
BAB 50
Dewa : “ Ternyata istriku makannya banyak, jangan lupa istirahat. Sampai jumpa nanti malam sayang”
Dwnye : “Ck enak saja mengejekku”
Dwyne menutup sambungan video yang berlangsung, melihat Dewa tertawa lepas semakin membuat dirinya merasa sesuatu entah apa itu.
Dwyne memasuki ruang kerja Papa Rayden mencari buku untuk mengusir rasa jenuhnya, tak sengaja menyenggol satu map berisi bukti transaksi. Sembari membereskan Dwyne membacanya dan betapa terkejutnya ia ternyata Dewa sudah hampir melunasi hutangnya di masa lalu, ternyata kata-kata suaminya dibuktikan.
Dibawanya map berisi lembaran kertas dan duduk di kursi kebesaran Papa Rayden, memeriksa satu per satu lebih detil. Dwyne menelan saliva akhirnya pria itu sebentar lagi melunasi semua hutang keluarganya di masa lalu dan apa itu artinya Dwyne harus mengakhiri hubungan dengan Dewa?.
Sedetik kemudian Dwyne menggeleng kepala cepat, sepertinya alam bawah sadar tidak menginginkan perpisahan. “Ah tidak, kenapa aku bisa berpikir seperti itu?”, gumamnya pelan. Menyimpan kembali map di atas meja dan keluar membawa beberapa buku, duduk bersantai bersama Mama Nayla di taman belakang.
“Sayang, apa sudah ada tanda-tanda?”, tanya Mama Nayla usai menyesap teh hangat.
“Tanda?, tanda apa ma?”, tanya Dwyne kebingungan dan menutup bukunya.
“Kamu ini sudah menikah beberapa bulan tapi masih tidak mengerti, apa sudah ada tanda positif hamil?”, lanjut Mama Nayla membuat Dwyne tersedak oleh air teh.
“Uhuuk”
“Sayang, aduh maaf mama terlalu ikut campur”, mengusap punggung putrinya. “Kalau kamu belum hamil, sebaiknya periksa kondisi kandungan, mama harap kalian baik-baik saja”, Nayla mengingat masa lalunya yang begitu sulit mendapatkan Dwyne dan Dariel, ia tidak ingin kedua putrinya mengalami nasib serupa.
“Apa ma? Ha-hamil?, aku masih terlalu muda untuk hamil, bisa nanti saja”, Dwyne memaksakan senyum melengkung di bibirnya.
“Dwyne?”
__ADS_1
“Apa ma?”, Dwyne menutup wajahnya dengan buku tebal, menghindari tatapan Mama Nayla.
“Jangan katakan kalian belum....”
“Belum?, belum apa ma?”, lagi-lagi Dwyne yang bingung, untuk masalah percintaan memang dirinya nampak bodoh berbeda dengan masalah bisnis maka akan cepat tanggap.
“Belum melakukan hubungan suami istri?”, Mama Nayla yang begitu penasaran menggebu ingin tahu.
“Apa?, aku.....aku”, gugup Dwyne. “Ya ampun kenapa mama bertanya hal seperti itu”, batinnya mengeluh.
“Dwyne?”
“Ma, aku pusing sepertinya efek vitamin. Aku ke kamar ya ma”, Dwyne lari sangat cepat menghindari pertanyaan mamanya.
.
.
Sedangkan Dewa yang baru tiba 30 menit yang lalu, kini telah segar mandi air hangat dan mengeringkan rambutnya, keluar dari kamar mandi hanya menggunakan celana panjang tanpa menutupi tubuh bagian atas yang terlihat berotot namun tak berlebih.
Dwyne fokus pada potongan buah di atas piring, tidak sadar jika Dewa semakin mendekat dan membuka tangannya lebar-lebar, lalu memeluk Dwyne dari belakang. Seketika wanita cantik ini tersentak dengan potongan buah yang belum sepenuhnya masuk ke dalam mulut, kulit keduanya menempel. Dwyne yang hanya menggunakan dress tipis dengan bahu terbuka dan Dewa yang belum memakai bajunya. “Dewa”, ucapnya dalam hati.
Dwyne menoleh kepada suaminya, matanya mengedip perlahan. Dewa yang merasa gemas apalagi ada potongan buah apel di bibir sang istri, tanpa aba-aba memagut bibir kenyal nan manis wanita di depannya ini. Menikmati buah apel sekaligus mencium Dwyne Bradley, tak ingin berakhir begitu saja Dewa memutar tubuh istri arogan miliknya ini sehingga mereka saling berhadapan. Menahan kepala Dwyne agar tidak menjauh, sementara tangan lainnya tepat berada di punggung mulus sang istri.
Telah berkali-kali mengecap manisnya bibir pink itu masih juga tak menerima balasan, akhirnya Dewa mengikuti instingnya sebagai seorang pria. Menggigit pelan dan lembut bibir bawah sang istri hingga terbuka dan membiarkan indra pengecapnya memasuki rongga dengan deret gigi putih bersih. Tentu Dwyne tersentak, tubuhnya memberontak namun Dewa dapat dengan mudah mengatasi gerakan itu.
Dwyne yang baru pertama kali merasa sensasi panas dalam diri sekaligus lemas, tidak sadar mengalungkan kedua lengannya di leher Dewa, berpegangan supaya tidak jatuh tujuannya. Namun Dewa menanggapinya lain, dengan cepat pria ini membawa sang istri pada ranjang mereka yang hanya beberapa langkah.
__ADS_1
“Ya ampun akhirnya aku tidak akan jatuh, eh tunggu apa yang dia lakukan?”, ucap Dwyne dalam hatinya. Karena Dewa tak melepas pagutannya ditambah memainkan tali dress di bahu Dwyne. Ia yang mulai kehabisan napas memukul dada bidang suaminya sangat keras, “Dewa kamu mau membunuhku?, kamu tidak waras”, seru Dwyne menghapus kasar bibirnya.
“Dwyne maaf aku hilang kendali”, Dewa meraih kedua tangan sang istri menggenggamnya erat.
“Jangan lakukan lagi”, ucap Dwyne sedikit takut.
“Tapi tadi aku merasa sesuatu yang aneh, apa itu? Kenapa seluruh badan lemas? Apa iya aku kurang makan?”, tanyanya dalam hati, namun kedua bola matanya melirik ke atas dan tentu Dewa tahu istri arogannya ini tengah berpikir.
“Kamu memikirkan apa?”, goda Dewa.
“APA?, aku tidak mau kamu lakukan hal itu lagi”, Dwyne memasang mimik wajah penuh keangkuhan.
“Ok, hal apa?”, tanya Dewa masih tetap menggoda wanita yang tengah gugup luar biasa.
“Itu tadi”. Dwyne menjentikkan jemari lentiknya ke udara.
“Maksudmu seperti ini?”, Dewa mengecup bibir manis sang istri dengan singkat. ”Kamu gugup sayang?, aku juga gugup jika kita terus berdekatan seperti ini”, bisik Dewa di telinga Dwyne.
“Ck, siapa bilang aku gugup? Mana mungkin”, Dwyne mengelak dari kenyataan, ia bahkan menginginkan lebih dari Dewa ya dari sekedar ciuman, reaksi hormon di tubuhnya berkata lain.
“Pegang di sini, berdetak cepat bukan?”, Dewa menempelkan telapak tangan Dwyne di atas dadanya, merasakan bagaimana getaran jantungnya sangat cepat.
“Eh aku kira, dia tidak tapi ternyata sama”, batin Dwyne. “Tentu saja ini karena kita masih hidup”, ucap mulutnya yang sedikit membengkak.
“Kamu tahu Dwyne, sejak pertemuan kita beberapa belas tahun lalu aku sudah jatuh cinta padamu, aku bertekad setelah dewasa akan mencari dan menemui perempuan sangat aku cintai, tak di duga takdir membawaku pada mu, wanita pujaanku Dwyne Julliete Bradley”, mengecup satu tangan Dwyne.
Dwyne bergeming, hanya bisa menelan saliva sungguh ia dibuat bingung dengan situasi seperti ini. Ingin pergi meninggalkan Dewa namun tubuhnya seakan menempel pada ranjang, seolah terdapat magnet yang tak bisa dilepas.
__ADS_1
Keduanya saling bertatapan dalam pikirannya masing-masing, Dewa menatap puja pada istri arogannya. “Jadilah milikku seutuhnya Dwyne Julliete Bradley, jadilah istri dari Dewa Bagas Darka yang akan menua bersama, jadilah ibu dari anak-anakku, apapun akan aku berikan untukmu Dwyne, aku mencintaimu sayang”, Dewa mendekat lalu menyatukan bibirnya kembali dengan wanita pujaannya.
...TBC...