
BAB 8
Dewa bergeming menatap Papa Rayden memberikannya kunci mobil dan kunci rumah, otaknya memerintah untuk tidak mengambil kedua kunci di hadapannya. Karena bagaimanapun sebagai seorang pria ia merasa gagal untuk membahagiakan istrinya secara materi. Dewa sangat ingin memberikan Dwyne rumah dan kendaraan dari hasil keringatnya sendiri.
Papa Ray yang mengetahui isi kepala menantunya ini menyimpan kembali kedua kunci pada tangannya. “Anggap saja ini hadiah pernikahan”, ucap Rayden datar.
“Tapi Pa, terlalu mewah untuk hadiah pernikahan”
“Jadi kau tidak akan menerima ini semua?”, tunjuk Rayden ke atas meja.
Dewa hanya mengangguk pelan, sungkan pada ayah mertuanya karena menolak rumah dan mobil hadiah pernikahannya.
“Ehem, begini Dewa sebagai seorang pria pasti kita ingin memberi apapun yang terbaik untuk wanita yang kita cintai ah istri maksudnya. Tentu dengan hasil kerja keras suami, dan sebagai seorang ayah aku juga ingin memberi hadiah terbaik untuk Dwyne, dia adalah putri yang aku nantikan dan sayangi”, Rayden berjalan beralih menatap ke arah luar jendela, mengingat penantiannya bersama Nayla menunggu buah hati, ia pun belum rela jika putri sulungnya harus keluar dari rumah dan tinggal bersama suaminya.
Dewa masih setiap mendengarkan dan gerak matanya mengikuti kemana Rayden berjalan. “Begini saja Dewa, ambilah mobil itu sebagai hadiah, dan untuk rumah kau bisa membayarnya padaku”.
“Maksud papa? aku yang membeli rumah itu?”
“Iya betul, setelah selesai renovasi pindah lah untuk hidup bersama Dwyne di rumah kalian”
Dewa mengangguk pelan menelaah semua kalimat yang keluar dari mulut mertuanya, “Saya belum memiliki cukup uang untuk membayar rumah itu”, tolak Dewa halus.
“Ck, kau ini. Kau bisa mencicilnya, sudah itu solusi yang terbaik”, ucap Rayden karena menantunya ini keras kepala. “Pakailah mobil ini”.
Dewa pun mengambil dua kunci yang di tolaknya tadi, “Saya akan mentransfer untuk cicilan pertama rumah ini”, ucap Dewa.
“Ya, aku akan minta Zayn menghubungimu nanti”
“Permisi Pa”, pamit Dewa berjalan sembari berpikir bagaimana caranya harus segera melunasi rumah mewah yang menjadi perdebatan itu.
“CK, kau itu niat tidak sih menjadi supirku?”, oceh Dwyne karena melihat suaminya diam.
“Ah, maaf Dwyne, ayo kita berangkat sekarang”, Dewa menggandeng tangan istrinya karena refleks tapi Dwyne menghempaskan begitu saja.
__ADS_1
“Ingat jangan sentuh seujung kuku pun”, ketus istrinya, “Aku tidak mau naik mobilmu, memalukan”, sindir Dwyne meremehkan suaminya.
Pagi yang buruk bagi Dewa harus selalu berdebat dengan istrinya karena perbedaan status sosial mereka. Dewa pun berjalan pada mobil yang diberikan ayah mertuanya, “Kemari lah Dwyne”.
“Ini mobil siapa?”, tanya Dwyne.
“Naiklah”, Dewa membuka pintu untuk istrinya, seketika Dwyne naik dan duduk manis dalam mobil mewah itu, “Ini hadiah dari papa”, jawab Dewa menghilangkan rasa penasaran yang terpancar jelas dari sorot mata istrinya.
“Ck tentu saja papa, karena siapa suamiku ini?”, Dwyne tertawa mengejek lalu terdiam melihat apa yang dilakukan suaminya, Dewa memasangkan sabuk pengaman untuknya, jarak keduanya pun sangat dekat, hembusan napas Dwyne bisa Dewa rasakan.
“Ehem”, Dewa menetralkan pikiran serta perasaannya lalu mulai melaju dengan kuda besi baru yang ia kendarai.
.
.
Sampai di G&B Dewa membukakan pintu untuk istrinya dan mengantar Dwyne sampai masuk ke ruang kerja, Dewa dapat melihat bagaimana tatapan kagum dan memuja yang ditujukan pada istrinya ini. Itulah alasan Dewa ingin mengantar dan menjemput Dwyne setiap harinya. Tidak rela sang istri mendapat tatapan dari pria lain.
“Dan sebaiknya kau tidak terlambat”, sahut Dwyne.
“Pasti”
Dewa melangkah keluar ruangan CMO, beberapa orang tersenyum padanya dan membungkuk hormat padanya. Mau tidak mau hari ini Dewa ke rumah skait menggunakan mobil yang baru ia terima sebagai hadiah.
Sepanjang perjalanan Dewa memikirkan bagaimana caranya mendapat penghasilan tambahan untuk segera melunasi rumahnya, ia bertekad akan memberikan yang terbaik untuk istrinya. Dia pun mengambil ponsel mengirim pesan pada seseorang dengan raut wajah serius. Tidak lama ponselnya bergetar, mendapat pesan dari asisten Zayn.
“Baiklah, ini untuk cicilan pertama”, gumamya sebelum turun dari mobil. Dewa mentransfer uang sejumlah 300 juta sebagai pembayaran pertama rumahnya.
Dokter tampan ini turun dari mobil langsung menyita perhatian semua orang, ada yang biasa saja, mencibir dalam hati, dan menatap kagum melihatnya. Dewa telah menguatkan mental karena beginilah resiko yang ia terima menikahi putri pemilik rumah sakit.
Dewa salah satu dokter idola di rumah sakit karena pelayanannya ramah dan selalu tersenyum juga tutur kata lemah lembut yang selalu pasien terima. Termasuk semua yang bertugas di IGD sangat senang Dewa tetap membantu mereka di area ini.
Waktu berjalan cepat, Dewa tidak ingin terlambat menjemput istrinya, segera ia keluar dari ruangan dan menuju tempat parkir. Langkah kakinya terhenti karena dipanggil seseorang, “Kamu ada perlu apa?”
__ADS_1
“Dokter mau pulang sekarang?”, tanyanya basa basi. “Boleh aku menumpang?”
“Maaf tapi aku harus menjemput istriku. Kau bisa pulang bersama temanmu yang lain”, tolak Dewa, membuat gadis di depannya tersenyum sinis. Dewa kembali berjalan cepat dan memasuki mobil, ia tidak mau ada masalah baru dia dengan istrinya.
Beruntung waktu tersisa 10 menit sebelum jam 5, Dewa memutuskan menunggu di lobby perusahaan. Pandangan matanya hanya tertuju pada lift khusus petinggi G&B, seketika senyum terbit di bibirnya melihat Dwyne keluar dari kotak besi itu namun mata Dewa menyipit kala melihat seorang pria di samping istrinya begitu dekat, hanya menyisakan jarak sedikit saja.
“Dwyne”, panggil Dewa
Seketika Dwyne menoleh pada suaminya lalu berjalan mendekati pria tampan itu tanpa senyum sedikit pun, “Aku ingin cepat sampai rumah”, ucap Dwyne yang diikuti asisten D dan pria yang dekat dengannya sejak keluar dari lift.
“Bisa berhenti mengikuti kami?”, ucap Dewa dingin.
Pria itu hanya tersenyum tipis menanggapi suami dari wanita yang dikaguminya,” Baik”, jawabnya menghentikan langkah tepat di depan itu pintu masuk.
Dewa membuka pintu mobil untuk istrinya, “Terima kasih asisten D”, ucapnya pada perempuan yang selalu mengekor kemana pun perjalanan bisnis istrinya. Dewa berlari kecil mengitari mobil dan masuk kedalamnya.
“Kamu mau langsung pulang ke rumah?”, tanya Dewa basa-basi memecah keheningan dalam perjalanan.
“Bukankah tadi jelas aku katakan ingin cepat sampai rumah?”, ketus Dwyne.
“Tidak mau mencari makan lebih dulu?”
“Dewa sebaiknya cepat kamu bawa mobilnya, ini terlalu lambat”, seru Dwyne karena suaminya seperti sengaja melambatkan laju mobil.
Dwyne menatap lurus ke depan tanpa ekspresi apapun, sementara Dewa sesekali menoleh padanya begitu menikmati waktu kebersamaannya dengan Dwyne. “Dilarang melihatku seperti itu”, ucap Dwyne.
“Baiklah nona muda, emmm sepertinya harus diganti menjadi Nyonya Dewa”, goda Dewa.
Sontak mendapat tatapan tajam dari istri cantiknya yang tidak suka mendengar kata-kata dari bibir suaminya.
Tbc
__ADS_1