Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 43 - Hilang


__ADS_3

BAB 43


Setelah menutup sambungan video dengan Dokter Dewa, Dwyne menyimpan benda pipih sejuta umat itu di dada, memeluk erat. Degup jantungnya semakin tak beraturan mendengar kata-kata yang selalu terucap dari bibir suaminya.


“Nona, apa anda baik-baik saja?”, tanya Zayn mencemaskan Dwyne.


“Kita kembali ke perusahaan sekarang”, istri arogan milik dokter ini langsung berdiri dan berjalan menuju mobilnya.


“Apa yang terjadi denganmu nona?”, gumam Zayn.


Sepanjang jalan pun Zayn dapat melihat kalau nona mudanya sedang memikirkan sesuatu, entah apa itu. Yang pasti bukan pekerjaan, karena sebanyak apapun tugas dan tanggung jawabnya di perusahaan tak pernah menyita pikiran seorang Dwyne Bradley.


.


.


Tidak terasa waktu berjalan cepat bagi sebagian orang namun Dwyne dan Dewa merasa waktu terlalu lama berlalu, satu bulan sudah keduanya berpisah. Hanya menjalani komunikasi melalui media perantara telepon. Dewa pun rajin memberi kabar tentang kegiatannya di rumah sakit, dan Dwyne seperti biasa hanya menjadi pendengar setia.


Apa hubungan keduanya ada kemajuan?, tentu saja tidak. Putri Rayden Bradley masih bersikap dingin dan acuh pada suaminya, meski Dewa selalu mengucapkan kata cinta tak bisa meluluhkan bekunya hati Dwyne.


Seperti saat ini keduanya sedang melakukan panggilan video, Dewa duduk beralaskan lantai rumah sakit dan bersandar pada dinding dingin rumah sakit, sedangkan wanitanya bergulung dengan selimut tebal hampir menutupi seluruh tubuhnya, hanya bagian wajah yang terbebas dari penghalang.


Bagaiman tidak, Dwyne yang hanya menggunakan pakaian tipis tersentak mendapati ponselnya berdering beberapa kali. Akhirnya dari pada mengganti pakaian lebih baik gunakan saja apa yang ada di dekatnya.


Dwyne : “Dewa, sudahlah. Aku mengantuk”, kesal Dwyne yang selalu mendapat penolakan ketika hendak menutup teleponnya


Dewa : “Dwyne aku tahu kahu hanya ingin menghindar, benarkan?”


Dwyne : “Ck, dokter malas. Pasien mu lebih memerlukan waktumu”, ketus putri Rayden dan Nayla.


Dewa : “Memangnya istriku ini tidak memerlukan suaminya?”


Dwyne : “ Tidak”, tegasnya lalu memutar kedua bola mata malasnya.


Dewa : “Apa aku boleh meminta sesuatu darimu?”, Dewa tersenyum smirk.


Dwyne: “Hah? Apa itu?”


Dewa : “Katakan, kamu merindukanku”, ucap Dewa menatap tajam pada layar 7,5 inch.


Dwyne : Aku tdak mau, permintaan konyol apa itu?”

__ADS_1


Dewa : “Sekali saja, lihat Dwyne pasienku banyak dan kata-kata rindu dari suaramu membuatku semakin membuat ku semangat”


Dewa mengarahkan kamera pada pasien selama beberapa detik, karena sudah dua hari ini rumah sakit lebih ramai dari biasanya. Ia pun baru bisa istirahat sejak sore tadi.


Dewa : “Dwyne?, sekali saja”


Dwyne : “ Tidak Dewa, untuk apa aku bilang kata-kata tidak penting seperti itu”


Hati Dewa tercubit karena mendapat penolakan dari sang istri selain itu Dwyne mengalihkan pandangannya ke arah lain tak ingin menatap Dewa yang terlihat lelah dan wajahnya menunjukan rasa kecewa.


Dewa pikir selama satu bulan menjalani long distance marriage mampu mengubah Dwyne, membuka hati dan pikiran wanita itu untuk menerimanya sebagai suami tapi ternyata hubungan keduanya masih berjalan di tempat, Dewa lebih sering menghubungi sang istri lebih dulu itu pun perlu beberapa kali menelepon. Apalagi kalau hanya pesan sudah dipastikan tidak akan mendapat balasan.


“Dokter Dewa, pasien di sana membutuhkan bantuan”


Suara seorang wanita yang sangat dikenali oleh Dwyne mengalihkan perhatiannya, kini berubah menatap Dewa seolah ingin bertanya kenapa suara itu ada di dekatnya.


Dwyne : “Dewa”


Dewa : “ Dwyne selamat tidur, aku harus memeriksa pasienku”


Dwyne : “ Dewa tunggu, Dewa....”


“Apa dia mencari kesempatan ?”, gumam Dwyne.


Suara Dayana begitu jelas terdengar oleh Dwyne, meski keduanya bertugas tetap saja kakak sepupunya itu pasti mencari cara agar dekat dengan Dewa.


.


.


.


Empat hari dari sambungan video terakhir, Dewa tidak pernah lagi menghubungi istrinya baik menelepon atau sekadar mengirim pesan singkat memberi kabar. Hilang bagai di telan bumi, Dwyne menanti Dewa, sampai tiga hari ini dirinya tertidur hampir pagi karena menunggu tapi tak ada kabar apapun.


Pernah satu kali ia mencoba melakukan panggilan video malam hari tapi gagal, teleponnya tidak tersambung sama sekali, bahkan esok harinya Dewa tak kunjung membalas.


“Kenapa dia itu pemarah?, aku kira sikapnya berbeda dari pria lain ternyata sama saja”, gerutu Dwyne di atas sofa bed kamar.


Dwyne yang berpikir jika suaminya ini marah karena ia tak menuruti keinginan Dewa untuk mengatakan merindukannya suaminya, sebagai semangat saat menjalani tugas.


“Ish, kekanak-kanakan sekali”, umpatnya terus saja empat hari ini tak lepas dari smartphone mahalnya, beberapa menit selalu memeriksa isi pesan. Bahkan ketika rapat 3 hari yang lalu Asisten D saja sampai menggeleng kepala di tengah rapat nonanya ini bermain ponsel tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Memaksa memejamkan kedua mata karena tidak mungkin Dwyne tetap terjaga sampai matahari terbit, meskipun sulit akhirnya bisa terlelap tentu saja beralaskan sofa yang biasanya digunakan Dewa dengan selimut dan bantal milik suaminya.


Tidur selama 2 jam akhirnya Dwyne terbangun, “Ah ya ampun,aku terlambat”, loncat dari sofa dan segera membersihkan dirinya masuk ke kamar mandi. Bagaimana tidak biasanya wanita ini bangun 30 menit lebih awal tapi kini ia terlambat, karena akan mengunjungi salah satu mitra kerja sama perusahaan yang berlokasi di luar kota.


“Tidak biasanya nona seperti ini?”, lirik Asisten D pada lantai 2, ia menunggu lebih dari 30 menit.


“D, cepat”, ucap Dwyne berjalan cepat ke arahnya.


“Siap nona”


Keduanya menuju tempat yang telah di jadwalkan, hingga pukul 1 siang Dwyne dan asistennya masih sibuk. Mereka berdua melewatkan makan siang, sementara Dwyne sedari pagi belum mengisi perutnya dengan apapun, vitamin yang Dewa berikan tidak diminumnya.


“Nona, anda kenapa?”, Asisten D menahan tubuh Dwyne yang hampir kehilangan keseimbangan.


“Kita ke perusahaan, aku masih harus memeriksa beberapa laporan penting, kamu sudah meminta staf pemasaran menyiapkannya kan?”


“Sudah nona”


Menghabiskan waktu sekitar 2 jam Dwyne tak ingat jika dirinya harus makan, dirinya hanya kerja dan kerja memenuhi target yang telah di rancang. Sampai sore hari wanita ini masih betah dalam ruangan tak berniat mengakhiri pekerjaannya.


“Nona, permisi. Saya izin pulang karena ibu saya sakit. Sebaiknya nona juga pulang, wajah nona sedikit pucat”


“Sampaikan salam ku untuk ibumu D”


.


.


Tepat pukul 7 malam Dwyne selesai memeriksa semua laporan,ia turun ke lobby dan terkejut mendapati drivernya tidak ada di tempat karena mesin mobil Dwyne tiba-tiba mati.


“Ah, sial sekali hari ini”, umpatnya pelan sembari memijat pelipis yang terasa pusing.


“Nona Dwyne, masih di sini?”, tanya Zayn yang kebetulan baru akan pulang setelah membuat materi meeting Papa Rayden.


“Hem”


Zayn yang melihat putri bosnya pucat serta memejamkan kedua mata dengan memijat kepala, sudah dipastikan keadaannya tidak baik-baik saja.


“Aku akan mengantar nona pulang”


...TBC ...

__ADS_1


__ADS_2