
BAB 118
Dewa sigap menangkap tubuh Dwyne yang tidak sadarkan diri, nyaris menyentuh lantai. “SAYANG”, pekik Dewa.
Dewa benar-benar cemas, wajah Dwyne yang memang pucat beberapa hari ini tidak terlalu Dewa ambil pusing selama istrinya masih terlihat lincah melakukan kegiatan. Namun malam ini Dwyne jatuh tak berdaya. Dewa segera membaringkan tubuh sang istri dan memeriksanya, seketika kedua mata hitam itu terbelalak. “Sayang?”, tatapan penuh cinta dan memuja Dewa berikan. Serta kecupan ringan di pipi dan wajah Dwyne Bradley.
Selama 30 menit lamanya Dewa berada di sisi sang istri, terus memegangi tangan Dwyne mengecup punggung tangan dengan bahagia. YA Dewa bahagia, ia rindu memegang erat tangan wanitanya seerat ini.
“Euung”, lenguhan Dwyne, mengerjapkan kedua mata. “Kepalaku pusing”, lirih Dwyne masih belum menyadari kehadiran Dewa.
“Sayang?”
“Dewa, kamu?”, tunjuk Dwyne lemah.
“Terima kasih sayang”, Dewa memeluk istinya dan mencium bibir pink, m-e-lu-m-at perlahan menyalurkan rasa cinta. “Sekarang kita ke rumah sakit sayang”, Dewa memangku tubuh Dwyne dan membawa masuk dalam mobil.
“Mbak, saya dan istri titip Denver. Kita harus ke rumah sakit sekarang”
.
.
Tidak merasa malu, Dewa menggendong Dwyne sampai pada depan ruangan dokter obgyn. “Untuk apa kita kesini? Aku mau pulang”, ketus Dwyne.
__ADS_1
“Sekarang aku mengerti kenapa sikap dan mood mu berubah drastis”, Dewa mengacak rambut coklat milik istrinya, dan berhasil membuat Dwyne kesal bukan main.
“Kam.....”, belum selesai kalimat Dwyne. Pintu ruangan telah terbuka lebar, menampakkan dokter setengah baya dengan ciri-ciri fisik sama persis wanita yang Dwyne lihat di ruangan Dewa tempo hari.
“Dokter Dewa, Nyonya silahkan masuk”, dokter mulai bertanya keluhan Dwyne dan dijawab jujur serta pola makannya menjadi berantakan seminggu ini.
“Kenapa kamu tidak makan dengan baik sayang?”, Dewa terlihat cemas.
“itu karena kamu, huh”, Dwyne cemberut dan mengikuti instruksi perawat.
Kedua matanya memperhatikan layar besar di atas, rasanya tidak asing walau masih tidak jelas. “Itu apa?”, tanya Dwyne pada dokter.
“Selamat Dokter Dewa dan Nyonya Dwyne, ini anak kembar kalian. Usianya masuk 8 minggu. Dokter Dewa harus lebih sabar lagi ya menghadapi mood swing ibu hamil”, ucap Dokter terkikik pelan.
“Iya sayang lihat itu anak-anak kita”, Dewa menggenggam tangan istrinya.
“Tapi aku....aku beberapa minggu lalu menstruasi memang hanya satu hari dan sedikit sekali dokter”, jelas Dwyne yang tidak menyadari dirinya mengandung buah hati.
“Kenapa kamu tidak bilang sayang”, cemas Dewa. “Dokter apa tidak berakibat buruk pada kandungannya?”, Dewa berubah cerewet banyak tanya.
Dokter pun menjelaskan jika itu bukan hal besar, memberi saran pada Dwyne untuk lebih banyak istirahat. Mengingat kehamilan kembar menguras tenaga 2 kali lipat. Ya kali ini Dwyne kembali mengandung anak kembar, namun terdapat 2 kantung kehamilan di rahimnya serta 2 detak jantung. Itu artinya bayi mereka tidak kembar identik, sedikit melegakan perasaan ibu muda yang pernah trauma kehilangan salah satu bayinya.
.
__ADS_1
.
Di sinilah Dewa dan Dwyne, di kamar mereka. Keduanya saling bicara dari hati ke hati. Dwyne sedikit melunak mendengar penjelasan suaminya seta dokter kandungan tadi. Rupanya salah paham saja, dan akibat rasa cemburu serta perubahan hormon hamil membuat Dwyne menutup mata dan telinga.
Tapi ia akui memang menyiksa berjauhan dengan Dewa, sangat. Dwyne rindu dipeluk manja sang suami. Sama seperti hamil sebelumnya, sangat senang diperlakukan manis tapi kali ini berbeda. Dwyne merasa lebih kuat tidak seringkih dulu.
“Jangan sayang, Dwyne hentikan”, Dewa menahan pergerakan istrinya yang memegang sesuatu di bagian bawah sana. Bibir keduanya saling bertautan menyalurkan hasrat yang menggebu. Kali ini Dwyne telah duduk di atas pangkuan Dewa, mengalungkan kedua tangannya seraya membuka kancing piyama suaminya itu.
“Dwyne sayang”, Dewa menahan betapa liar singa betinanya ini, bukan dia tak ingin tapi anjuran dokter bahwa mereka harus menahan sebisa mungkin sampai kandungan Dwyne kuat setidaknya lebih dari 12 minggu.
Mengingat Dwyne pernah mengalami flek beberapa minggu lalu, dokter sedang melakukan observasi hingga usia kandungan 12 minggu.
“Aaahhh Dewa”, kesal Dwyne.
“Maaf sayang tapi aku tidak mau terjadi apapun pada kalian bertiga”
Akhirnya sepasang suami istri ini saling memeluk sepanjang malam di temani dinginnya angin yang semakin mendukung Dewa dan Dwyne berpelukan.
“Aku mencintaimu Dewa”
“Aku juga mencintaimu Dwyne, istriku”
...END...
__ADS_1