Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 83 - Gara-gara Mie


__ADS_3

BAB 83


Beberapa minggu berlalu sejak Dwyne mengungkapkan perasaannya, Dewa semakin posesif menjaga istri dan calon anak kembarnya. Keduanya pun masih tinggal di rumah keluarga Bradley, meski Dwyne telah dinyatakan cukup sehat tetapi usia kandungan yang muda terbilang rawan.


Selain itu Dewa pun jarang berada di rumah, hanya pagi dan malam hari dirinya bisa bersama Dwyne.


Hubungan Dewa dan Dwyne semakin dekat, walau Dwyne terkadang menghindari Dewa karena sikap manis suaminya itu selalu membuatnya berdebar.


Saat ini pun Dwyne tak kuasa melarikan diri dari kungkungan Dewa, sejak pulang  ke rumah dokter tampan ini selalu tersenyum hangat dan menciumi pipi serta kepala wanitanya penuh sayang, tidak lupa satu buket bunga mawar merah Dewa berikan untuk Dwyne.


“De-Dewa”, gugup Dwyne merasakan napas hangat suaminya.


“Apa sayang?”, Dewa membelai lembut rambut, turun pada kening, hidung, pipi dan bibir. Menatap puja pada ibu dari calon anak-anaknya.


“De-Dewa?”


“Dwyne”, Dewa mengecup kening wanita dalam kungkunganya cukup lama menyalurkan kasih dan sayang. Lalu beralih pada hidung, pipi dan bibir pink Dwyne yang selalu menggodanya, ciuman itu pun turun ke leher jenjang, serta tulang selangka, memberi gigitan kecil pada bahu Dwyne yang terbuka.


“Ah”, d-e-s-ahnya.


Lama tak mendapat sentuhan, membuat Dwyne begitu terbuai dan bagai melayang menerima permainan sang suami.


Dewa pun menanti hari ini, ia harus bersabar menunggu sampai kondisi Dwyne dinyatakan pulih. Bahkan Dewa tidak malu dan terang-terangan bertanya pada Dokter Samantha, hingga Dwyne malu di depan tantenya itu.


“Aku merindukanmu istriku”, bisik Dewa.


“B-bukankah setiap h-hari kita bertemu?”, Dwyne semakin gugup apalagi tangan Dewa berada di atas gaun tidurnya, dan pria itu pun bertelanjang dada.


“Merindukan sentuhan ini”, bisik Dewa menyentuh sesuatu yang membuat Dwyne melayang serta men-d-e-s-ah.


Dewa bermain begitu pelan dan lembut tak ingin menyakiti buah hati di dalam sana serta mementingkan kenyamanan Dwyne.


Peluh mulai bercucuran dikala telah melewati tengah malam dan suhu dalam kamar semakin panas, malam ini keduanya saling mencurahkan perasaan.


Dewa enggan melepas dan mengakhiri kegiatannya namun ia ingat pesan Samantha untuk tidak larut dalam keinginan yang menggebu.


“Dwyne”


“Dewa”


Ucap keduanya bersamaan.


“Ada apa istriku yang cantik?”, Dewa merubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap Dwyne. “Katakan saja”.


Mendapat tatapan Dewa, Dwyne beringsut menghindari kontak mata dengan suaminya. Menelusupkan kepala menempel pada dada bidang Dewa.


Dewa hanya tersenyum sembari memberi sentuhan kecil sepanjang punggung wanitanya.


“Ada apa sayang?”, tanya Dewa tak juga istrinya mengucapkan sepatah kata.


“Ummmm, aku lapar”, cicit Dwyne, seketika Dewa tertawa mendengar kalimat yang keluar dari bibir manis Dwyne.

__ADS_1


“Benarkah? Anak-anak papa lapar?”


Dewa bisa merasakan Dwyne mengangguk cepat di dadanya, “Mama mau makan apa?”, tanya Dewa mengurai pelukannya.


“Aku mau makan mie instan”, lirih Dwyne karena tahu Dewa melarang keras istrinya memakan itu.


“Dwyne, tidak. Lebih baik aku membuatkan makanan yang lain”


“Tapi aku mau mie instan”, tangis Dwyne tak tertahan.


Dewa memijat pelipisnya yang mendadak pusing, Dwyne menangis tersedu-sedu menerima penolakan keras dari suaminya.


“Sayang, jangan makan itu. Belakangan ini pola makanmu tidak baik, dan aku khawatir asam lambung mu kembali naik”, tutur Dewa.


“Lalu apa gunanya suamiku seorang dokter?”, ucap Dwyne di sela tangisnya.


“Huh, ya ampun. Gunanya aku untuk menjaga mu dan anak-anak kita”, jawab Dewa tegas, segera turun ke dapur memasak makanan untuk istrinya yang tengah menangis.


Cukup lama Dwyne menunggu lebih dari 15 menit, Dewa datang membawa satu nampan kecil makanan berisi sandwich, susu hangat dan potongan buah apel.


“Untuk istri dan anak-anak papah”, Dewa mengulas senyum namun Dwyne membuang wajah ke arah berlawanan.


“Aku tidak mau”, menyilangkan kedua tangan di depan dada.


“Bukankah kamu lapar, sebaiknya isi perut dulu ya”


“TIDAK”, Dwyne turun dalam keadaan tubuh polos, lalu mengambil kimono yang terhempas di atas sofa.


“Sayang, angin malam tidak baik untuk kesehatan”, Dewa menarik tubuh istrinya.


“Aku ingin mie bukan makanan seperti itu Dewa, kamu bisa mengerti tidak?”, kesal Dwyne menghentakkan satu kakinya dan berjalan masuk ke dalam kamar.


Dewa meraup wajah dengan kedua tangan, lagi-lagi karena makanan keduanya harus berdebat hingga Dwyne menangis.


“Ok, begini saja. Aku akan masak mie tetapi kamu makan ini dulu setidaknya sampai setengahnya, mau kan?”, Dewa mencoba bernegosiasi dengan Dwyne.


“Tapi janji ya? Aku tidak mau kamu ingkar”


“Makan dulu ini sayang”, menyuapi istrinya potongan buah apel.


.


.


Pagi hari di rumah kediaman Bradley, perdebatan terjadi diantara twin D. Dariel yang baru saja turun untuk sarapan bersama dikejutkan dengan Dwyne yang menduduki kursinya.


“Itu tempatku Dwyne”


“Kamu kan bisa memilih yang lain, ketus Dwyne”


“Tidak, itu tempatku. Menyingkirlah”

__ADS_1


“Tidak mau, Dariel kau menyebalkan”


Mama Nayla dan Denna terbiasa dengan pertengkaran diantara keduanya, Oma Anggi pun menggelengkan kepala. Twin D masih seperti anak kecil.


Dewa pun tidak tahu harus bilang apa, karena ia penyebab Dwyne pindah tempat duduk. Dwyne yang marah akibat suaminya mengingkari serta mengabaikan keinginannya untuk makan mie instan.


Tepat sekali setelah Dwyne menghabiskan setengah makanan yang dibuat oleh Dewa semalam, suaminya itu mengantuk hingga tertidur dan mendengar ocehan Dwyne yang begitu ingin menikmati mie instan berkuah.


“Ada apa ini?”, tanya Papa Rayden mendengar dan melihat keributan di ruang makan.


“Dwyne”, tunjuk Dariel.


“Dariel dan Dewa”, tunjuk Dwyne.


Ucap Dwyne, sontak seluruh anggota keluarga menoleh pada Dariel dan Dewa.


“Ada masalah apa Dewa, Dariel?”, tanya Papa Ray.


“Aku tidak membuat masalah dengan ibu hamil sensitif ini pah”, jawab Dariel.


“Kamu Dewa?”, Rayden menarik napas, ”Kalian ini sudah besar, kau Dwyne duduk di samping suamimu, cepat kita sarapan, setelah ini ada yang ingin papa sampaikan”.


Akhirnya dengan terpaksa Dwyne berdiri, memutari meja dan duduk tepat di samping suaminya.


“Maafkan aku sayang”, lirih Dewa.


“Tidak mau, kamu itu menyebalkan Dewa”.


Selesai sarapan, Dwyne, Dariel dan Dewa mengikuti Papa Rayden masuk ruang kerja. Pria berusia setengah abad lebih ini berdiri memunggungi ketiganya.


“Dwyne, kondisi mu sudah kuat kah?”, tanya Papa Rayden.


“Iya pah, sudah”


“Pihak pengacara Mr Lee menginginkan korban hadir pada persidangan ke 3 nanti, papa sudah menolaknya namun mereka bersikeras, jika tidak hadir maka hukuman yang dijatuhkan akan ringan pada pria bren**** itu”


“Untuk apa lagi pah? Bukankah sidangnya telah selesai?”, tanya Dariel.


“Iya tapi pihak Mr Lee membantah dan mengajukan banding jika Dwyne lah yang datang padanya dan memulai lebih dulu hingga menggodanya”, jawab Papa Rayden.


“APA?”, Dwyne menggelengkan kepala.


“Pria itu gila, tidak waras”


...TBC...


...****...


Jangan lupa dukungannya untuk author ya, boleh like dan komen


Atau kalau suka sama alur cerita silahkan, vote, rate dan kirim hadiah

__ADS_1


Terima kasih 🥰🙏🤗


__ADS_2