
BAB 95
“Dewa”
Kening Dwyne mengkerut membaca nama yang tertera di layar datar benda pipih mahalnya. Lama Dwyne berpikir hanya untuk menerima telepon, akhirnya ia urungkan menerimanya dan menyimpan kembali gawai dalam tas.
Namun baru saja tersimpan, benda itu berbunyi kembali, rupanya Dewa mengirimkan satu pesan singkat pada istri arogannya ini.
“Sayang, apa kalian sudah sampai rumah? Tolong kabari aku. Malam ini suka atau tidak aku akan pulang ke rumah mama”.
Isi pesan singkat dari Dewa membuat Dwyne mendengus sebal, “Ck, pulang kesini yang benar saja, bahkan aku belum memaafkannya, karena kamu Dafa tiada Dewa”, ketus Dwyne dan melempar asal ponselnya.
Ia pun terlelap dalam damai selama 1 jam , hingga terbangun sore hari Dwyne membersihkan tubuh sebelum turun untuk menemui buah hatinya bersama Mama Nayla.
Mata Dwyne mengarah pada shower dalam bilik kaca dan bathtub luas yang pernah menjadi saksi permainan panasnya bersama Dewa di ruangan itu. Dwyne ingat sekali jika Dewa selalu memuja apapun yang ada pada dirinya.
“Arghh”, kesal Dwyne mengepal tangan kuat, “Apa aku harus mengganti semua dengan yang baru?”, sambungnya memundurkan langkah dan mengambil pakaian di walk in closet lalu menuju ruang kerja yang juga terletak dilantai 2.
Meskipun kamar mandi di sana kecil tapi tak ada kenangan sedikit pun bersama Dewa pada ruangan ini. Dengan cepat Dwyne membasuh tubuhnya yang lengket oleh keringat.
Mata Dwyne berbinar kala melihat Denver tertidur pulas diatas box bayi yang sengaja Papa Rayden siapkan di ruang keluarga. Rumah ini menjelma menjadi kamar bayi, karena memang Papa Ray tidak mengkhususkan ruangan tertentu untuk kamar cucunya, dan memilih menyatukan tempat tidur bayi dengan kamar Dwyne.
“Anak mama”, Dwyne tersenyum pada bayi mungil yang hampir 90% lebih mirip dirinya dibanding Dewa, mungkin hanya alis dan bibir saja yang mengikuti jejak ayah kandung Denver.
“Denver anak yang baik sayang, tidak rewel sama sekali, ah mama senang diusia yang masih muda seperti ini sudah memiliki cucu”, terang Mama Nayla sembari mengelus pipi lembut melebihi kelembutan sutra.
“Oh iya, tadi Dewa telepon mama kalau mulai hari ini dia akan tinggal disini, jadi mama minta perlakukanlah sebaik mungkin suamimu, bagaimana pun dia ayahnya Denver”, lanjut Mama Nayla geram akan sikap putrinya.
“Ya aku tahu ma, Dewa juga mengatakannya”, beralih menggedong bayinya yang menangis karena lapar. Sigap Mama Nayla memberi botol susu pada Dwyne.
“Ini baru saja pengasuh membuatnya”.
__ADS_1
.
.
Malam hari di kediaman Bradley saat ini sangat hangat dengan kehadiran Baby Denver, tangisnya mampu meramaikan rumah besar yang memang sudah ramai semakain ramai. Apalagi kehadiran Samantha, Adam beserta kedua putranya.
“Kapan kita akan memiliki cucu? Aku iri, lagi-lagi dia lebih dulu, hah”, gurau Adam.
“Stephanie masih terlalu kecil untuk menikah, lagi pula ia masih melanjutkan pendidikannya”, terang Samantha yang kini menggendong cucu Rayden Bradley.
“Nikahkan saja dua bocah itu, agar mereka tidak nakal”, seru Rayden yang baru saja bergabung bersama kakak sepupunya.
“Mana mungkin uncle, aku ingin menikmati indahnya hidup bebas”, sergah Stefan yang duduk di atas karpet bulu.
“Hah, terserah kalian. Adam akan mengaturnya. Benarkan?”, Rayden memainkan kaki Denver yang terbungkus kaus kaki.
“Tentu saja, aku akan menjodohkan mereka, dan mencari wanita terbaik, awas saja kalau kalian menolak, aku akan memberikan hukuman”, timpal Papa Adam.
“Hi, menantu akhirnya. Kau datang di saat yang tepat, cepat bersihkan tubuhmu, kita akan makan malam bersama”, sambut Papa Rayden.
“Iya Pah, Dewa permisi ke kamar”, Dewa sedikit membungkuk sopan pada mertua serta Papa Adam dan Samantha.
“Hey, Dewa. Ingat hanya mandi, bukan yang lain. Jangan sentuh keponakanku dia baru melahirkan, ingat itu”, gurau Adam pada Dewa yang mulai menitikan kaki di atas anak tangga, ia tahu betapa menyebalkan menunggu masa nifas wanita, hingga seorang Adam Bradley yang kejam merasa tersiksa luar biasa.
Dewa hanya menanggapi dengan senyum tipis pada kakak sepupu ayah mertuanya, lagi pula mana mungkin ia menyentuh Dwyne saat ini saja untuk bisa bertemu sebuah anugerah bagi Dewa.
Tok....tok
“Dwyne, sayang aku masuk”, ucap Dewa seraya membuka pintu namun tak ada siapapun, dirinya menghela napas tidak ada wajah cantik yang sangat dirindukannya selama beberapa minggu ini.
Cukup waktu 5 menit bagi Dewa hanya untuk membersihkan tubuhnya yang lengket dan berdebu usai seharian beratifitas di luar rumah, memasuki walk in closet bibir Dewa tersenyum mendapati perempuan cantik tengah sibuk di depan cermin menggunakan pewarna bibir.
__ADS_1
“Dwyne?”, panggil Dewa hingga wanita yang duduk di atas kursi kayu itu sedikit terjengkat. “Hati-hati sayang”, Dewa menarik tangan istrinya agar tidak jatuh menyentuh lantai.
“Benar-benar seperti makhluk halus”, ketus Dwyne yang memang tidak menyadari kehadiran Dewa beberapa menit lalu.
“Eh”, pekiknya saat tangan Dewa menyentuh dan menutup resleting di bagian dada sang istri yang menyembul.
“Kamu sengaja ingin menggodaku?”, goda Dewa sukses mendapat pelototan tajam dari istrinya.
“APA? Untuk apa aku menggoda pria seperti mu”, pipi Dwyne bersemu merah, memang benar ia lupa menutup resleting itu usai memakai dress rumahan.
“Pria? Aku suamimu, lagipula bagian mana yang belum aku lihat? Semua sudah ku lihat dan sentuh”, ucapan Dewa membuat suhu ruang penyimpanan pakaian ini terasa panas dan sesak.
“Aku keluar, sebaiknya cepat berpakaian jangan buat keluarga ku menunggu kita”, nada dingin dan datar Dwyne.
“Dwyne?”, Dewa menarik pergelangan tangan istrinya dan menoleh pada wanita angkuh ibu dari putranya. “Maafkan aku sayang. Aku, itu bukan keinginanku datang terlambat ke rumah sakit. Maafkan aku sayang”, suara Dewa sangat lembut sampai ke telinga sang istri.
“Cepatlah, jangan lama, aku lapar”, Dwyne melepas tangannya dari genggaman Dewa.
Saat ini seluruh anggota Bradley berkumpul di meja makan, termasuk Dewa dan Dwyne duduk berdampingan. Sesuai pesan Mama Nayla jika wanita arogan itu harus memperlakukan suaminya dengan baik, Dwyne pun mengikuti Mama Nayla dan Mama Samantha melayani suaminya untuk mengambil makanan.
“Terima kasih sayang”, senyum Dewa pada Dwyne.
“Hem”
Sedangkan baby Denver dijaga pengasuhnya, sengaja Dewa mengirimkan pengasuh ke rumah besar ini tentu atas persetujuan tuan rumah. Dewa tidak ingin istrinya kelelahan karena mngurus Denver selama 24 jam, apalagi Dwyne mulai menjabat kembali sebagai CMO.
Tangan Dwyne bergerak hendak mengambil sesuatu untuknya, seketika tatapan tertuju pada Dewa dengan salah satu tangan berada di atas paha mulus istrinya.
“Apa?”, bisik Dwyne.
...TBC...
__ADS_1