
BAB 114
2 tahun berlalu
Disinilah Dewa dan Dwyne menikmati indahnya pemandangan alam yang membentang elok serta udara dingin Sepasang suami istri ini duduk di atas kereta yang membawa melewati pegunungan yang tertutupi salju di Swiss. Dewa dan Dwyne pergi berbulan madu, sungguh
indah rasanya menikmati waktu bersama orang yang dicintai.
Sebelumnya Dewa dan Dwyne mengunjungi negara asal Opa Gerry (kakek Rayden dan Adam Bradley), bersama keluarga besar Bradley menginap beberapa hari di mansion utama. Liburan akir tahun ini Papa Ray memboyong kelurganya ke Inggris, tidak lupa Adam Bradley pun turut serta.
Baby Denver bersama Mama Nayla dan Oma Anggi serta Denna, ketiga wanita berbeda usia itu tidak mengizinkan Denver ikut orang tuanya. Biarlah Dwyne dan Dewa menikmati waktu berdua yang nantinya akan membawa kabar bahagia bagi keluarga besar mereka.
“Kamu kedinginan sayang?”, suara indah Dwyne dengan asap keluar dari mulutnya, begitu dingin suhu di pegunungan ini. Dewa yang tak terbiasa dengan perubahan cuaca awalnya sempat sakit namun berkat Dwyne yang mengurus suaminya, Dewa cepat pulih dan beradaptasi dengan mudah. “Kamu harus terbiasa, karena keluarga ku banyak yang tinggal di beda negara”, Dwyne terkikik merasakan pelukan Dewa sangat erat.
__ADS_1
“Iya sayang iya aku tahu, dan maaf tubuhku ini belum terbiasa. Dimana lagi kerabatmu tinggal selain Inggris?”, tanya Dewa yang merasa dingin namun hangat saat memeluk wanitanya.
“Paling banyak di Inggris tapi Norwegia pun ada hanya kerabat jauh, Jerman, di sana masih ada adik perempuan Opa Gerry yang tinggal bersama anak dan cucunya. Seattle, sepupuku yang lain, dan Jepang, uncle Angga tinggal dan menetap di sana setelah memiliki istri”, Dwyne mengingat dimana saja kerabatnya tinggal.
“Oh paling dekat dengan kita hanya Uncle Adam?”
“Ya, itu karena Uncle Adam dan Papa masih satu kakek, coba berbeda pasti kita jarang bertemu dan tidak sedekat ini”, papar Dwyne.
Dwyne menarik tangan suaminya memasuki sebuah rumah makan sederhana dengan pemandangan pegunungan Alpen. Ia memang hapal lokasi ini karena beberapa kali mengunjungi Swiss bersama Dariel dan Denna untuk berlibur.
“Sayang setelah ini kemana lagi?”, tanya Dewa yang ingin selalu menyenangkan istrinya.
“Ski, kita bermain ski, ah aku rindu. Berapa tahun tidak bermain ski di Alpen”, wajah Dwyne berbinar bahagia, sementara Dewa bermain dengan alat itu saja belum pernah. Ia hanya memijat kepala pusing bagaimana mengikuti gerakan Dwyne nantinya.
__ADS_1
Usai menikmati secangkir coklat panas dan cemilan, Dewa dan Dwyne menaiki kereta gantung untuk semakin menyempurnakan kunjungannya kali ini. Hamparan salju membentang menutupi pegunungan dan perbukitan, serta kabut tipis pada bagian puncak.
“Jangan khawatir sayang, ini aman”, Dwyne memeluk erat tubuh Dewa yang menegang melihat seberapa panjangnya lintasan menggantung sempurna di atas.
“Iya sayang, hanya sedikit dingin saja”, alasan Dewa.
Dwyne tertawa dan melihat ke arah kaki mereka, bagaimana bagian penutup bawah kereta yang tertutupi kaca hingga Dewa dan Dwyne merasa terbang di langit. Wanita berambut coklat indah ini tidak lupa mengabadikan momen bahagianya bersama Dewa.
Puas berwisata pada hari kedua, diakhiri permainan ski. Dewa membawa istrinya kembali ke hotel, menurutnya lebih indah dan nyaman jika bulan madu bersama Dwyne di tempat hangat ini.
Keduanya berendam air hangat, kamar mandi pun tetap estetik. Kaca transparan dari kamar mandi memanjakan Dwyne yang gemar pada panorama alam.
Dewa tersenyum, tangannya di bawah air bergerak perlahan dan meraih pinggang Dwyne hingga wanita cantik yang ia puja duduk diatasnya. “Dewa”, sentak Dwyne terkejut.
__ADS_1
“Aku cemburu sayang, kamu hanya memperhatikan itu saja”, tunjuk Dewa pada kaca di sisinya.
“Ah maafkan aku sayang”, mengecup kening, pipi dan bibir Dewa, tidak hanya itu tapi Dwyne m-e-l-u-m-atnya dengan cepat. Suasana yang mendukung, sepasang suami istri melakukan apa yang dapat menghangat tubuh dengan Dwyne memimpin permainan mereka dalam bathtub yang cukup luas.