
BAB 72
“Apa maksudnya sapultangan ini?”, Dwyne menerka-nerka di kepalanya, ia pun berlari mengejar Dayana yang entah pergi kemana. Sialnya Asisten D datang menjemput nona muda karena di rasa terlalu lama berada di dalam toilet hanya untuk buang air kecil.
“Apa nona baik-baik saja? Tuan Dariel sudah menghubungi saya beberapa kali, saya mohon nona, kita segera ke kantor”, Asisten D menatap Dwyne penuh harap.
“Ok”
Kedua wanita itu keluar rumah sakit dan menuju G&B Farmasi, selama di kantor Dwyne terdiam sembari memandangi saputangan Dewa. “Ada apa dengan saputangan ini kenapa ada pada Dayana?”, perasaan Dwyne menjadi kacau ditambah hormon awal kehamilan semakin membuat suasana hatinya tak menentu.
Wanita cantik berambut coklat ini mengepalkan tangan, Dewa berani memberi saputangan bahkan jaket yang dibelinya secara khusus pada Dayana, sebegitu pentingkah Dayana bagi Dewa?.
.
.
.
Beberapa hari berlalu, Dewa telah kembali dari seminarnya di Bandung dan mulai di sibukkan dengan kegiatan rumah sakit serta Universitas. Untung Dokter Cakra bersedia menggantikannya klinik Bogor. Dewa mengirim kabar pada Dwyne namun kali ini wanita itu memblokir lagi nomor telepon Dewa, tanpa Dewa tahu alasan apa yang membuat istrinya bimbang.
Dewa pun setiap malam menatap Dwyne dari dalam mobil, hingga pagi hari baru ia pulang dan bersiap berkerja. Sungguh rasa ini menyiksa baginya, Dewa hanya perlu mengatur waktu untuk bicara berdua dnegan Dwyne, beberapa bukti telah ia siapkan, tentunya berkat bantuan Dariel.
Hari ini rapat dewan pengawas di selenggarakan pukul 9 pagi, dan Dariel memberi informasi pada kakak iparnya kalau Dwyne akan hadir menggantikan dirinya.Untuk itu Dewa siaga menunggu wanitanya keluar namun pekerjaannya sebagai dokter umum sangat menyita waktu apalagi bagian IGD membutuhkannya.
“Semangat Dewa, dapatkan hati istrimu lagi”, Dewa menyemangati dirinya sendiri.
Banyaknya pasien di IGD mengalihkan perhatian Dewa, dokter ini pun melupakan maksud dan tujuannya hari ini.
Tepat pukul 12 siang rapat dewan pengawas selesai, Dwyne yang penasaran mencari Dayana dan menunggunya di depan ruangan.
“Kamu ingin tahu kenapa benda itu ada padaku, benarkan?”, sinis Dayana. “Dwyne seharusnya kamu belajar menerima hubungan kita, ah ya sebaiknya persiapkan dirimu untuk berpisah dengan Dewa. Aku tidak akan membaginya dengan wanita lain”, kata-kata Dayana sangat tak tahu malu.
“Wanita lain? Kamu tidak salah? Seharusnya berkaca lebih dulu sebelum bicara. Aku dan Dewa masih terikat dalam pernikahan, dan kamu Dayana, kakak sepupuku tidak akan pernah mendapatkan apa yang kamu inginkan”, tegas Dwyne.
“Apa?”, Dayana terpancing emosi, menggerakkan kakinya maju mendekati adik sepupunya yang diam di ambang pintu rapat.
Dayana dan Dwyne terlibat adu mulut, keduanya pun bertengkar di tempat sepi yaitu tangga darurat yang jarang bahkan tidak dilalui oleh orang-orang.
__ADS_1
“Tutup mulutmu Dayana”, bentak Dwyne.
“Kamu tidak tahu terima kasih, setelah apa yang kamu dapatkan, ingatkah kamu kita tumbuh bersama dan mendapat kasih sayang yang sama?”, Dwyne tak mau mengalah pada kakak sepupunya ini.
“Tapi kamu lupa Dwyne, Papa Ray dan Mama Nayla selalu mengutamakan kalian dibanding aku. Aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Untuk kali ini, lepaskan Dewa. Pernikahan kalian hanya sandiwara”, seru Dayana.
“Apa? Lepaskan? Apa tidak ada pria lain sampai kamu menunggu apa yang menjadi milikku? Murahan sekali”, cibir Dwyne.
“Jaga kata-katamu Dwyne, aku bukan perempuan murahan”, teriak Dayana.
“Lalu apa? Kamu mengejar suami orang ah suami adik sepupu mu sendiri tanpa tahu malu. Apa kamu sengaja menenggelamkan diri di kolam supaya Dewa datang menolong mu dan kamu menjebaknya tapi sayang Dewa tidak tertarik sedikitpun”, Dwyne membuang wajahnya ke arah lain, “Sampai kamu berbohong bahwa kalian tidur bersama, begitu kah? Jawab !”, bentak Dwyne.
“A-aku tidak bohong, Dewa memang menyentuhku malam itu, kamu lihat sendiri kan?”
Awalnya Dwyne menampik semua bukti yang ada, penjelasan Dewa, Papa Rayden serta Dariel pun dianggap tidak masuk akal. Tapi lama kelamaan ia semakin berpikir memang benar adanya semua perkataan Papa Ray dan Dariel.
Dwyne terbakar cemburu sehingga membutakan mata hatinya, ia melihat bagaimana Dewa begitu perhatian pada Dayana, memberikan jaket couple mereka, serta dalam kamar keduanya sangat dekat ditambah penampilan Dewa dan Dayana sangat kacau.
“Apa yang terlihat belum tentu sebuah kebenaran”, Dwyne menaikan dagu bersikap angkuh pada saudaranya.
“Kau lihat saja Dwyne, Dewa akan menjadi milikku, hanya aku bukan wanita lain”
Dwyne menampar satu pipi Dayana sampai tanda kelima jarinya tercetak jelas, lalu Dayana yang ingin kembali menampar tidak berhasil karena Dwyne lebih dulu menangkisnya.
Namun dua wanita yang sedang memperebutkan Dokter Dewa terlibat aksi tarik menarik rambut, sampai rasanya hampir rontok di kepala masing-masing.
Dwyne menarik kuat rambut Dayana, “Akhh, lepas kau Dwyne”
Dayana pun melakukan hal yang sama, terus menarik rambut coklat adik sepupunya sampai keduanya tidak sadar berada di pinggir anak tangga dan tergelincir bersamaan.
“Akhh”, pekik Dwyne dan Dayana.
Dayana melotot ketika melihat Dwyne memegang perutnya sangat kuat serta darah mengalir dari paha putih mulusnya.
“Dayana”, lirih Dwyne tak sadarkan diri.
“Dwyne, bangun, Dwyne. Bangun, katakan sesuatu, aku mohon bangunlah. Dwyne kamu hamil? Bangunlah”, Dayana meneteskan air bening yang mengalir di pipinya.
__ADS_1
“Tunggulah Dwyne, aku akan mencari pertolongan”, Dayana mencoba berdiri tapi sayang pergelangan kakinya terkilir dan sangat sakit untuk bisa berdiri menggapai pintu di atas mereka.
Sementara Dokter Dewa mencari Dwyne di ruang rapat, ia kecewa telah pergi. Dewa pun menunggu lift terbuka, bertepatan dengan itu Asisten D terlihat cemas.
“Dokter, dimana nona?”
“Maksudmu?”
“Nona Dwyne bilang ada urusan dengan seseorang dan menunggunya di sini tapi sudah 1 jam tidak ada kabar. Aku khawatir, apalagi Tuan Dariel menelepon sedari tadi”, cemas Asisten D.
“Itu artinya Dwyne masih di rumah sakit”, gumam Dewa, berpikir keras kira-kira dimana wanitanya berada dan siapa seseorang yang dimaksud.
“CCTV”, ucap Dewa dan D , serentak keduanya berlari menuju ruang operator.
Dewa gelisah dalam lift, tak sabar menemukan wanita yang sukses mengaduk-aduk. perasaannya.
Mata Dewa terbelalak melihat Dayana dan Dwyne menuju pintu tangga darurat di ujung lorong, apalagi melihat dari CCTV keduanya terjatuh dari tangga.
“D, panggilkan perawat ke tangga darurat lantai atas, cepat”
“i-iya dokter”
Dewa segera berlari kencang menghampiri kedua wanita yang dalam rekaman saling bertengkar.
“DWYNE?”, pekik Dewa melihat istrinya tak sadarkan diri dengan darah segar di bawahnya.
Sementara Dayana meringis sakit, ia semakin dibuat sakit lantaran perhatian Dewa hanya tertuju pada adik sepupunya.
“Dwyne, sayang. Bangun”
“Bertahanlah”, lirih Dewa menyadari apa yang terjadi pada wanitanya.
Dewa menggendong tubuh itu dan bergerak cepat menuju IGD, secepat mungkin agar sang istri segera mendapat penanganan.
...TBC...
...***...
__ADS_1
terma kasih ya temen -temen dukungannya. 😘😘😘😘😘