
BAB 94
“Hi Jagoan Papa, bagaimana kabarmu? Papa ingin sekali menggendong mu Arkatama”, Dewa tersenyum sembari mengusap kaca di depannya.
“Kondisinya semakin baik, Dokter Dewa, kemajuan pesat, lihat saja dalam waktu satu minggu alat bantu pernafasannya sudah dilepas, semoga kedepannya semua alat bisa kita lepas, dan kalau terus menunjukan perkembangan , sekitar 2 sampai 3 minggu putra anda sudah bisa pulang ke rumah”, jelas Dokter Spesialis Anak yang menangani Arkatama Denver.
“Terima kasih dokter atas dedikasi tinggi merawat putraku”
“Aku tidak pernah melihat kalian datang berdua, apa kalian masih bertengkar?”
“Ah, hubungan kami semakin baik setiap hari, dok”
“Bagus Dewa, Arkatama membutuhkan kedua orang tuanya. Dan pasti dengan hadirnya anak semakin mempererat hubungan pernikahan kalian”, timpal Dokter Spesialis Anak yang usianya jauh dari Dewa.
Pulang dari Universitas Dewa selalu tidur di depan ruang NICU, pulang ke rumah pun percuma karena Dwyne tak ada di sana. Menyambangi rumah mertua juga sia-sia Dwyne mengusir dirinya, dan hanya di rumah sakit inilah Dewa pulang, tidur bersama putra kecilnya.
“Papa ada disini sayang , tidurlah yang nyenyak putraku”.
.
.
**
2 minggu berlalu
Dwyne mulai disibukkan dengan beragam pekerjaan kantor di rumahnya, bahkan beberapa kali ia keluar rumah diantar supir untuk meninjau langsung proses pembuatan iklan yang berlangsung. Larangan dari Papa Rayden dan Mama Nayla diabaikannya.
Dewa masih tetap mengirim bunga untuk istri tercinta, bahkan setelah tahu Dwyne mulai aktif berkerja, Dewa mengirim lebih pagi bunga mawar putih. Lagi dan lagi buket itu berakhir di taman belakang rumah kediaman Bradley serta kartu ucapan yang tidak pernah Dwyne baca lagi.
“Dwyne? Bukankan hari ini Denver boleh pulang, kenapa masih kesini? Sebaiknya kamu jemput keponakanku itu”, Dariel gemas pada kembarannya yang selalu keras kepala.
“Aku sudah konfirmasi dokter, dan sore ini Denver boleh keluar rumah sakit”, Dwyne fokus melihat pada layar kecil yang menampilkan rekaman produk kesehatan perusahaannya.
“Apa kakak ipar juga ikut?”, selidik Dariel, padahal ia tahu jika Dewa hari ini libur perkuliahan, sengaja menunggu istrinya datang menjemput buah hati mereka.
“Aku tidak peduli”, Dwyne mengedikkan bahu.
__ADS_1
“Kau itu memang keras kepala, apa tidak kasihan pada taman belakang rumah, hah? Sesak dan banyak buket bunga di sana, maafkan kakak ipar”, Dariel merayu saudarinya, bagaimana pun ini bukan kesalahan Dewa, hanya Dwyne belum bisa menerima kenyataan.
“Kalian sesama pria sama saja, huh”
**
Dwyne dan Dariel tiba di GB Hospital, twin D pewaris kerajaan bisnis milik Rayden Bradley ini berjalan beriringan. Sampai di depan pintu NICU tiba-tiba terbuka, Dwyne tertegun Dewa menggendong bayi mungilnya nampak menggemaskan dalam balutan selimut biru.
Senyum merekah Dewa menghiasi wajah tampannya, terarah pada Dwyne. “Sayang”, panggil Dewa.
“Ya?”, terpaksa Dewa menyahuti dokter tampan di depannya karena ada beberapa rekan kerja Dewa berdiri di sekitar mereka.
“Lihat Denver mama datang menjemputmu sayang”, Dwyne melabuhkan ciuman di kepala anaknya.
Dewa memanfaatkan kesempatan, ia merangkul bahu sang istri mendekat padanya, “Sayang, aku merindukanmu”, bisik Dewa membuat Dwyne seketika berdesir. “Jangan menjauh sayang, lihat kita menjadi pusat perhatian”.
“DASAR PRIA”, kesal Dwyne di hati.
“Ehem, kakak ipar biar aku yang menggendong keponakan ku”, tawar Dariel.
“Aku saja”, tegas Dwyne.
Dwyne mendelik tajam pada suami tampannya, sedangkan Dewa hanya tersenyum manis seraya mengangguk membenarkan apa kata adik ipar jahilnya itu.
“Ayo”, Dewa menautkan jemari pada jari tangan istri arogan miliknya.
“Cari kesempatan”, keluh Dwyne.
“Memang”, Dewa tiba-tiba mencium pipi manis yang sangat ia rindukan.
Untung saja Dariel berjalan di depan keduanya, jika tidak pria tampan itu pasti akan mencak-mencak karena dirinya masih jomblo.
Sampai di pelataran rumah sakit, Dewa membuka pintu mobil untuk istri tercinta, mempersilahkan wanitanya masuk. “Jagalah anak kita sayang, apa mulai hari ini kita bisa kembali bersama?”, sorot mata mengiba terlihat jelas dari manik hitam Dewa.
“Tentu saja kakak ipar”, jawab Dariel.
“Tidak”, timpal Dwyne tegas. “Aku tidak mau”, menatap tajam pada suaminya yang menahan pintu.
__ADS_1
“Pak, ayo jalan”, perintah Dwyne pada supir.
Dewa hanya bisa bersabar mendapati sikap keras Dwyne. Ia tidak akan diam begitu saja pada nasib pernikahan yang renggang karena kesalahpahaman ini.
“Tunggu papa di rumah, sayang”, ucap Dewa seolah bicara pada putra mungilnya.
Sedangkan di dalam mobil Dwyne mengambil alih Denver dari tangan Dariel, “Kemarikan putraku, huh, kau ingin menguasainya ya?”, Dwyne memajukan bibir.
“Hey, aku hanya ingin menggendong keponakanku, benarkan Denver. Mulai sekarang kau harus memanggilku DADDY, ya benar DADDY DARIEL”.
Sontak Dwyne memukul kepala kembarannya dengan tas kecil di samping tubuh, “Enak saja meminta putraku memanggil Daddy, kau bukan ayahnya tahu kan?”, berang Dwyne.
“Iya iya, cukup. Suara mu itu sangat mengganggu”, balas Dariel.
Mobil yang ditumpangi triple D memasuki pagar hitam menjulang tinggi, Mama Nayla bersama Tante Kezia menunggu kehadiran anggota keluarga baru mereka. Steve dan Brady tidak kalah antusias, bahkan dua pria yang selalu berdebat ini siap membuka pintu mobil.
“Welcome Home Arkatama Denver Bradley”, sambut Steve dan Brady.
“Terima kasih Steve, Brady”, senyum Dwyne tapi seketika Dariel melempar tas bayi kearah keduanya.
“Bawalah jangan hanya menyambut tapi tidak membantu”, ketus Dariel.
“Ck tuan muda satu ini sangat menyebalkan”, kelakar Steve pada sepupunya.
Baby Denver menjadi rebutan antara Oma Nayla dan Kezia, bagaimana tidak bayi laki-laki ini adalah satu-satu cucu dan pertama lahir keluarga besarnya, selain itu anak Mami Kezia belum ada keinginan menikah dari ketiga putranya.
“Mama, tidak melihat Dewa, dimana suamimu itu?”
“Ummm, aku..... aku”, bingung Dwyne menjawab pertanyaan mamanya.
“Kamu masih belum memaafkannya? Dwyne berapa kali mama bilang kalau ini bukan salah Dewa, nak. Cobalah melunak, jangan seperti ini. Denver membutuhkan kasih sayang utuh kedua orang tuanya, sayang”.
“Iya mah, Dwyne ke kamar dulu, boleh titip Denver?”, Dwyne ingin menyendiri dan meresapi kata-kata mamanya, tak ingin Denver menjadi pelampiasan ia pun menitipkan putra kecilnya pada Mama Nayla.
“Oh tentu sayang, istirahat lah, mama akan menjaga Denver dengan baik”.
Masuk kamar, Dwnye menghempas tubuhnya ke atas ranjang, pusing mendera kepalanya, ia pun bingung harus bagaimana, memaafkan Dewa namun hatinya masih terasa sakit dan kesal pada suaminya itu.
__ADS_1
Mendadak perhatiannya teralih pada ponsel yang bergetar di dalam tas, bergegas Dwyne mengambil dan keningnya sedikit mengkerut membaca nama penelepon.
...TBC...