
BAB 48
Kali ini Dwyne menutup kedua matanya merasakan betapa lembut lu***** yang dilakukan Dewa, kedua tanganya berpegangan pada sisi kanan dan kiri handuk Dewa, erat ya hanya memegang erat, tubuh Dwyne tiba-tiba lemas seperti terserap seluruh energinya oleh pria yang selalu membuatnya bingung ini.
Dwyne tidak membalas ciuman Dewa, bukan tidak ingin ya tentu saja ia ingin, terbuai oleh apa yang dirasakan nalurinya sebagai wanita tidak menolak, hanya saja Dwyne tidak tahu bagaimana cara membalasnya dan seperti apa.
“Manis”, bisik Dewa setelah pagutannya terlepas.
Sensasi merinding sekujur tubuh dapat Dwyne rasakan, menatap Dewa tidak seperti biasanya. Tangan pria ini pun membelai lembut pipi kemerahan Dwyne sementara tangan lainnya masih merengkuh erat di pinggul.
“Terima kasih tidak menolak”, ucap Dewa lantas kembali mengecup bibir pink itu sekilas dan beranjak memakai pakaiannya.
Dwyne menyentuh bibirnya, masih basah karena ulah Dewa. Ia menelan saliva, otaknya mengutuk kenapa tidak melawan atau melepaskan bogem pada suaminya itu. “Argh, kenapa hati dan pikiran ku berlawanan”, gumam Dwyne menahan suara agar suaminya tidak mendengar.
“Sebaiknya kita tidur, papa bilang kamu sakit. Aku periksa dulu, berbaringlah”, ucap Dewa berjalan mendekat dengan kaos abu-abu dan celana panjang begitu membuat kharismanya semakin keluar.
“Tidak perlu”, tolak Dwyne langsung membaringkan tubuh dan memunggungi suaminya.
“Jangan marah, atau kamu memang sengaja marah supaya aku menciummu, bukankah begitu istriku”, Dewa menaiki ranjang perlahan dan berbisik di telinga Dwyne.
Dwyne yang tengah dilanda gugup luar biasa semakin bertambah rasa gugupnya mendengar setiap untaian kata yang Dewa bisikan. “Apa-apaan kamu ini Dwyne?, bukankah sudah biasa banyak pria menggoda dan tetap tenang”, memaki dirinya sendiri dalam hati.
“Dewa”, Dwyne tersentak mendapati suaminya tiba-tiba memeluk dari belakang dan mengecup bahu mulusnya yang terbuka. “Lepas”, seru Dwyne.
“Sebentar sayang”, Dewa menarik napas dan menghembuskannya pelan tepat di bahu sang istri. “Maaf aku sempat tidak memberi kabar beberapa hari dan pulang mendadak”, ucap Dewa memberi penjelasan.
“Oh, tidak masalah”, ucap Dwyne menyangkal jika ia ingin mengetahui kemana dan kenapa suaminya menghilang. “Lepas Dewa, aku mau tidur”, Dwyne berusaha melepas tangan Dewa yang memeluknya.
Bukannya terlepas, dokter tampan dan baik hati ini malah semakin erat seolah istrinya akan pergi dan menghilang. “Selama 3 hari aku ditugaskan berjaga di klinik salah satu desa, dan kamu tahu tempatnya cukup jauh dari rumah sakit, sekitar 3 jam perjalanan, signal pun tidak ada. Kamu tahu sayang, betapa tersiksanya aku tak mendengar suaramu satu hari saja”.
“Benarkah?”, tanya Dwyne tapi sayang hanya dalam hati, dan tersenyum di lubuk hatinya. “Ck, kamu terlalu berlebihan Dewa”, kata-kata mematikan kembali keluar dari bibirnya, membuat Dewa sedikit lemas, sungguh di sayangkan padahal menantu Papa Rayden sangat berharap bisa mendengar kata-kata lembut dari bibir istrinya.
“Iya, maaf sayang aku tidak memberi kabar”
__ADS_1
“Apa kamu bersama Dayana, Dewa, cepat katakan aku ingin tahu”, penasaran Dwyne dalam hati, pertanyaan itu tertahan dan terkunci rapat di bibirnya.
“Aku juga fokus menjalani serangkaian tes spesialis. Kamu tahu Dwyne?, aku meminta jadwal pulang lebih cepat beberapa jam dari seharusnya dan aku cemburu karena kamu begitu dekat dengan Zayn, aku akui dia membantu tapi sangat lancang menyentuh wanitaku. Aku ingin kamu menjauh dari asisten papa”, jelas Dewa panjang lebar.
Senyum tipis tercetak di wajah istri Dewa Bagas Darka, “Apa benar kamu cemburu Dewa?”, lagi-lagi pertanyaan itu hanya bisa ia simpan dalam hati.
“Zayn membantuku tidak lebih”, sahut Dwyne.
“Iya tapi aku tidak suka kalian terlalu dekat”, lirih Dewa lalu menciumi bahu Dwyne yang harum.
“Ehem”, Dwyne memutar tubuhnya dan menatap kedua mata Dewa dengan lekat, pertanyaan yang sangat ingin ia tanyakan walau sepele juga memalukan. “Maksudmu kamu cemburu Dewa?”, tanya Dwyne menahan suaranya agar tidak terdengar sangat ingin tahu di telinga suaminya.
“Iya”, Dewa memainkan rambut Dwyne yang terurai dan menempel pada bantal. ”Maaf aku meninggalkanmu tadi pagi dan hari ini tidak memberi kabar”, lirih Dewa merasa bersalah tidak mengantar sang istri ke kantor.
“Ck, lagi pula aku masih ada supir jadi tak memerlukanmu”, seru Dwyne yang juga kesal ingat betapa ia menanti satu pesan dari Dewa.
“Hey, jangan begitu. Besok aku akan mengantarmu lagi”.
“Kenapa?, kamu marah?”
“Papa memberiku libur karena aku sakit”, jawab Dwyne sedikit memelankan suaranya.
"Bagus jika seperti itu, apa kamu mau di sini atau di rumah kita?, karena aku akan sibuk Dwyne dan malam hari tiba di rumah”.
“Aku mau di sini”, jawab Dwyne mengantuk lalu memejamkan kedua matanya dalam dekapan Dewa.
“Selamat tidur istriku, maafkan aku Dwyne karena terlalu mencintaimu sampai rasa cemburu menggelapkan hati juga pikiranku”, Dewa mengecup kening sang istri.
.
.
Keesokan pagi hari
__ADS_1
Dwyne tengah menyesap susu coklat dan memakan roti lapis di dapur, karena terlambat bangun ia harus tertinggal sarapan. “Dwyne, Oma Nilla telepon kapan kamu dan Dewa berkunjung?, oma kangen”, ucap Mama Nayla memotong aneka buah untuk putri tersayangnya.
“Oma menginap saja ma di rumah ku, biar aku jemput”, nada malas suara Dwyne.
“Kamu itu kenapa, satu atau dua hari menginap di sana tidak rugi, kamu bisa tempati kamar lama mama”, lanjut Nayla.
Sedangkan Dewa yang sengaja izin berangkat siang karena ingin mengawasi sang istri, menguping dibalik dinding percakapan antara ibu dan anak itu. Teringat permintaan Oma Nilla untuk membawa Dwyne menginap.
“Ma, ayolah. Lagi pula di sana aku tidak leluasa”, ucap Dwyne malas mengingat ada Dayana di rumah masa kecil Mama Nayla.
“Terserah, kamu dan Dariel sama-sama keras kepala seperti papa”,omel Mama Nayla yang pergi dari dapur.
“Pagi menantu ganteng mama”, sapa Nayla begitu lembut.
“Pagi ma, Dwyne dimana ma?”, tanya Dewa pura-pura tidak tahu. Mama Nayla hanya menjawab dengan jari telunjuknya yang mengarah pada dapur bersih tempat dimana Dwyne duduk.
Dewa tersenyum dan membuka tangan lebar memeluk wanitanya dari belakang, “Pagi cantik, kamu sudah sarapan?, jangan lupa minum vitamin”.
“Kenapa banyak sekali mulut bawel di rumah ini”, seru Dwyne tidak nyaman berada dalam pelukan Dewa, lagi-lagi bukan karena tidak mau tetapi malu pada seisi rumah.
“Dwyne?”
“Hem?”
“Bagaimana kalau akhir pekan nanti kita menginap di rumah Oma Nilla?, mau kan?, satu hari saja”
“Oh rupanya keahlianmu bertambah selain bisa mengobati pasien sekarang menjadi peguping handal”, Dwyen menepuk tangan, sebal dengan ajakan suaminya.
“Tidak, siapa bilang keahlian ku hanya dua itu”, goda Dewa, “Aku beritahu keahlian lain yang aku bisa setelah bersamamu Dwyne”.
Dwyne yang tidak mengerti menatap Dewa bingung dan dengan cepat Dewa memagut sang istri, kembali menikmati bibir kenyal Dwyne.
...TBC...
__ADS_1