Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 58 - Pembuktian


__ADS_3

BAB 58


Dewa membalik badan, menatap lekat wajah Dwyne, ia sangat rindu mengecup bibir kenyal sang istri, membelai pipi basah Dwyne, pria ini pun memagut lembut bibir wanitanya.


Dua insan yang beberapa waktu lalu saling diam tak menegur sapa satu sama lain, kini larut dalam pertukaran saliva.


“Dewa, apa dia masih mau menerimaku?”, kata hati Dwyne.


Dwyne yang sebelumnya tidak pernah membalas ciuman Dewa, sekarang membuka bibirnya tanpa harus diberi gigitan kecil, bahkan Dwyne berani menyesap bibir kenyal Dewa untuk pertama kalinya, mengikuti naluri hati.


“Dwyne?”


Sejenak Dewa melepaskan pagutannya, napas keduanya terengah-engah. Kening saling menempel, hangatnya napas pun dapat di rasakan.


“Ya?”, tanya Dwyne gugup.


Dwyne menatap penuh arti pada pria yang banyak berkorban ini. Dewa tersenyum pada wanitanya, “Kamu semakin cantik, Dwyne, sayang”, Dewa menggenggam kedua tangan lembut Dwyne ia berjanji selalu setia di sisi Dwyne mendampingi wanita ini dalam kondisi apapun sekalipun Dwyne menolak.


“Aku tidak akan pergi kemanapun”, ucap Dewa.


Dewa memasukan anak rambut ke belakang telinga Dwyne, sungguh ia menyayangi wanita ini, tulus tanpa memandang latar belakang Dwyne Bradley.


“Kamu tahu Dwyne, aku begitu tersiksa tidur tanpamu”, batin Dewa.


“Bolehkah mulai malam ini kita tidur di kamar yang sama?”, tanya Dewa. Suami Dwyne ini semakin over protektif pada sang istri, ia bahkan menyewa dua orang pengawal yang menjaga Dwyne dari jauh, meskipun wanitanya sudah dikelilingi beberapa orang pengawal pribadi.


Jawaban berupa anggukkan kepala diterima Dewa, dia senang akhirnya bisa kembali bersama sang istri setelah melewati waktu yang cukup lama, tidurnya pun akan kembali nyenyak walau hanya beralaskan sofa.


“Aku ingin melihat istri cantikku tersenyum, bisakah?”


“Ya, Dewa, tentu saja”, Dwnye tersenyum manis dan hangat untuk suaminya, langsung memeluk tubuh tegap Dewa.


Dewa berusaha melepas rangkulan erat Dwyne tapi sepertinya enggan terlepas, Dwyne malah semakin masuk ke dalam dada suaminya mencari kehangatan. Wanita berparas cantik ini pun berani mengalungkan tangannya pada leher sang suami, menatap mata hitam Dewa dengan senyum tipis di bibirnya.


“Dewa?”

__ADS_1


“Ada apa?”


Dwyne berjinjit dan mencium bibir Dewa, meskipun kaku ia tetap memagut bibir suaminya.


Dewa menyambut dengan bahagia, suami mana yang tidak senang mendapat hadiah dari istri tercinta apalagi di saat pulang kerja. Dewa yang memang pria normal menggendong wanitanya ala koala, menghimpit pada dinding. Memberikan balasan pada Dwyne, seketika wanita itu men-d-e-s-ah.


“Ah, Dwyne”, Dewa segera menjauhkan tubuhnya, ia tidak ingin kembali kecewa juga merasakan sakit dan pusing pada tubuhnya.


“Dewa?”, lirih Dwyne mendapat penolakan, ia berpikir Dewa enggan menyentuh karena dirinya tidak berharga lagi.


“Kamu kecewa karena dia mengambil sesuatu dari ku?”, tanya Dwyne membuat Dewa bingung.


“Maksudnya apa?”


“Kamu marah karena pria brengsek itu meniduri ku, begitu kah?”, tanya Dwyne takut, marah dan merasa jijik.


“Sayang bukan seperti itu”, Dewa menangkup kedua pipi Dwyne, mencium kening wanitanya.


“Kamu memerlukan pembuktian?, pria bejat itu tidak menyentuhmu sayang, aku dan papa datang lebih cepat”, papar Dewa.


“Pembuktian?”, kening Dwyne mengernyit.


“Aku ingin tahu”, sahut Dwyne.


Dewa membuka jaket dan kaosnya, ia kembali menciumi wajah dan bibir Dwyne, kali ini sedikit liar dan cepat. Dwyne kesulitan mengimbangi permainan sang suami, tangan kanan Dewa sudah bergerak menelusuri tulang punggung dari balik piyama. Memberi sentuhan-sentuhan kecil pada tubuh istrinya.


Mengerti akan apa yang dimaksud sang suami, Dwyne pun pasrah jika Dewa melakukannya lagi pula ini juga bukan pertama kali baginya.


Perlahan piyama berwarna jingga luruh ke atas lantai, Dewa menatap kagum pada keindahan yang terpampang nyata di depannya. Mengecup wajah, bibir ranum Dwyne lalu turun pada leher jenjang, bagian atas wanitanya.


Hal baru baginya, setelah selama berbulan-bulan hanya bisa terlihat dengan alas kain yang menutupi kini pahatan elok bisa di sentuh dan dinikmatinya.


“Uuhhh”, d-es-a-h Dwyne, merasa sesuatu yang ingin meledak dalam diri. “D-dewa”


“Hem, aku mencintaimu Dwyne Bradley”, membaringkan sang istri pada ranjang besar kamar.

__ADS_1


Mengungkung wanita yang selalu menolaknya ini, karena tebalnya kabut gairah yang menutupi, Dewa dengan tidak sabaran memposisikan tubuhnya menyerang Dwyne di bawah sana.


“Aw, aw, sa-sakit”, lirih Dwnye tersentak, ia kebingungan kemana rasa nikmat yang tadi rasakan sekarang menghilang menjadi sakit, rasanya seperti terbelah jadi dua bagian.


“Tahan sayang, ini pembuktiannya, akulah pria yang pertama menyentuhmu, sayang istriku”, Dewa mengecup puncak kepala Dwyne.


“Benarkah?”, ada rona bahagia dalam diri Dwyne setelah mengetahui jika Mr Lee tidak menyentuhnya dan Dewa lah kini yang mengambil haknya sebagai seorang suami.


Melihat air mata yang menggenang, sigap Dewa memagut bibir dan tangannya menyentuh area sensitif agar istrinya semakin nyaman tidak merasakan sakit lagi.


Akhirnya hanya ada suara lenguhan dan erangan di kamar ini. Ditemani cahaya rembulan dari luar Dewa Bagas Darka melepaskan banyak pasukannya ke dalam, ia tidak lagi harus membuangnya ke saluran pembuangan air.


“Dwyne aku mencintaimu”, suara Dewa nampak lelah setelah 2 kali permainan mereka. Dwyne pun hanya bisa mengangguk, seluruh anggota gerak seakan kehilangan sumber kekuatan.


“Tidurlah sayang dan terima kasih”, Dewa memeluk dari belakang, menciumi tengkuk dan bahu yang terbuka.


Sedangkan Dwyne langsung terlelap begitu lemasnya, bahkan untuk menanggapi kata cinta pun tak kuasa.


“Aku harap secepatnya kamu cepat hadir disini sayang”, mengusap penuh cinta pada perut rata Dwyne. Dirinya sangat berharap jika hadirnya buah hati akan menjadi pengikat hubungan pernikahan mereka. Meskipun Dwyne telah menjadi miliknya namun karena belum mendengar ungkapan isi hati sang istri, Dewa merasa takut jika sewaktu-waktu Dwyne pergi. Mungkin dengan adanya anak, Dwyne akan berpikir beberapa kali untuk berpisah darinya.


“Jangan pernah pergi Dwyne, tetaplah di sisiku. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk mu”, Dewa ikut terlelap dengan damai.


Kicau burung yang hinggap di balkon mengusik sepasang suami istri dalam tidur, Dewa dan Dwyne membuka mata bersamaan, hingga keduanya saling menatap satu sama lain. Dwyne yang malu menundukkan pandangannya, pipi putihnya merona bagai tomat.


“Hey, kenapa?”


“T-tidak”, gugup Dwyne mengingat malam panas mereka pertama kali.


“Apa kamu malu?”, tanya Dewa setengah tertawa.


“Kenapa harus tanya lagi sih?”, kata hati Dwyne. Namun ia hanya menanggapi dengan mengangguk.


“Kenapa istriku jadi pemalu?, tidak perlu malu. Kita suami istri dan itu hal wajar bagi setiap pasangan yang telah menikah”


“Iya aku tahu”, kesal Dwyne karena Dewa masih memeluknya, bahkan tangan pria itu mulai nakal menyentuh area sensitif di balik selimut. “De-dewa?”, d-e-s-ah-an di pagi hari.

__ADS_1


“Hem, apa sayang?”, mencium bibir kenyal dan mulai menyatukan kembali, mengulang kegiatan malamnya di pagi hari ini.


...TBC...


__ADS_2