Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 108 - Posesif


__ADS_3

BAB 108


Pukul 5 pagi Dwyne mengantar Dewa sampai rumah sakit, meninggalkan Baby Denver dalam gendongan pengasuh. Kasihan juga jika harus membawa bayi kecil itu turut mengantar papanya. Dewa pun melarang sang istri untuk ikut tapi Dwyne yang keras kepala tidak mengindahkan larangan Dewa.


Kini sepasang suami istri yang saling mencintai itu berpelukan erat di depan mobil yang terparkir. Dwyne lebih dulu memeluk Dewa, sungguh ia tidak bisa berpisah selama ini. Pagi, siang, sore dan malam tidak akan bertemu suami dalam waktu 3 hari. Jatuh cinta ternyata serumit ini, pikir Dwyne. Dewa senang saja meski sikap Dwyne terlalu berlebihan, tapi ia menikmati perhatian dan jutaan curahan cinta yang Dwyne tunjukan padanya.


“Sayang aku harus berangkat”, Dewa menghidu aroma sampo yang sangat kuat dari kepala Dwyne.


“Sebentar lagi Dewa, apa kamu malu aku memelukmu seperti ini?”, Dwyne mulai kesal, ia cemburu bahwa Dewa satu kendaraan dengan perempuan lain.


Bisa Dwyne rasakan bahu suaminya berguncang karena tawa, ya memang singa betina ini selucu itu. Akan sangat menakutkan bagi orang asing tetapi begitu manis pada pasangannya.


Akhirnya pelukan terurai, Dewa menggenggam kedua tangan istrinya, wajah Dwyne pun menekuk sedih. “Sayang hanya 3 hari, aku pastikan kita selalu bertukar kabar. “Kamu tahu Dwyne aku paling tidak bisa berjauhan dengan wanita arogan milikku ini” , goda Dewa lalu menyesap pelan bibir pink yang melambai selalu menghasutnya untuk melabuhkan ciuman bahkan lebih.


“Hati-hati lah Dewa. Dan aku tidak ingin kamu dekat dengan wanita manapun. Awas saja”, ancam Dwyne melotot seraya menjentikkan jari telunjuknya dan menunjuk pada dada bidang Dewa Bagas Darka.


Dewa hanya tertawa saja menanggapi kalimat yang keluar dari bibir manis Dwyne. Bahkan saat ini mereka dilihat banyak orang, betapa romantis dan posesifnya Dwyne pada Dewa, sebaliknya pun begitu. Wanita lain tidak akan berani melawan dan merebut Dewa dari Dwyne, karena pasti wanita ini akan menggunakan cakar kekuasaannya untuk melumpuhkan lawan.


“Setelah sampai di Bandung aku hubungi, jangan lupakan jam makan mu sayang. Aku tidak suka kalau kamu sakit”, peringatan Dewa untuk Dwyne yang gemar menunda mengisi perut.


“Iya Pa Dokter bawel”.


.

__ADS_1


.


Setelah melihat dan memastikan Dewa tidak duduk bersebelahan bersama perempuan meskipun itu wanita paruh baya dan bus mulai meninggalkan pelataran rumah sakit. Dwyne bergegas kembali ke rumah untuk menghabiskan waktu bersama Denver sebelum jam kerjanya mulai.


PROK....PROK


Suara Dariel yang menepuk tangan menggoda saudari kembarnya sepulang mengantar Dewa. Ketara sekali Dwyne tidak bisa jauh dari Dewa dan sangat membutuhkan dokter tampan itu ada sisinya dan selalu ada untuknya.


“Apa kamu tidak khawatir Dewa mengedipkan mata pada perempuan lain?”, Dariel menghasut Dwyne yang semakin melebarkan kedua matanya. “Pergilah Dwyne, sebaiknya susul suami mu itu. Lagi pula mereka menginap di hotel kita. Kalau mau aku telepon manager hotel dan minta rapikan kamar mu di sana”, Dariel memainkan ponselnya sembari tertawa.


“Pekerjaanku banyak disini, huh. Menyingkirlah Dariel”, menggeser tubuh kekar saudara kembarnya. Sementara Dariel tertawa puas menggoda Dwyne yang kini tergila-gila pada Dewa.


Dwyne menghampiri Denver yang minum susu di pangkuan Mama Nayla, “Hi anak mama yang lucu, uh makin gembul pipinya”, menjawil pipi putih mulus Denver.


“Ya ma aku menunggu sampai busnya keluar area parkir”, jawab Dwyne.


“Gemana, senang kan punya suami baik hati dan sangat perhatian sama kamu? Itulah alasan mama dan papa menjodohkan kamu dengan Dewa, dia pria yang sangat bertanggung jawab sayang. Tekadnya pun kuat , dan mama sangat suka semangat juangnya. Sejak remaja mama sudah menyukai Dewa”, tutur Mama Nayla mengingat pertama kali bertemu Dewa di rumah sakit.


“Ihh mamah”, pipi Dwyne semakin merona dibuatnya. Dwyne menutup wajah dengan kedua tangannya, putri Rayden Bradley ini seperti seorang remaja segaram putih abu yan baru saja merasakan indahnya jatuh cinta.


“Kalau begitu, kamu pergi saja ke Bandung. Sekalian bulan madu sayang, kalian belum pernah pergi berdua menghabiskan banyak waktu. Dulu mama dan papa honey moon ke Raja Ampat, resort papa di sana bagus banget Dwyne. Sesekali kita bisa pergi kesana liburan keluarga”, Mama Nayla ikut memanasi Dwyne agar menyusul Dewa.


Kening Dwyne berkerut, gigi atasnya mengigit bibir bawah sejujurnya ia pun sempat memiliki niatan seperti itu. Berhubung Denver masih kecil dan pekerjaan di kantor menumpuk, wanita cantik ini mengurungkan niatnya untuk menguntit Dewa.

__ADS_1


“Tapi ma, baby Denver kasihan kalau Dwyne pergi”, Dwyne mencium putranya yang semakin besar semakin tampan. Rambut coklatnya pun tambah lebat dan tebal, benar kata Papa Ray, Denver mirip Dariel ketika kecil dulu. Tidak seperti biasanya wajah bayi lelaki mirip ayahnya, hanya beberapa bagian saja yang menurun dari Dewa.


“Bulan madu sayang, pergi sana. Biar mama minta izin sama papa, dan mama minta Dariel menghubungi pegawai di hotel untuk merapikan kamarmu”, renyah benar kalimat yang keluar dari bibir Nyonya Besar Bradley ini. Tapi Dwyne tidak mau mengikuti hasutan mama dan kembarannya, ia masih memiliki jadwal meeting di perusahaan iklan siang ini, serta kunjungan ke salah satu pabrik obat.


“Tidak ma, aku mau menunggu saja sampai Dewa pulang. Lagi pula semakin cepat aku belajar dan mencapai target papa juga melepas kendali perusahaan dan memiliki banyak waktu dengan mama”.


Dwyne memanfaatkan waktu bermain bersama Denver di ruang keluarga. Sampai Asisten D mulai datang menjemputnya dan masuk ke dalam rumah . “Sayang, sampai ketemu nanti sore, mama kerja dulu ya”, Dwyne senang melihat tawa lepas Denver di bibir mungilnya.


“Nona sebaiknya kita langsung menuju lokasi meeting”, tutur Asisten D, membuka I-pad berisi segudang jadwal kegiatan bosnya.


**


Sementara dalam bus, Dewa tak henti memandangi wajah cantik Dwyne di layar ponsel. Mengelus gambar istrinya itu yang selalu terbayang dalam kepala. Dewa pun sama, layaknya remaja yang baru merasa indahnya jatuh cinta yang terbalas.


“Dwyne”, gumam Dewa.


“Bidadari tak bersayapku”, Dewa tersenyum sendiri, bahkan Dokter Cakra yang duduk di sebelahnya ketakutan pada rekannya ini.


Cakra tahu Dewa tengah jatuh cinta untuk itu ia tidak mengganggu lamunan indah sang dokter. Biarlah Dewa menyelami apa yang dipikirkannya.


Menjalani semua memang tidak mudah, di tahun ke dua pernikahan Dewa dan Dwyne , keduanya baru bisa membuka diri dan tak lagi terbelenggu dalam prasangka masing-masing. Hanya di hati Dwyne tempat Dewa melabuhkan cintanya.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2