Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 55 - Karena Ide Memalukan


__ADS_3

BAB 55


“Dewa?”


“Kenapa tidak ikut Asisten D ke kantin?”, tanya Dewa tanpa ekspresi.


“Hah?, dia masih perhatian rupanya”, batin Dwyne.


“Aku tidak lapar”, jawab Dwyne tidak kalah dingin dan datar, ia bingung antara senang atau tidak, karena perhatian Dewa saat ini terasa hambar.


Tanpa kata Dewa menarik tangan Dwyne dan menggenggamnya, membawa wanita itu berjalan keluar ruang rapat. “Dewa, lepas. Mau kemana?”.


Dokter tampan ini hanya diam tak menanggapi pertanyaan juga wajah kesal istrinya, tujuan Dewa hanya satu yaitu kantin rumah sakit. Meskipun ia kecewa tetapi Dwyne tetaplah istri yang menjadi tanggung jawabnya. Dirinya juga sangat mencintai wanita arogan yang saat ini mensejajarkan langkah dengannya.


“Kita mau kemana?”, tanya Dwyne terus melangkah tanpa tahu arah.


Dewa hanya diam membisu, lelah berdebat bersama istri cantiknya. Ia hanya ingin ketenangan dan bukan mencari masalah baru, biarlah diam saat ini bukan karena takut tapi menunggu waktu yang tepat agar semuanya berubah sesuai harapan.


“Oh, kantin”, nada datar Dwyne sesaat keduanya tiba di depan pintu kaca, terlihat juga Asisten D tengah melahap makan siangnya.


“Ayo makan”, ajak Dewa masuk, lalu menarik kursi untuk Dwyne.


“Aku tidak lapar, Dewa kau itu mengerti atau tidak sih?”, ketus Dwyne memelankan intonasi suaranya.


Lagi-lagi Dewa hanya berjalan menjauh tak menghiraukan ocehan Dwyne, ia memesan 2 porsi makanan dan membawanya ke meja yang ditempati sang istri.


“Buka mulutmu”, titah Dewa dingin.


“APA?, hmmm”, Dewa tidak sia-siakan mulut Dwyne yang terbuka, ia langsung menyuapi istrinya satu sendok makanan.


“Makanlah Dwyne, aku tidak mau kamu sakit”, batin Dewa yang ingin sekali mengecup punggung tangan sang istri yang ada di depannya.


Dwyne yang memang masih meninggikan egonya, tetap menolak makanan di suapan ke 3, bahkan membuang muka ke arah lain, rasanya sakit melihat Dewa yang tidak lagi bersikap manis padanya. Sungguh Dwyne si wanita arogan putri Rayden dan Nayla sangat merindukan kasih sayang suaminya,


“Dimana Dewa yang dulu?”, tanyanya dalam hati.


Tak ada lagi bujuk rayu meminta dirinya makan, Dewa malah asyik menyantap makanan miliknya, tidak peduli Dwyne yang menatap nanar sang suami. Lagi pula wanita ini sudah dewasa apa iya ketika lapar harus di suapi terus menerus seperti anak kecil,pikir Dewa.


“Apa kamu tidak ke Universitas?”, tanya Dwyne usai Dewa menghabiskan satu porsi makanan.


“Sebentar lagi”


“Lalu?”

__ADS_1


“Lalu?”


“Ck, apa sore nanti juga mau praktik di klinik?”, tanya Dwyne ingin tahu, ia mulai mengetikkan pesan pada Asisten D.


“Kau kembali lah ke kantor,nanti aku menyusul”


Pesannya pada asisten yang telah dianggap sebagai adik itu.


“Semoga berhasil”, pikir Dwyne.


“Tentu, itu tanggung jawab”, sahut Dewa tidak mau menatap Dwyne, dia lebih senang melihat orang lalu lalang di sekitar kantin.


“Permisi aku harus segera berangkat”, pamit Dewa melangkah keluar kantin meninggalkan Dwyne sendirian di meja itu, tapi yang jelas Dewa tahu jika Asisten D akan menemaninya di meja makan.


Dengan tas ransel di punggung dan laptop di tangan, Dewa membuka pintu mobil, menyimpan barang-barang di kursi belakang. Sesaat menutup pintu, dia terperanjat melihat wanita tersenyum padanya.


“Ada apa?”


“Dokter apa aku bisa menumpang?, dokter mau ke Universitas kan?. Aku harus mengumpulkan tugas ini pada dosen”


“Ya,masuklah. Tujuan kita sama”, ucap Dewa.


“Terima kasih”, girangnya.


Dewa mulai menyalakan mesin mobil dan melaju dari area parkir menuju Universitas dengan Dayana yang duduk di sampingnya.


Tadinya ia bermaksud meminta Dewa untuk mengantarnya ke kantor, tapi setelah menyusul ke area parkir, ternyata dirinya kalah cepat dari Dayana.


“Ah, sial. Awas saja kau Dayana”, geram Dwyne, yang kini harus menunggu supir kantor menjemputnya karena Asisten D bersama supirnya telah kembali lebih dulu.


“Kenapa Dewa pergi dengan Dayana?, apa wanita itu berhasil merebut Dewa?, kurang ajar sekali”, mengepalkan kedua tangan, berjalan masuk menunggu di lobby rumah sakit sembari memainkan gawai.


“Ah kenapa lama sekali”, gerutu Dwyne mulai lelah menunggu.


Akhirnya setelah 20 menit supir kantor datang menjemputnya, dengan wajah menunduk supir itu takut jika Dwyne akan memarahi karena saat ini suasana hati nona bosnya sedang tidak baik-baik saja.


“Lama sekali”, kesal Dwyne setelah mobil itu mulai jalan.


“Maaf nona”


“Sudahlah, bukan salah bapak”, Dwyne akui kenapa juga ide memalukan, bodoh dan murahan sempat terlintas dalam benaknya hinga ia meminta Asisten D kembali lebih dulu, kini dirinya sendiri juga merepotkan orang lain.


Dwyne menghubungi Asisten D untuk memberikan bonus tambahan pada supir yang siang ini menjemputnya.

__ADS_1


“Terima kasih nona”


“Ya”


.


.


.


“Nona, kenapa memintaku pulang kalau nona sendiri minta di jemput?, pantas saja aku khawatir”, ucap Asisten D yang sudah menunggu Dwyne di depan pintu utama perusahaan.


“Kepala ku pusing, D”, keluh Dwyne.


“Nona kan tadi tidak makan siang, aku pesankan makanan dulu ya, ayo nona”, Asisten D memegang erat Dwyne agar tidak terjatuh, ya hanya Asisten D lah yang berhak berdekatan seperti ini dengan nona bosnya, bahkan berani menyentuh Dwyne.


“Nona tunggu ya”, papar wanita cantik yang tertutupi kacamata besar ini.


“Aduh, bagaimana ini?, nanti sore ada pertemuan dengan Mr Lee di salah satu hotel, jika nona memintaku menggantikannya pasti Mr Lee akan membatalkan kontrak yang sudah disepakati”, asisten yang baik juga cerdas memikirkan kemungkinan perusahaan akan kehilangan keuntungan jika batal kerja sama dengan Mr Lee. Juga berimbas pada bonusnya, atau mungkin seluruh pegawai tidak akan menerima bonus.


Asisten D berjalan terburu-buru memasuki pantry menyajikan sup dan nasi serta jus buah untuk Dwyne, ia segera membawanya karena tidak mau nona bosnya sakit.


“Permisi nona, ini dimakan ya. Aku khawatir pada nona.


“Kau memang paling bisa diandalkan D”, Dwyne mulai meraih sendok dan mengisi dengan makanan juga memasukan dalam mulut. Walaupun tidak sampai habis setidaknya Dwyne makan agar tubuhnya tidak drop.


Asisten pribadinya masih setia menunggu dalam ruangan, ia mulai membacakan jadwal kegiatan nona bosnya untuk sore ini. Juga malam hari yang harus menghadiri undangan dari salah satu rekan bisnis G&B.


“Ck, dia lagi.Apa bukan perwakilan Mr Lee?”, tanya Dwyne sangat malas menemui dokter yang satu itu.


“Bukan Nona, tapi tenang saja aku akan menemani nona”, sahut D bangga.


.


.


Sore hari, Dwyne bersama asistennya tiba di salah satu hotel milik Papa Rayden. Keduanya memasuki restoran dan melihat jika Mr Lee beserta beberapa ajudannya lebih dulu tiba.


“D, minta beberapa pengawal berjaga di sini, entah kenapa perasaanku tidak enak”, jujur Dwyne agar keduanya lebih mempersiapkan diri menghadapi pria yang tengah menunggu itu.


...TBC ...


...****...

__ADS_1


...Tetap dukun author terus ya...


...Terima masih...


__ADS_2