
BAB 42
Kata-kata sayang dan cinta yang Dewa ucapkan mampu menjadi candu baru bagi wanita yang berprofesi sebagai CMO di G&B Pharmacy ini. Dwyne tersenyum sendiri memandang foto pernikahannya yang terpatri kuat pada dinding kamar. Namun beberapa detik kemudian dirinya bertanya-tanya kenapa bagian sudut bibir suami tampannya itu lebam seolah telah bertengkar dan adu kekuatan dengan pria lain. Dwyne tahu persis luka di sudut bibir Dewa akibat pukulan tinju dari seseorang, karena ia menguasai bela diri pasti sangat hapal mana luka yang terkena bogem dan mana luka terjatuh.
“Apa dia bertengkar dengan seseorang?, tapi siapa?, dan apa masalahnya?”, gumam Dwyne menjadi tidak tenang. Ia putuskan akan menghubungi Dewa siang nanti mungkin suaminya itu mendapat waktu istirahat.
“Sebaiknya aku hubungi dia nanti”, Dwyne menganggukkan kepala tanda hati dan otaknya setuju.
Tak ingin terlambat ke menghadiri meeting, Dwyne membersihkan diri sangat cepat lalu merias wajahnya secara tipis karena ia tak suka memakai make up tebal, selain memakan waktu lama akan membuat kulitnya sulit bernapas.
Dwyne terkejut saat keluar dari rumahnya, mendapati asisten Zayn telah menunggu di teras.
“Pagi Nona”
“Dimana Asisten D?”
“Hari ini aku akan menemani Nona meeting, Asisten D sedang sakit. Apa Nona tidak mendapat kabar darinya?”, tanya Zayn yang memang merasa aneh, seharusnya Dwyne lebih tahu alasan D tidak mendampinginya.
Istri Dewa Bagas Darka langsung memeriksa ponsel dan benar saja pesan singkat serta beberapa panggilan tak terjawab dari asisten berkacamata tebalnya itu. Karena terlalu menanti kabar dari Dewa serta terhipnotis dengan kalimat sayang yang suaminya ucapkan membuat Dwyne tidak memeriksa pesan lain yang diterima benda pipih mahalnya.
“Oke, sekarang kita pergi ke Perusahaan XX”
“Siap nona”
Zayn membuka pintu mobil untuk nona bosnya, tersenyum simpul melhat betapa cantiknya istri orang yang ia sukai ini. Zayn pun bergegas memasuki mobil, duduk di jok depan samping pengemudi.
“Apa papa tidak mencari mu?”
“Tuan Rayden sudah mengetahuinnya nona”
“D memberi materi meeting padamu Zayn?”
__ADS_1
“Sudah nona, telah dipelajari dan semuanya sudah siap”
“Tidak salah papa memilih mu Zayn”, ucap Dwyne memakai kaca mata sunglasses .
Dwyne pun tiba di salah satu perusahaan yang akan menjadi tempat meetingnya, bukan hal aneh bagi putri Rayden Bradley mendapat tatapan dari para pria. Tidak hanya itu beberapa ada yang mencoba menarik perhatiannya tetapi Zayn dengan mudah menepis semua bentuk perhatian para pria.
“Sebaiknya nona cepat masuk”
“Ok”, sahut Dwyne melangkah masuk. “Ck, memangnya kalian pikir aku tidak tahu kalau kalian semua telah memiliki istri, masih saja bisa tertarik pada wanita lain. Semua pria sama saja”, umpatnya dalam hati.
“Zayn, selesai meeting aku mau ke cafe papa”
“Baik Nona”
.
.
“Ah iya, aku telepon Dewa”, ucapnya pada diri sendiri, menyadari jika ia harus menghubungi suaminya yang jauh di sana, sedikit menurunkan egonya
Menunggu beberapa detik Dewa pun menerima panggilan video dari istri cantik yang selalu dirindukan.
Dewa : “Hy, cantik. Kamu dimana sayang?”
Kata-kata yang keluar dari bibir suaminya membuat Dwyne salah tingkah juga merona. Dewa yang menyadari hal itu tersenyum lebar karena untuk pertama kali melihat istrinya salah tingkah walau melalui layar ponsel.
Dewa : “Kamu belum jawab, sekarang dimana? Bukan di kantor?”
Dwyne : “Cafe papa”
Dewa :”Dengan siapa? Asisten D atau....”
__ADS_1
Dokter Dewa menjeda ucapannya, ragu untuk berkata takut istri arogannya ini tidak nyaman dan mengakhiri panggilan video yang sedang berlangsung.
Dwyne : “Zayn”
Dewa : “APA?, kenapa..... kalian pergi berdua?”
Dwyne : “Bertiga dengan driver, kenapa?”
Dewa : “Dwyne, kamu masih bisa bertanya kenapa, tentu suami mana yang suka melihat istrinya bersama pria lain. Sebaiknya jangan terlalu dekat dengannya, sayang”
Dwyne : “Ehem, Dewa luka di bibirmu itu kenapa?”
Dewa tersenyum sebelum menjawab pertanyaan istrinya, meski bernada datar serta wajah tanpa ekspresi pasti wanitanya ini sedang khawatir.
Dewa : “Bukan masalah besar sayang, semua sudah selesai. Oh iya ini tempat tinggal ku selama di sini. Aku bertugas setiap sore sampai pagi. Jadi maafkan aku kalau tidak menghubungimu malam hari karena sibuk berjaga di IGD”
Dwyne : “Oh ya tentu, lagi pula telepon mu di malam hari sangat mengganggu”
Dewa : “ Benarkah?, maaf kalau aku mengganggu. Tapi aku tidak bisa tidur tanpa mendengar suaramu sayang”
Dwyne : “Aku tidak, aku bisa tidur tanpa kamu, malah tidurku sangat nyenyak”
Entah mengapa kata-kata istrinya ini tidak membuat Dewa sakit hati seperti biasanya, seperti ada sesuatu makna di balik kalimat sanggahan yang keluar dari bibir Dwyne Bradley.
Dewa : “Benarkah?”
Dwyne : “Ya, sudah Dewa aku sibuk”
Dewa : “Dwyne tunggu, aku mencintaimu. Tunggu aku sayang”
Kata-kata Dewa mampu menghipnotis Dwyne hingga tak berkedip bahkan menahan napasnya sejenak. Tak menjawab apapun, Dwyne lebih memilih menekan tanda merah di layar ponselnya mengakhiri sambungan yang masih berlangsung meski menahannya.
__ADS_1
Tbc