Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 11 - Salah paham


__ADS_3

BAB 11


Dwyne mendadak panik mendapati suaminya terjatuh pingsan, ia pun berusaha membangunkan Dewa, menggoyang-goyangkan lengannya sampai menepuk cukup keras pipi dokter tampan itu. “Dewa, bangun. Aku tidak suka tindakan bodoh mu ini, bangun cepat, atau aku pecat kau dari rumah sakit”, ancam Dwyne tapi nyatanya tidak berhasil, “Ah bagaimana ini”, Dwyne yang bingung harus meminta tolong pada siapa.


Akhirnya ia membawa tubuh Dewa naik ke atas kasur miliknya, membaringkan pria itu, membuka kemejanya yang juga basah dan celana panjang hitamnya Dwyne loloskan begitu saja, menyisakan bokser , ia tak berani menyentuh lebih kendati celana pendek itu pun basah.


“Ck menyusahkan saja”, Dwyne menghela napas kasar. Ia keluar meminta penjaga villa membantu Dewa.


“Nona, Dokter Dewa demam. Apotik cukup jauh dari sini, nona kompres saja dengan air hangat”, ujar ibu penjaga villa.


“APA? Aku?”, Dwyne menggelengkan kepalanya menolak untuk melakukan itu semua.


“Terus apa saya yang mengompres dokter?, Pak Dokter kan suami nona, saya tidak berani”, jelasnya dengan sungkan. Dwyne pun membenarkan apa yang dikatakan wanita berambut putih ini. Ia pun naik ke lantai 2, membawa mangkuk besar berisi air hangat dan kain kecil.


“Kau itu sangat menyusahkan aku Dewa, cepatlah bangun”, ketus Dwyne sembari menyeka bagian leher, ketiak, dada dan perut suaminya. “Ah kenapa hariku sangat sial”, Dwyne melempar kain yang dipegangnya entah ke arah mana.


Suara smartphone sangat mengganggu pendengaran seorang Dwyne, ia pun menerima panggilan video dari saudara kembarnya. “Ya ada apa?”, ketus Dwyne.


“Kau dimana Dwyne?, bukankah pulang sore ini tapi belum sampai, ah tunggu itu siapa di belakangmu, kamu selingkuh Dwyne?”


“Itu Dewa, jemput aku di villa. Dewa sakit”


“Wow, kalian benar-benar pasangan luar biasa. Rupanya sebentar lagi aku punya keponakan. Emm tapi Dwyne kau itu keter.....”


“Aku tunggu malam ini juga di villa”


Dwyne memutus sambungan panggilan video itu, ia melirik ke arah suaminya memang benar pantas saja Dariel salah paham, bagaimana tidak dirinya hanya menggunakan bathrobe sedangkan Dewa menggunakan selimut sebatas pinggang saja.


“Ck, kenapa juga aku tidak membawanya ke kamar lain”, sesal Dwyne beranjak dari kasur tapi secepat kilat Dewa menarik tangannya hingga Dwyne  jatuh ke pelukan dokter tampan ini. “Hey, Dewa berani sekali kamu menyentuhku”, sengit Dwyne.


“Dwyne”, lirih Dewa bahkan hampir tak terdengar.

__ADS_1


“Aku akan laporkan semua kelakuanmu pada papa, lepas Dewa, kau tidak pantas menyentuhku”, Dwyne mendorong dada bidang di depannya. “Eh”, Dwyne bergeming karena suhu tubuh Dewa bertambah panas. “Ternyata dia benar sakit”, batinnya.


Dewa tampak gelisah dalam tidurnya dan sesekali mengigau “ Dwyne”


“Kenapa dia sebut namaku?”, ucap Dwyne dalam hati merasa tidak nyaman.


“Dwyne, jangan pergi”


“Dwyne”


“Aku mohon”


Dewa mengigau dan deru napasnya sangat cepat seperti sedang bermimpi buruk, pelukan yang sempat longgar pun kembali erat setelahnya. “Kenapa dia?, aneh”, batin Dwyne tertegun mendengar namanya disebut bahkan dalam keadaan Dewa tertidur. Wanita ini pun ikut terlelap dalam pelukan suaminya, entahlah untuk malam ini Dwyne tidak memberontak seperti biasanya.


Cukup lama keduanya tidur dalam keadaan memeluk satu sama lain, hingga terdengar suara ketukan pintu dan Dewa langsung membuka matanya walau dengan kepala berat. “Dwyne”, samar-samar ia melihat istrinya itu begitu dekat dengannya, dan satu hal yang pasti rasakan kini ia sedang memeluk seseorang.


“Kakak ipar, Dwyne, kalian masih didalam”, suara Dariel yang datang menjemput keduanya.


“Eung”, wanita cantik bermanik coklat itu menggeliat dan semakin erat memeluk Dewa.


Dewa yang menerima semuanya begitu saja menikmati momen ini, untuk pertama kalinya kedua insan itu dalam posisi yang sangat intim, hembusan hangat napas istrinya dapat Dewa rasakan mengenai dada bidangnya.


Dokter tampan ini adalah pria normal yang mudah tersulut hasratnya, ia pun mencium pelan bibir sang istri, merasakan benda kenyal yang selalu berucap pedas padanya, kini terasa manis dan memabukkan baginya. Sebenarnya Dewa bisa melakukan lebih dengan memanfaatkan Dwyne yang nyenyak dalam tidur, tapi ia sudahi hanya sebatas mencium saja tidak lebih. Kembali membangunkan istrinya, menepuk pelan pipi, menggoyangkan lengan lalu melepaskan pelukan dan akhirnya wanita cantik itu terbangun.


Tampak Dwyne yang baru terbangun seperti anak kecil dan tentu Dewa mengulum senyumnya, melihat bagaimana istrinya ini bertingkah sangat berbeda ketika mendapat kesadaran penuh. “Siapa yang mengganggu”, suara serak khas bangun tidur, refleks turun dari ranjang dan membuka pintu.


“DWYNE”, seru Dariel melihat bathrobe saudarinya sudah longgar.


“APA?”, putri Rayden Bradley ini pun langsung membuka kedua matanya secara penuh, menatap tidak suka pada Dariel.


“Aku tunggu di bawah, sebaiknya kalian cepat. Aku juga ngantuk ingin tidur”, ucap Dariel kesal yang merasa salah karena telah menjemput kakaknya ke villa. Ia pun menyempatkan untuk mengintip ke dalam kamar dan memang benar adanya jika Dewa tak menggunakan pakaian, “Ck dasar pengantin baru”, umpat Dariel.

__ADS_1


“Mana pakaian gantinya?, cepat berikan”, ketus Dwyne.


“Ah aku hampir lupa, ini”, memberi 2 paper bag pada wanita cantik berambut coklat itu.


“Dewa, kau bisa memakai baju sendiri kan?, ini dan cepat karena Dariel menunggu di bawah”, melempar papper bag ke atas ranjang lalu masuk toilet mengganti pakaiannya.


Dewa kembali tersenyum dan mengingat beberapa saat lalu begitu menikmati bibir manis dan lembut istrinya. Karena demam yang sudah sedikit reda, Dewa pun segera memakai pakaian yang diberikan oleh adik iparnya.


Klek


Dwyne keluar dari kamar mandi telah rapi begitu pun Dewa yang semakin mempesona memakai baju pilihan Dariel,  “APA?, kau dilarang metapaku seperti itu”, ketus Dwyne menyambar tasnya di atas nakas lalu berjalan keluar meninggalkan Dewa.


“Dwyne tunggu”, mengejar istrinya dan berjalan mensejajarkan diri.


Dariel menoleh ke arah tangga, “Hah, pasangan yang di mabuk cinta”.


Ketiganya saat ini berada dalam mobil yang dikendarai oleh Dariel, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut masing-masing, hanya keheningan tercipta dalam mobil itu.


“Terima kasih Dariel”, ucap Dewa


“Tak perlu sungkan, tapi kalian itu benar-benar keterlaluan memintaku yang masih polos ini menjemput ke villa, ck selanjutnya aku tidak akan menjemput kalian”, kesal Dariel.


“Terserah”, seru Dwyne yang duduk di kursi belakang.


“Ck, enak saja setelah ber-c-in-ta dengan mudahnya kalian memintaku menjemput kesini, hih apa-apaan kalian ini”


“APA?”, seru Dwyne dan Dewa.


“Kamu salah paham Dariel”, sanggah Dewa


“Berani sekali kamu memiliki pikiran menjijikan seperti itu, awas kamu Dariel”, Dwyne tidak terima atas pernyataan yang keluar dari mulut adik kembarnya. Jelas-jelas dia dan Dewa tidak melakukan apapun.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2