Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 23 - Mengantar


__ADS_3

BAB 23


Dewa yang kelelahan bangun sedikit terlambat dari biasanya, ia membuka mata tepat pukul 6 pagi. Meregangkan sedikit otot tubuhnya, merubah posisinya menjadi duduk melihat ke arah ranjang, “Kosong?”, batinnya. “Kemana Dwyne sepagi ini?”, imbuhnya. Jelas-jelas tadi malam Dewa menatap wajah cantik istrinya saat tidur namun kini menghilang entah kemana.


Tak menaruh curiga sedikit pun, Dewa memilih membersihkan badannya baru ia akan mencari istri cantiknya usai mandi. Kedua mata Dewa mencari sesuatu yang hilang di kamar mandi itu, tapi tidak tahu apa dan milik siapa. Hanya merasa seperti ada benda yang biasanya tersimpan rapi kini tidak ada.


Cukup 15 menit bagi Dewa untuk merubah dirinya bersih, rapi, dan harum. Dirinya pun keluar kamar untuk menemui wanita yang semalam tadi membuat hatinya kesal dan kecewa. Ruangan pertama yang dituju olehnya yaitu ruang kerja Dwyne.


Tok...tok


“Dwyne kamu ada di dalam?”


Tiada jawaban Dewa memutuskan membuka pintu, ruangan yang kemarin penuh berkas kini telah rapi dan tidak menunjukan tanda-tanda keberadaan istrinya.”Apa Dwyne di bawah?”, gumamnya.


Dewa bergegas menuruni anak tangga tergesa-gesa, baginya tidak melihat Dwyne di pagi hari seperti hidup tanpa penyemangat bagai sayur tanpa garam juga penyedap. Dewa lihat suasana rumah masih sepi, ruang keluarga pun kosong, lalu dirinya melihat ke taman belakang dan samping rumah tetap tak menemukan istri arogannya. Akhirnya Dewa menyambangi dapur, hanya ada mama mertuanya yang sedang sibuk memeriksa menu sarapan.


“Dewa?, kamu perlu sesuatu?”, tanya Mama Nayla menghentikkan langkah kakinya yang ingin kembali ke kamar.


“Apa mama melihat dimana Dwyne?”, tanya Dewa.


“Hah?”, Nayla terperangah mendengar pertanyaan Dewa, “Apa anak itu tidak memberitahu suaminya?”, tanya Mama Nayla dalam hati.


“Dewa, apa Dwyne tidak bilang kalau pagi tadi berangkat ke Korea?, dia ada perjalanan bisnis ke sana”, papar Nayla.


“APA? KOREA? PAGI TADI?”, batin Dewa semakin bertanya-tanya kenapa istrinya itu tidak memberitahunya tentang keberangkatannya.


“Oh, maaf ma. Dewa lupa”, bohongnya kemudian mengambil ponsel di kamar.


Dwyne, hubungi aku setelah tiba di Korea

__ADS_1


Isi pesan Dewa pada istrinya, rasanya ia ingin sekali mendengar Dwyne memberi alasan kenapa pergi tanpa sepengetahuannya. Bahkan Dewa pun tidak tahu istrinya ini ke negeri ginseng dengan siapa saja dan berapa lama waktu perjalanan bisnisnya.


Dewa duduk di sofa bed sembari memijat kedua sisi pelipisnya yang mendadak pusing tak bersemangat menjalani hari tanpa keberadaan sang istri.


Karena tidak sabar menunggu Dewa menghubungi Asisten D dan sama tidak ada jawaban apapun dari wanita berkacamata tebal itu.


“Apa Dwyne pergi bersama Asisten D?”, tanya Dewa pada dirinya sendiri.


.


.


Hari telah berubah menjadi siang, tugas Dewa di rumah sakit pun telah rampung. Kini saatnya ia menjalankan jadwal praktiknya di dua klinik berbeda. Biasanya pria ini akan acuh pada masalah pribadinya, namun tidak kali ini, resah menunggu balasan pesan atau telepon dari istrinya ingin segera membuat Dewa melewati hari ini tanpa perlu waktu lama.


“Dokter, tunggu”, panggil wanita cantik tepat sesaat Dewa tiba di lobby rumah sakit.


“Ada apa Dayana?”, jawab Dewa malas.


“Menumpang?, bukankah kamu harus ada disini sampai sore?”


“Iya, aku di minta oleh dosen universitas memberi laporan koas minggu lalu, bagaimana bisa ka eh dokter?” bujuk Dayana, wajahnya berubah sangat manis dan sikapnya sedikit manja.


“Heem, baiklah. Tapi aku tidak bisa mengantarmu sampai gerbang ya”


“Tak masalah”, Dayana tersenyum manis, “YES”, hatinya bersorak karena bisa kembali berdua dengan seniornya ini.


Berbeda ketika bersama Dwyne, Dayana lebih cerewet dalam perjalanan banyak hal yang dibicarakan. Ada saja pertanyaan yang diajukannya untuk Dewa, padahal dokter tampan ini telah menjawab sangat singkat karena malas.


“Dokter? Boleh aku bertanya lagi?”

__ADS_1


“Iya silahkan, bukankah dari tadi kamu selalu bertanya?, sekarang apa lagi. Maaf kalau penjelasanku kurang di pahami”.


“Apa dokter sedang sakit, wajah dotkter pucat?”, gugup Dayana karena bertanya hal yang sifatnya pribadi.


“Aku sehat. kamu lihat sendiri kan aku masih bisa berkendara dengan baik?, pucat mungkin karena cuaca di luar sedikit mendung”, jawab Dewa asal. Tidak mungkin kan dia bilang kecewa karena di tinggal tanpa pamit oleh istrinya.


“Syukurlah”, Dayana tersenyum, “Apa Dwyne juga sehat dokter?”, tanya Dayana semakin jauh dari istilah kedoteran.


“Tentu sehat, dia wanita yang kuat”, ukiran senyum begitu nyata pada bibir Dokter Dewa mengingat wajah cantiknya Dwyne dan sikap ketusnya.


“Ohh, dokter....”


Belum sempat Dayana bertanya lebih lanjut dan semakin banyak, perhatian Dewa tersita dengan poselnya yang berdering cukup mengganggu. Segera Dewa menepikan roda empatnya, dan memeriksa smartphone yang tersimpan di saku jaketnya.


“Sebentar Dayana”


“Ya bagaimana Asisten D?”, wajah Dewa berubah sangat serius mendengar suara Asisten D.


“Baiklah, semoga hari-hari kalian menyenangkan. Sampaikan salamku untuk Dwyne”, senyum Dewa.


Setelah memutus sambungan telepon, Dewa fokus kembali untuk mengendarai mobl hitam itu.


“Apa Dwyne baik-baik saja ka?”, suara Dayana berubah cemas. Karena ia mendengar asisten pribadi adik sepupunya di sebut seketika menjadi khawatir.


“Terima kasih Dayana atas perhatianmu. Dwyne baik-baik saja tidak ada masalah apapun”, sahut Dewa yang ingin segera menurunkan kakak sepupu istrinya.


Hanya memerlukan waktu 45 menit untuk Dewa mengantar Dayana ke universitas. “Terima kasih dokter”, ucap Dayana sangat senang. Semua rekan wanitanya yang melihat menatap kagum pada Dewa dan iri pada Dayana, tentu saja ia telah mendapat kekasih di tempatnya belajar praktik, pikir teman-teman Dayana.


 

__ADS_1


Tbc


__ADS_2