berubah total tak ada pancaran bahagia dari tatapan matanya. Dayana menggigit bibir bawahnya tertawa miris depan cermin, pantulan dirinya sangat jelas. “Apa kurangnya aku?, salahnya dimana?”, kata hatinya.


“Dayana, kamu kenapa?, apa dia bukan pria baik-baik?, atau dia sudah memilik kekasih”, selidik Bunda Nayra.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2