Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 13 - Tamu


__ADS_3

Bab 13


Dewa memijat pelipisnya yang tiba-tiba pusing menghadapi sikap istrinya dan melihat punggung itu kian menjauh dari kamar. Menghadapi istri dengan sabar sangat menguras tenaga, Dewa marah pun percuma karena Dwyne tidak akan takut padanya malah semakin menjauh dan tidak nyaman, tentu saja hal ini tidak akan ia biarkan terjadi.


“Dwyne”, Dewa menggelengkan kepalanya pelan.


Sementara Dwyne menuruni anak tangga menuju ruang makan lebih dulu, melewatkan sarapan membuat perutnya sakit.  Dwyne tersenyum miring melihat seseorang di meja makan tengah bersenda gurau bersama Mama Nayla, ia pun memutar kembali tubuhnya dan memilih ke kamar tapi Mama Nayla langsung menyadari kehadiran putrinya.


“Dwyne, sayang kesini kamu belum sarapan kan?”


“Iya”, sahutnya dengan malas.


“Hi, Dwyne apa kabar?”, tanya Dayana terus memperhatikan penampilan adik sepupunya yang begitu seksi.


“Baik, untuk apa kamu kesini ka?”, ketus Dwyne


“Hey, kalian ini kenapa, ayo sarapan. Mama juga belum makan, papa dan Dariel pergi pagi-pagi sekali, huh”, cerita Mama Nayla. “Dwyne, dimana Dewa?, apa tubuhnya masih demam?”


“Dokter Dewa sakit?”, tanya Dayana dengan nada khawatir.


“Huum”, Dwyne malas menanggapi kakak sepupunya ini dan fokus pada makanan di atas piringnya.


“Jawab pertanyaan mama nak, apa Dewa sudah membaik? Terus kamu hari ini mau kemana?”, tanya Mama Nayla menelisik penampilan putrinya.


“Dia baik-baik saja. Kerja ma, di ruang kerja banyak berkas yang perlu diperiksa juga tandatangani”, Dwyne memasukan satu sendok nasi kuning ke mulutnya.


“Syukurlah kalau memantu mama sehat, sebelum ke ruang kerja bawa sarapan lebih dulu untuk suamimu ke kamar”


“Ck kenapa harus aku sih, bukan minta pelayan saja”, ketus Dwyne dalam hati, lalu memperhatikan kakak sepupunya yang tengah menanti makanan terisi di piringnya, Mama Nayla begitu menyayangi Dayana sama seperti Dwyne, Dariel dan Denna. “Iya ma”, sahut Dwyne.


“Ada yang ingin kamu tanya ka?”, celetuk Dwyne disela-sela makannya, karena ia menangkap sesekali kakak sepupunya itu melirik ke arahnya. “Tanyakan saja”, memundurkan sedikit bahunya sebagai tanda siap menerima pertanyaan dari Dayana.


“Tidak ada Dwyne”, senyum Dayana.


“Ok”, Dwyne berdiri dan membawa makanan di nampan untuk suaminya.


Tanpa mengetuk lebih dulu ia masuk dengan wajah sedikit tertekuk, bagi Dwyne ini membuang waktunya yang berharga walau hanya beberapa menit. Seketika wanita cantik ini tersentak mendapati Dewa yang hanya terbalut handuk putih di pinggangnya. Sigap memalingkan wajahnya ke sisi lain.

__ADS_1


“Dwyne ada apa?”, tanya Dewa begitu menyadari jika istri angkuhnya kembali masuk kamar. Dewa berjalan mendekati wanita yang hanya diam mematung dengan nampan di tangannya.


Dewa tersenyum manis, bagi sebagian perempuan lain pasti akan tergoda pada situasi seperti ini. Namun Dwyne sebaliknya, ia mendengus kesal karena Dewa bukannya mengambil makanan yang ia bawa tetapi malah asyik menatap wajahnya sembari tersenyum.


“Hey, Dewa ambil ini, tanganku pegal. Mama mengkhawatirkan mu”, Dwyne membalik tubuhnya hendak pergi dari kamar.


Usai menyimpan makanan di atas meja, Dewa segera merengkuh pinggang istrinya yang begitu menggoda. “Bisa temani aku makan di sini?”, suara lembut Dewa tidak mudah meluluhkan sikap keras istrinya.


“APA?, enak saja, aku sudah membawa makanan ke sini harus tetap menemani kamu juga”, melepaskan tangan Dewa yang menempel di pinggangnya.


“Sebentar saja”


“Tidak mau, waktu ku sangat berharga. Minggir”


“Temani aku Dwyne sebentar”


“Ish, kamu menghalangi jalanku Dewa, kamu tahu bukan aku itu sangat sibuk”, mendorong dada bidang suaminya tanpa segan meski langsung menyentuh kulit hangat Dewa. “Ahh”, seketika keduanya terjatuh ke atas ranjang.


Dwyne menindih tubuh kekar suaminya dan Dewa menikmati wajah cantik Dwyne, begitu manis tapi juga mengesalkan. “Cantik”, lirih Dewa.


“Lepas Dewa, kamu apa-apaan?”, menggerakkan tubuhnya supaya terlepas dari dekapan suaminya. “Ish, jangan memanfaatkan keadaan”, seru Dwyne tidak suka.


“Maksudmu?”, tanya Dwyne tidak mengerti. Keduanya saling bertatap dalam diam, senyum memenuhi wajah seorang Dewa Bagas Darka sementara raut kebingungan ketara pada wajah cantik Dwyne. “Singkirkan tanganmu sekarang juga Dewa”, berdecak kesal tapi semakin Dwyne memberontak justru Dewa semakin erat membawa wanita itu mendekat tak berjarak. “LEPAS DEWA BAGAS DARKA”, ketusnya.


“Maaf”, lirih Dewa sembari tersenyum kecut.


“Ah ya, sebaiknya cepat pakai bajumu. Tidak perlu pamer otot di sana”, tunjuk Dwyne pada tubuh atas Dewa yang polos. “Aku sudah sering melihat milik Dariel dan Papa”, gumamnya melenggang pergi.


Tapi Dewa tersenyum mendengar kata-kata istrinya, hatinya merasa senang mendapat setitik perhatian dari wanita yang kini menjadi istrinya itu. “Dwyne”, gumam Dewa lalu mengulum senyum.


Tidak seberapa lama ia pun keluar dari kamar mencari seseorang yang sangat membuat harinya berwarna, ia ingat Dwyne akan berkerja dari rumah hari ini tapi sayang Dewa tidak mengetahui dimana letak ruang kerja istrinya itu. Biasanya ia akan melihat Dariel berkeliaran di lantai 2, tapi pagi ini tidak.


Dewa turun ke lantai 1, melihat wanita cantik berambut panjang duduk di taman sedang meneguk teh pastilah mama mertuanya.


“Pagi ma”, sapa Dewa.


“Dewa, mama lega mendengar kamu sehat nak”, suara Nayla begitu lembut menenangkan hati.

__ADS_1


“Dokter Dewa?”


“Dayana?”


Seakan mengerti arti sorot mata menantunya, Mama Nayla memberi penjelasan mengapa keponakannya itu ada di rumah keluarga Bradley. “Dayana memang sering kesini Dewa, tapi semenjak sibuk koas jarang sekali mengunjungi mama”, Nayla mengerucutkan bibirnya.


“Maaf mama”


Dewa hanya mengetahui jika Aileen Dayana Kei adalah kakak sepupu dari istrinya Dwyne tapi rupanya hubungan diantara mertua dan juniornya itu sangat erat.


“Ma?, ruang kerja Dwyne dimana?”


“Di lantai 2 nak, kamu pasti belum hapal semua ruangan di rumah ini ya, eemmm begini saja Dayana mama minta tolong antar Dewa ke ruang kerja Dwyne ya”


“Hah, i iya ma”, gugup Dayana menarik napas pelan dan menghembuskan dengan cepat. “Ayo dokter”.


Dayana dan Dewa berjalan saling beriringan menaiki anak tangga satu per satu. “Dokter, apa benar sudah sehat?”., tanya Dayana memecah keheningan.


“Hem ya, Dwyne merawatku dengan baik”


“Oh”, Dayana tersenyum kaku, “Itu di sana ruang kerja Dwyne, kalau di sebelah sana milik Dariel”.


“Terima kasih”, Dewa berjalan menuju ruang kerja istrinya.


Sementara Dayana berjalan berlawanan arah tetapi netranya memperhatikan hal lain bukan jalan  di depannya. “Ahh”, pekiknya. “Awww”, mengibaskan tangan dan kaki yang terasa ngilu akibat menubruk meja di depannya.


“Dayana?, kamu tidak apa-apa?”, naluri Dewa sebagai seorang dokter, cepat tanggap menghampiri juniornya itu.


“Tulang kering dan tanganku memar dokter”, ucapnya menunjukan bagian yang terkena ujung meja.


“Lain kali lebih berhati-hati, cepat bangun aku obati dengan salep”, Dewa mengulurkan tangan pada kakak sepupu istrinya. “Tunggulah di sana”, menunjuk pada kursi diujung ruangan.


“Ck menjijikan sekali”, cibir seseorang yang memperhatikan keduanya.


Tbc


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2