
BAB 76
Dewa mendengar jelas apa yang dikatakan istrinya, ia pun tersenyum senang. Apa itu salah satu bentuk perasaan Dwyne padanya. Karena hingga kini Dewa tak kunjung mendengar kata sayang atau ungkapan cinta dari istrinya.
“Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan”, ucap Dewa berjalan mendekat pada Dwyne.
“Benar kan dia mendengar ucapan ku, dasar bibir ini”, kata hati Dwyne, menggigit bibir bawahnya, lalu sedikit memajukan bibir, mengutuk dirinya sendiri tidak bisa mengkontrol apa yang keluar dari mulutnya.
“Yang ingin aku lakukan? Maksudnya?”, tanya Dwyne begitu polos hingga Dariel menahan tawa.
“Ya sudah aku harus bersiap membuka praktik, nanti siang aku temani kamu makan disini”, Dewa mengecup kening wanitanya di depan mertua serta adik iparnya.
“Hey, kenapa pergi, dasar bodoh, tidak peka, huh”, kesal wanita bermanik coklat dalam hati, Dwyne mengepal kuat kedua tangannya. Berharap Dewa menoleh ke belakang dan menemaninya di ruang rawat.
Dewa pun sama berharap Dwyne memanggil namanya dan melakukan apa yang sempat di dengarnya tadi, namun hingga hampir keluar pintu ruangan tak ada suara Dwyne yang memanggilnya.
Kecewa? Tentu saja, dalam dada merasa kecewa namun ia tidak menganggap berlebihan. Lagi pula membuka praktik itu artinya menolong orang yang membutuhkan dan memang kewajiban dirinya sebagai dokter, harus melayani pasien.
“Sudahlah Dewa, jangan perbesar masalah kecil. Sekarang fokusmu menjaga Dwyne dan anak yang ada dalam kandungannya”, monolog Dewa dalam hati.
“Terpenting sekarang Dwyne sudah menjadi milikku seutuhnya, akan ada buah hati di antara kita yang mengikat kuat, kau tidak perlu cemas Dewa”, lanjutnya. Dokter Dewa menghela napas lalu melakukan tugasnya sebagai dokter umum di GB Hospital.
“Dokter Dewa selamat”
“Semoga istri dokter selalu sehat sampai melahirkan”
“Aku bangga berteman dengan mu Dewa, kamu akan menjadi ayah dari cucu konglomerat Bradley”, ucap Dokter Cakra sekaligus bergurau.
Seluruh penjuru GB Hospital telah mengetahui jika putri pemilik rumah sakit sekaligus istri Dokter Dewa dan dewan pengawas sedang mengandung buah cintanya, Dewa banjir ucapan selamat dari rekan sesama dokter dan perawat.
Dirinya sangat bahagia, apa yang diimpikannya akan segera menjadi kenyataan. Dewa akan menjaga calon anaknya dengan baik, rasa sayangnya begitu besar pada Dwyne dan buah hatinya karena hanya mereka berdua yang Dewa miliki.
Sampai pukul 11 siang Dewa melaksanakan tugasnya, membuka praktik dan berjaga di IGD. Sebelum berangkat ke Universitas, ia ingin menemani Dwyne makan siang, serta menemaninya untuk melakukan pemeriksaan di ruang obgyn.
“Dwyne kau itu harus makan”, Dariel kelelahan membujuk kembarannya hanya untuk menyantap makan siang.
“Kau itu memang keras kepala”, kesal Dariel hampir 20 memit membujuk namun Dwyne masih menutup rapat mulutnya, bahkan minum pun sangat sedikit.
“Semoga keponakanku tidak menuruni sikapmu Dwyne”
__ADS_1
Plak
“Aw, sakit ma”
Mama Nayla memukul kepala putranya kemudian mengambil mangkuk bubur dari tangan Dariel dan kembali membujuk Dwyne, ia begitu tidak tega wajah Dwyne yang biasanya terlihat segar kini layu serta pucat.
“Ayo sayang makan, memangnya kamu tidak kasihan padanya?”, menunjuk perut rata Dwyne.
“Aku belum lapar ma”, tolak Dwyne.
“Makan sayang, kasihan anak kita”, tiba-tiba suara Dewa terdengar.
“Ma, biar Dewa yang membantu Dwyne makan siang, mama istirahat saja”, ucap Dewa begitu sopan nada bicaranya.
Dewa meletakkan mangkuk di atas nampan, ia lebih dulu duduk pada sisi ranjang pasien. Menatap dalam kedua mata coklat Dwyne, membelai rambut lalu wajah dan bibir wanitanya. Kemudian beralih pada bagian perut, menyapa darah daging yang sedang tumbuh di rahim sang istri.
“Dwyne, kamu harus makan. Sedikit demi sedikit, ingat kamu punya riwayat asam lambung jadi dengan hamil muda pasti asam lambungmu mudah meningkat”, tutur Dewa bernada lembut.
“Tapi Dewa, aku tidak lapar. Aku hanya ingin tidur”, jawab Dwyne terdengar manja di telinga.
“Sayang, aku mohon. Aku suapi lagi ya”, Dewa berusaha agar Dwyne mau makan, mencium bibir Dwyne dan menyesapnya.
“Apa harus seperti ini setiap kali mau makan?”, goda Dewa.
“Ish”
“Cantik, kenapa buang muka? Maaf sayang aku bercanda, makan ya aku ingin kamu cepat pulang dan....”, Dewa tersenyum menggoda pada wanitanya, “Dan aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu, istriku”, bisik Dewa sontak Dwyne melebarkan matanya.
“Ta-tapi aku mau pulang ke rumah papa”, gugup Dwyne.
“Iya, sekarang makan lagi ya”, suara lembut Dewa, Dwyne mengangguk, sejujurnya ia senang sekali mendapat perhatian dari suaminya ini.
Selesai makan siang, Dewa mengantar Dwyne memasuki ruang spesialis obgyn menggunakan kursi roda. Dokter Samantha menyambut keponakannya, “Dwyne kamu beruntung memiliki Dewa yang selalu perhatian, padahal dia sangat sibuk”, ucap Dokter Samantha setengah bergurau.
“Kamu tahu Dwyne, di ruangan ini mama dan papa mu tertawa bahagia karena melihat kalian tumbuh sehat”, Samantha menceritakan masa lalu, meski GB Hospital telah beberapa kali renovasi tetapi ruangannya selalu di tempat yang sama dan hanya interior ruangan yang berubah.
Perawat membantu Dwyne berbaring dan membuka pakaian atas sebatas dada, mulai mengoleskan gel dingin sebelum alat USG bergerak di atas kulit perutnya.
“Semoga anak kalian kembar”, ucap Samantha mulai menekan tombol di alat besar.
__ADS_1
Tangan Dewa menggenggam erat tangan Dwyne, mereka menatap layar besar yang menggantung di atas.
“Wah, selamat sayang keponakanku Dwyne, gen kembar mu memang kuat, lihat ini dan ini, mereka sangat lucu bukan?”, Samantha turut senang.
“Benarkah dokter?”, tanya Dewa begitu antusias.
“Ya, Dewa. Kalian akan memiliki anak kembar. Selamat ya”, ramah Samantha mengulurkan tangan pada Dewa dan Dwyne.
Samantha pun mengingatkan kembali Dewa tentang kondisi Dwyne yang sangat lemah. Bahkan Dwyne belum diizinkan pulang karena masih dalam tahap observasi.
“Baik aku mengerti, terima kasih dokter”.
Dewa begitu perhatian, mendorong kursi roda istrinya perlahan, menjadi pusat perhatian semua orang yang menatap kagum.
Dewa juga tak segan menunjukkan rasa cintanya yang besar pada Dwyne di depan umum, saat menunggu lift terbuka selalu membelai puncak kepala dan melabuhkan ciuman di atasnya.
“Dewa aku malu, hentikan “, cicit Dwyne.
“Untuk apa malu sayang? Kita suami istri dan aku ingin menunjukan pada semua orang kalau hanya Dwyne Juliette Bradley pemilik Dewa Bagas Darka”, ucap Dewa begitu percaya diri.
“Ummmm, Dewa, kabar Dayana bagaimana?”, tanya Dwyne merusak suasana hati Dewa.
“Oh, sepertinya sepupumu itu sudah sehat, tadi malam sudah pulang ke rumah”, jawab Dewa jujur.
“Dwyne boleh aku bertanya?”.
“Ya tentu, apa?”
Dewa sangat ingin tahu apa penyebab istrinya dan Dayana bertemu lalu memilih tangga darurat sebagai tempat perbincangan keduanya.
“Apa sebenarnya yang kalian bicarakan hingga terjatuh?”.
...TBC...
...******...
...Makasih dukungannya ya...
...🥰🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1