
BAB 86
Sampai di rumah, Dewa memeriksa kondisi istrinya, tekanan darah Dwyne pun stabil. Dewa mengobati memar di pipi wanitanya, mengoleskan lembut salep yang aman bagi ibu hamil.
“Sayang, maafkan aku”, ucap Dewa menatap wajah Dwyne.
“Tenang saja Dewa”, jawab Dwyne.
“Dwyne sepertinya mulai minggu depan aku tidak praktik di Bogor, Dokter Cakra bersedia menggantikan ku, karena rumah kedua orang tuanya di Bogor”
“Apapun keputusan mu aku setuju Dewa”, Dwyne mengangguk paham. Apalagi suaminya ini sedang menempuh pendidikan spesialis yang memakan waktu serta pikiran.
“Terima kasih atas dukungannya, aku mencintaimu Dwyne”, Dewa mengulas senyum.
“Aku bosan mendengarnya”, dingin Dwyne, namun dalam hati senang mendengar ungkapan cinta sang suami.
“Benarkah begitu? Baiklah aku pergi ke Universitas karena kelasku padat hari ini sampai waktu makan malam mungkin, jadi jangan lewatkan jam makan malam mu", selesai mengobati pipi Dwyne, Dewa pun bergegas pergi.
.
.
.
**
Beberapa bulan kemudian
Usia kandungan Dwyne memasuki trisemester 3. Mulai banyak keluhan selama kehamilannya, Papa Rayden memberi putrinya cuti panjang mengingat resiko yang akan terjadi karena kondisi kandungan yang lemah.
Dewa dan Dwyne pun telah kembali ke rumahnya, dengan Dariel sesekali menginap untuk mendiskusikan masalah G&B Farmasi. Meskipun kini perusahaan yang memproduksi obat itu di bawah kendali Dariel sebagai CMO pengganti, ia tetap menghormati kakak kembarnya untuk mengambil keputusan atau ide peluncuran iklan baru.
Sementara Denna, Oma Anggi dan Opa Dave kembali ke Inggris. Denna pun disibukan dengan tugas sekolahnya menjelang semester akhir sebelum lulus.
“Dwyne, menurutmu bagaimana kalau kita pilih aktor pendatang baru ini? Wajahnya masih muda dan fresh”, ungkap Dariel apa yang ada dalam kepalanya.
“Ummm, boleh juga, wajah dan karakternya cocok untuk suplemen kesehatan, apalagi dia praktisi kesehatan”, sahut Dwyne.
“Dari mana kamu tahu dia praktisi kesehatan?”, tanya Dariel.
“Sekarang sudah era sosial media, tentu saja aku melihat instagramnya”, ucap Dwyne yang juga mengidolakan aktor muda tersebut.
“APA?”
__ADS_1
“Eh”, Dwyne tersentak mendengar suara suaminya yang baru saja pulang.
“Aku ke kamar dulu ya, ah tidak lebih baik ke dapur untuk menikmati aksi nyata ini”, Dariel segera membereskan berkas dan membawa laptopnya ke mini bar dekat dapur, mengintip apa yang akan terjadi diantara saudari kembar dan kakak iparnya.
“Dewa, kamu sudah pulang?”, gugup Dwyne.
“Apa tadi yang kamu katakan sayang?”, tegas Dewa.
“Apa? Yang mana? Oh Dewa, kamu sudah pulang? Itu”. Dwyne mengulang ucapannya.
“Tidak bukan itu Dwyne, kamu melihat sosial media siapa?”
“Tidak, aku tidak memegang ponsel, aku sedang makan. Lihat kan, tunjuk Dwyne pada snack di atas meja”.
Dewa menarik napas, sangat jelas ia menangkap jika istrinya ini melihat sosial media seorang aktor, pasti pria yang dilihatnya. Dewa pun melihat jika istrinya tersenyum saat membicarakan aktor itu.
“Siapa sayang?”, tanya Dewa lagi.
“KEVIN, NAMANYA KEVIN NUGRAHA”, teriak Dariel sembari menahan tawa.
Sontak Dwyne mendengus kesal karena bibir kembarannya tidak bisa di ajak kerja sama. Apalagi kini Dewa menatap istrinya kesal.
“Katakan Dwyne apa benar kamu menyukai Kevin Nu-nu itu?”, tanya Dewa cemburu.
“Kevin Nugraha namanya, bukan Kevin Nunu”, seketika Dwyne menutup mulutnya.
“Katakan sekali lagi”, titah Dewa.
“Tidak ada Dewa”, Dwyne menggelengkan kepala.
Dewa menyatukan bibirnya dengan bibir kenyal dan manis milik sang istri. Perut buncit Dwyne pun bukan halangan bagi Dewa untuk merapatkan tubuhnya dengan Dwyne.
Dewa menangkup wajah wanitanya, menyatukan kening, dan mencium hidung bangir sang istri. “Jangan lihat lelaki lain, cukup aku yang kamu lihat. Aku cemburu Dwyne”, ungkap Dewa.
“Dewa, tapi aku hanya melihatnya karena dia kandidat iklan produk baru G&B”, jawab Dwyne apa adanya.
“Tidak boleh, aku hanya ingin kamu melihat ku”, lirih Dewa semakin hari semakin posesif pada istrinya.
“Tapi Dewa, hmmmp.....”
Dewa yang terbakar api cemburu m-el-u-m-at bibir pink sang istri sedikit liar, tangannya pun menjelajah ke arah tujuan, memberi sentuhan-sentuhan kecil dan memabukkan bagi Dwyne.
Dwyne memukul dada suaminya.
__ADS_1
“Ada apa sayang?”, tanya Dewa begitu kecewa.
“Kamu belum mandi Dewa, bersihkan tubuhmu dulu, aku akan menunggu”, ucap Dwyne.
“Ok, tunggu aku 5 menit”, mengecup bibir Dwyne singkat.
Dewa bersenandung sembari mengeringkan rambut karena ia akan meraih kenikmatan bersama wanitanya, “Dwyne, aku sudah bersih dan harum”, ucap Dewa.
“Dwyne?”, Dewa kecewa mendapati sang istri terbaring di atas ranjang dan sangat pulas, padahal ia baru masuk kamar mandi, dengan cepat membersihkan tubuh namun kini wanitanya tidur lebih dulu.
“Sayang, bisa bangun sebentar? 30 menit saja, mau ya”, mohon Dewa terus mengecup tengkuk wanitanya.
“Ummmmm, Dewa, besok saja. Masih banyak waktu, sekarang aku mengantuk”.
Dewa hanya bisa pasrah dan turun dari ranjang, ia tak mau lagi membuang calon anak-anaknya pada saluran pembuangan air karena malu pada dinding dan benda apapun yang ada di dalam kamar mandi.
Akhirnya Dewa turun, duduk di mini bar membuat teh hangat. Tidak lama Dariel menyusul sembari menggunakan headphone dan ponselnya.
“Kakak ipar? Aku pikir kalian tidak akan keluar samapi besok siang”, goda Dariel. “Apa ibu hamil itu tidur lagi sebelum menuntaskannya?”, Dariel menahan tawa.
“Ya seperti itu, Dariel apa benar kalian ada peluncuran iklan baru dan Kevin menjadi kandidatnya?”, selidik Dewa.
“Ya, aku menyarankan Dwyne siapa sangka dia juga diam-diam mengagumi Kevin”, Dariel memanas-manasi Dewa.
Kedua pria berbeda usia ini terlibat pembahasan yang tidak penting, karena Dewa terlalu cemburu ia sampai mencari tahu siapa itu aktor pendatang baru.
“Oh, rupanya lebih muda dari Dwyne”, Dewa manggut-manggut.
“Bagaimana pendidikan mu kak apa ada kendala?”, tanya Dariel karena kakak iparnya ini terlihat kelelahan, padahal sudah tidak praktik di klinik miliknya.
“Lancar, rasanya. Aku banyak belajar hal baru menyenangkan membaca buku kedokteran”.
“Suamimu ini Dwyne benar-benar kutu buku”, ucap Dariel Dalam hati.
“Aku juga ingin memiliki istri seorang dokter agar bisa merawat ku ketika sakit nanti”, Dariel tertawa.
“Bukankah Papa dan Mama sudah menjodohkan mu ya?”.
Dariel mengangguk cepat namun ia belum tahu siapa wanita yang akan menjadi calon istrinya karena Papa Ray merasa putra satu-satunya ini belum siap berumah tangga. Dariel masih sibuk mengemban tugas mengelola usaha keluarga serta sibuk bermain game pastinya.
Dewa yang mengantuk memasuki kamarnya dan pemandangan tak terduga dilihatnya, ia langsung memaki dirinya kenapa harus kembali ke kamar jika disuguhkan kemolekan tubuh wanita yang sedang hamil ini. Gaun tidur tipis berwarna merah benar-benar membuat sesuatu dalam dirinya memberontak.
“Oh, Dwyne kamu benar-benar menyiksaku”, Dewa menyugar rambutnya.
__ADS_1
Akhirnya dengan berat hati dan menutup mata Dewa mengulang ritual yang selama ini dijauhinya.
...TBC...