Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 38 - Relawan


__ADS_3

BAB 38


Usai menerima telepon dari seseorang, Dewa mengakhiri makan malam bersama istrinya. Dwyne hanya melihat tanpa mau bertanya kenapa suami menegang.


“Dwyne, maaf aku harus ke rumah sakit”, ujar Dewa


“Rumah sakit?”, gumam Dwyne merasa kebingungan, karena tak ada informasi apapun yang sampai ke telinganya mengenai GB Hospital.


“Iya, kamu makanlah dan jangan tunggu aku, aku tidak mau kamu sakit”, ucap Dewa sembari memakai jaket dan memasang jam tangan. “Aku berangkat sayang”, tanpa sadar Dewa mencium puncak kepala istrinya.


Dwyne dibuat bingung dan sedikit salah tingkah oleh suaminya itu. Selepas Dewa pergi menuju rumah sakit, ia memilih untuk merebahkan tubuh dan napsu makan malam hilang padahal makanan itu sangat lezat. Tidak adanya keberadaan seseorang lah yang membuat rasa menjadi hambar.


**


Dewa tiba di GB Hospital segera melangkah masuk bersama Cakra yang menunggunya di depan pintu masuk. Tidak hanya mereka berdua tetapi banyak dokter umum lainnya serta beberapa dokter spesialis dan hampir seluruh dokter koas berkumpul di lobby rumah sakit.


Semua duduk menyimak apa yang di sampaikan direktur rumah sakit, rupanya semua dokter berkumpul akan menjadi relawan rumah sakit di tempat yang cukup jauh dari jangkauan. Direktur mendapat pesan jika terjadi lonjakan pasien sementara kekurangan tenaga medis dan berakibat pada lambatnya penanganan pasien.


Semua dokter akan diberangkatkan pada esok pagi hari, semuanya mengangguk paham atas perintah direktur dan segera mempersiapkan diri. Cukup lama mendengar apa yang di sampaikan pria paruh baya di depan, sampai memakan waktu lebih dari 1 jam. Dan selama ini juga pandangan Dayana terarah pada suami adik sepupunya, Cakra sengaja menghalangi pemandangan Dayana, sehingga hanya tangan dan kaki Dewa yang dilihatnya.


“Dewa, apa semua dokter koas yang hadir malam ini juga ikut”, tanya cakra seraya kedua mata melirik pada Dayana.


“Ya, kau dengar di sana sangat kekurangan dokter”, jelas Dewa.


**


Rumah Dewa dan Dwyne


“Apa? Relawan?”, tanya Dwyne sedikit terkejut menerima telepon dari Papa Rayden.


“Iya Dewa berangkat, apa dia juga ikut?”

__ADS_1


“Oh, Aku baik-baik saja Pa, Ma”


Sambungan telepon terputus Dwyne menyimpannya asal dan kembali merebahkan diri, menerima kabar dari Papa Rayden yang membuat pikiran serta hatinya tidak tenang. “Jadi dia akan pergi selama beberapa bulan”, gumamnya tak ingin menutup mata, menunggu suami dokternya kembali pulang ke rumah.


Berselang 15 menit suara mobil terdengar, Dewa pun segera naik ke lantai 2 memasuki kamar mencari istrinya untuk membicarakan hal penting.


“Dwyne apa kamu tidur?”, tanya Dewa sesaat memasuki kamar.


“Kenapa?”


“Begini Dwyne, aku dan dokter lainnya besok pagi sekali harus pergi ke rumah sakit di daerah tertentu karena kekurangan tenaga medis, dan  -“.


“Aku tahu, pergilah”, datar Dwyne. “Apa Dayana juga ikut?”, batin Dwyne ingin bertanya tapi egonya menghalangi sekuat tenaga.


Dewa kecewa karena istrinya tidak menahannya pergi, bukan ia tak ingin menjadi relawan hanya saja sikap Dwyne semakin tidak dapat dimengerti.


.


.


“Dewa aku ngantuk, lagipula lihat ini jam berapa”, tunjuk Dwyne pada jam di atas nakas.


“Baiklah, tidur yang nyenyak, aku akan menghubungimu. Sampai ketemu istriku”, Dewa mencium kening Dwyne. Seketika wanita arogan ini membuka kedua bola matanya.


“Dewa”, panggil Dwyne menghentikan langkah kaki suaminya. “Aku ikut, mengantarmu. Tunggu sebentar”, beranjak dari kasur dengan cepat merapikan penampilannya.


Dewa tersenyum menunggu istri cantiknya selesai, sebelumnya Dewa pernah menjadi seorang relawan lebih dari 3 bulan lamanya namun tidak membuat beban di hati, ia senang menjalani profesinya ini namun berbeda saat ini ada sesuatu yang mengganjal di hati meninggalkan sang istri dalam waktu cukup lama bahkan sangat lama rasanya bagi Dewa. Dirinya berharap ketika kembali nanti Dwyne telah membuka hati untuknya.


“Aku siap”, ucap Dwyne membuyarkan lamunan Dewa.


“Ayo”, Dewa hendak meraih tangan istrinya namun Dwyne lebih dulu menghindar.

__ADS_1


“Kamu tidak mau sampai tertinggal pesawat kan? Sebaiknya cepat”.


Dewa mensejajarkan langkah kaki dengan Dwyne Bradley menuju mobil yang akan mengantar keduanya ke bandara.


“Jaga dirimu baik-baik, jangan terlalu lelah berkerja, minum vitamin yang aku berikan dan .....”


“Kamu ini bawel sekali Dewa, aku bukan anak kecil harus selalu diingatkan”, gerutu Dwyne lalu memajukan sedikit bibirnya. “Seharusnya nasehat itu lebih cocok untukmu, kamu pun lupa menjaga kesehatan, huh”.


Driver yang serius mengendarai mobil hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena cukup sering menyaksikan perdebatan antara nona muda dan suaminya. Padahal sepengetahuannya dahulu Nyonya Nayla sangat manis dan cukup penurut pada Tuan Rayden, tidak seperti Nona Dwyne. Sedangkan sikap keras mungkin menurun dari Rayden Bradley.


Matahari belum menampakan sinarnya, Dwyne dan Dewa telah tiba di bandara. Cukup ramai apalagi hampir seluruh dokter koas pun ikut dalam bantuan tenaga medis kali ini. Dayana tersenyum melihat Dewa berjalan mendekat tapi senyumnya itu hilang mana kala Dwyne muncul dari balik punggung suaminya, menatap tajam pada Dayana.


“Jadi mereka akan menghabiskan waktu bersama di sana”, batin Dwyne, ia tersenyum kecut.


“Ada apa?, sebaiknya kita duduk di sana”, ajak Dewa menggenggam tangan wanitanya, kali ini Dwyne tidak menolah menurut saja kemana Dewa membawanya. “Kita harus selalu menjaga komunikasi Dwyne, aku menunggu telepon mu jangan sungkan menghubungiku lebih dulu”, ucap Dewa membelai lembut punggung tangan istrinya.


“Dewa, ayo kita masuk. Permisi Nona Dwyne”, ucap Cakra mengingat waktu take off pesawat.


“Ok, duluan saja Cakra, aku menyusul”, ucap Dewa. Pria yang rajin berolahraga ini memeluk istrinya sangat erat, menghirup rakus aroma tubuh Dwyne. “Aku pasti akan merindukan mu Dwyne”, bisik Dewa.


Sementara Dwyne ragu membalas pelukan Dewa, tapi mengingat Dayana ia pun menggerakkan tangan memeluk suaminya walau hanya bisa dikatakan memegang jaket Dewa. “Hem ya”, tanggapan Dwyne masih tetap dingin.


Dewa melepaskan pelukannya, kini satu tangan meraih dagu Dwyne, membelai area itu penuh kasih sayang, merambat naik ke atas pada bibir pink yang tidak pernah mengucapkan kata-kata hangat itu.


“Bolehkah?”, tanya Dewa.


“Maksudmu?”, Dwyne mengerutkan kening tidak mengerti apa maksud suami tampannya ini.


“Sebentar saja”, lirih Dewa, langsung mencium lembut bibir kenyal istrinya. Mengundang perhatian rekan lain dan tentu Dayana teriris perih menyaksikan pemandangan menyesakan dada.


“Aku tidak akan berhenti mendapatkan perhatian dan hatimu Dokter Dewa”, Dayana mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya. Berjalan cepat melewati sejoli yang sedang melepas kepergian pasangannya, memberi salam perpisahan cukup menyakitkan bagi Aileen Dayana Kei.

__ADS_1


“Aku pergi, aku mencintaimu Dwyne”, ucap Dewa dengan kening keduanya saling menempel.


Tbc


__ADS_2