Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 75 - Terkejut akan kebenaran


__ADS_3

BAB 75


“Dwyne?”


“Dewa?”


Ucap keduanya bersamaan, lalu mereka tertawa ringan di tengah malam yang sunyi. Bahkan Papa Rayden dan Dariel pun terlelap di sofa yang nyaman seperti kasur. Tak terusik sedikit pun oleh dua orang yang tertawa.


“Kamu dulu sayang, mau bilang apa?”, ucap Dewa lembut.


“Kamu dulu saja Dewa”, suara lemas dan serak Dwyne.


Tidak ingin berdebat hanya masalah siapa yang bicara lebih dulu, Dewa menuruti permintaan istrinya.


“Dwyne, sebaiknya kamu tidur, terima kasih sudah membuka mata, aku bahagia sayang”, Dewa mengecup pipi Dwyne.


“Lalu kamu apa yang mau disampaikan?”, tanya Dewa dengan tatapan penuh arti.


“Ehem, ok. Dewa terima kasih karena sudah menolongku, aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau sampai......”


“Sssst, tidur lah sayang. Masih ada hari esok untuk kita berbagi cerita”


Dwyne mengangguk, dibantu Dewa merebahkan tubuh dengan pelan dan hati-hati. Menyelimuti wanitanya sampai sebatas dada dan membelai rambut coklat panjang yang sedikit kusut. “Aku mencintaimu istriku sayang”, tangan Dewa beralih pada perut rata Dwyne, “Papa juga mencintaimu sayang, tumbuh sehat dan kuat di dalam sana”.


Sepanjang malam Dewa memeluk Dwyne sampai benar-benar istrinya merasa nyenyak dan nyaman dalam tidur. Merelakan diri sendiri yang harus kesulitan beristirahat.


.


.


Pagi pun datang, kamar rawat luas ini kedatangan Mama Nayla yang diantar oleh Stefan pagi-pagi sekali. Merasa bahagia mendengar kabar baik tentang putrinya.


“Dwyne sayang”, ucap Mama Nayla.


“Ssst, sayang jangan berisik mereka masih tidur. Dwyne siuman jam 12 malam, dan ya mereka banyak bertukar kata”, tutur Papa Ray.


“Tapi Dewa ikut tidur di ranjang itu, apa tidak masalah untuk kesehatan putriku?”


Ranjang khusus di ruang rawat ini memang terbilang cukup besar dan nyaman, Dewa ikut naik dan terlelap di balik punggung istrinya, terus memeluk dari belakang.


“Eunng”, lenguhan Dwyne dan pergerakannya mengusik tidur Dewa.


“Sayang, apa yang kamau rasakan?”, suara serak Dewa khas bangun tidur.

__ADS_1


“Dewa ini sudah pagi, bisa lepaskan tanganmu?”


“Ah iya maaf. Kamu lapar? Biasanya sarapan diantar jam 06.30, eeemm sekitar 10 menit lagi”, Dewa turun dari brankar dan merapikan kemejanya.


“Selamat pagi anak papa”, megusap lembut perut Dwyne.


“De-Dewa”, semburat merah menghiasi pipi Dwyne yang pucat, malu rasanya apalagi Papa Ray, Mama Nayla dan Dariel berdiri melihat mereka.


“Kenapa sayang?”, tanya Dewa yang belum menyadari jika mertuanya berdiri tepat di belakang.


“Mama, Papa”, panggil Dwyne.


Seketika Dewa menelan salivanya, ia pun tersenyum kikuk pada mertua serta adik iparnya. “Pagi pah, mah, Dariel”, Dewa mengulurkan tangan, namun hanya Papa Rayden yang menerima, sedangkan mama mertua menatap malas dan lebih memilih mengacuhkan Dewa.


“Sabar kakak ipar, mama sebenarnya baik”, ucap Dariel menepuk bahu Dewa.


“Terima kasdih Dariel”


“Ummm, Dwyne aku keluar sebentar”, pamit Dewa pada sang istri, sengaja memberi ruang dan waktu bagi keluarga Bradley.


“Dewa, cari tahu bagaimana keadaan Dayana”, tatapan khawatir begitu ketara di mata Dwyne.


“Ya, tentu saja”, Dewa segera keluar.


“Umm, itu sayang dia mengalami insiden kecil”, Papa Rayden menarik napas dalam, menyembunyikan dari sanh istri jika keponakannya lah yang menyebabkan Dwyne terjatuh.


“Insiden apa? Dimana? Kapan? Kenapa Kak Nayra diam saja sih, duh anak mama Dayana kasihan sekali kamu”, ucap Mama Nayla tanpa memperhatikan mimik wajah twin D yang berubah.


“Dayana dan aku jatuh bersamaan ma”, ceteluk Dwyne karena kesal mamanya masih sempat memperhatikan Dayana di saat keadaan putrinya sedang membutuhkan perhatian lebih, padahal Mama Nayla tahu hubungan Dwyne dan Dewa retak karena ulah keponakannya itu namun masih tetap menyayangi dan menerima Dayana.


“APA?”


“Mah”, Dariel dan Rayden sigap menahan tubuh wanita yang sudah tidak lagi muda ini, Mama Nayla cukup syok mendengar jika Dwyne dan Dayana terjatuh bersamaan, apa mungkin mereka bertengkar, apa masalahnya karena Dewa?.


“Ceritakan pada mama sayang”, Mama Nayla menitikan air mata.


Dengan suara yang masih lemas, Dwyne menceritakan kenapa ia mengajak Dayana bertemu dan kronologi keduanya bisa terjatuh. Sebetulnya tidak 100% kesalahan Dayana, seandainya Dwyne mampu menahan diri tidak menampar kakak sepupunya itu.


“Apa dia terobsesi memiliki Dewa?”, lirih wanita cantik istri Rayden Bradley ini.


Dwyne dan Dariel mengangguk cepat, entah apa yang akan terjadi selanjutnya hubungan antar keluarga mereka. Twin D berharap Dayana menyadari kesalahannya dan melupakan perasaan pada Dewa.


“Apa kejadian di hotel juga bukan sepenuhnya salah Dewa?”, tanyanya lagi.

__ADS_1


“Iya sayang”, jawab Papa Rayden. Bukankah sudah berulang kali Papa Rayden menjelaskan namun Mama Nayla dan Dwyne bersikeras terjadi sesuatu diantara Dewa dan Dayana.


“Aku bersalah pada menantuku, maafkan mama pernah meminta kalian berpisah”, Mama Nayla menangis di pelukan suaminya.


Sementara itu, Dewa mencari keberadaan Dayana yang ternyata sudah pulang sejak semalam. Memaksa pulang lebih tepatnya, Dayana meninggalkan mobilnya di rumah sakit, ia sangat takut terjadi sesuatu dengan adik sepupunya, apalagi jika keguguran.


Meskipun ia ingin memiliki Dewa, tak pernah sekalipun Dayana ingin menyingkirkan bakal janin yang tidak bersalah itu, nalurinya sebagai seorang calon dokter menentang keras.


“Oh begitu, apa dia di jemput?”, tanya Dewa karena tidak mungkin Dayana bisa berjalan sendiri mengingat kondisi kakinya.


“Tidak dokter, Dayana pulang sendiri”, jawab seorang perawat yang menangani Dayana.


“Baik, terima kasih”, Dewa berjalan meninggalkan IGD.


“STOP Dewa, biarkan saja, jangan terlalu berlebihan, ingat terkahir kalinya kamu menolong malah menjadi petaka”, Dewa ingin menghubungi Dayana dan bertanya keadaannya, ia juga berharap Dayana segera pulih, Dewa memerlukan penjelasan kenapa Dayana dan Dwyne bertengkar.


“Ok, baiklah Dewa. Jangan buat kesalahan yang sama untuk ke......”, Dewa mencoba mengingat berapa kali ia menolong Dayana dan berujung pertengkaran dengan Dwyne.


Dewa kembali ke kamar Dwyne, ia tidak sabar bertemu Dokter Samantha, karena hari ini akan di lakukan pemeriksaan USG.


Di ruang rawat, Dwyne selalu bertanya keberadaan suaminya pada Papa Ray dan Dariel. “Kenapa Dewa lama sekali?”, Dwyne selalu menoleh ke arah pintu masuk.


“Dwyne, tenanglah Dewa tidak kemana-mana, kamu lupa dia punya tanggung jawab untuk memeriksa pasiennya di sini, emmm maksudku dia harus praktik di rumah sakit”, tutur Dariel.


“Aku akan membuatkan dan menyetujui cuti untuknya”, ketus Dwyne pada Dariel, seketika ruangan itu penuh tawa karena baru pertama kali melihat sikap Dwyne sangat berbeda dari biasanya


Bersamaan dengan itu Dewa masuk ruangan dan tercengang mendengar kata-kata yang keluar dari bibir pink istrinya.


“Dewa”, lirih Dwyne, “Ya ampun apa dia sempat mendengarnya?”, batin Dwyne sangat malu.


...TBC...


Jangan lupa dukungannya kawan boleh like dan komen aku suka banget bacain komentar.


Kalau berkenan dengan alur ceritanya boleh kasih vote, hadiah dan rate


Terima kasih pembaca setiaku, terima kasih atas dukungannya untuk Author receh ini


❤️❤️❤️❤️❤️


Hari ini up 3 bab ya demi pembaca tersayang


Doakan aku sempat editnya ya 😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2