
BAB 91
Tak mendengar jawaban dari Dokter Samantha, hati Dwyne merasakan sesak luar biasa. “Tante, Mama, Mama Samantha, bagaimana keadaan bayiku?”, isak tangis Dwyne.
“Dwyne, mama harus melakukan operasi sekarang juga, tidak ada pilihan lain sayang, mama akan berusaha menyelamatkan kedua jagoanmu”
Mendengar kata-kata Samantha membuat tubuh Dwyne menegang, ia pun menangis kembali.
Sedangkan Dokter Samantha keluar ruangan mencari suami dari keponakannya, karena bagaimana pun juga rumah sakit harus tetap menjalani sesuai prosedur, meski Samantha sangat ingin melakukannya dengan cepat.
“Dimana Dewa? Nayla apa kamu sudah menghubunginya? Dwyne membutuhkan kehadirannya sekarang juga, aku memerlukan persetujuannya”
“Apa?”, Mama Nayla mengepalkan tangan, “Maksudmu Samantha, Dwyne harus melahirkan saat ini juga? Ponsel Dewa tidak bisa dihubungi”, cemas Mama Nayla.
“Pasti Dokter Dewa ada di Universitas, biar Dayana menjemputnya ma”, tawar Dayana.
“Cepat ya sayang”, mohon Mama Nayla.
Dokter Samantha menyampaikan keadaan janin dalam tubuh Dwyne, untuk itu harus cepat dilakukan tindakan agar ketiganya terlebih lagi keduanya selamat.
“Cucu ku”, lirih Mama Nayla.
Mama Nayla pun diizinkan masuk ruang tindakan untuk menemani Dwyne yang sedang meratapi keadaan kandungannya, walaupun sedih Mama Nayla tetap berusaha menghibur putrinya dan memberi semangat.
Keberadaan Dewa saat ini sangat penting bagi Dwyne, ibu hamil yang terbaring di atas brankar pun selalu bertanya dimana suaminya dan kapan Dewa sampai ke rumah sakit.
**
Universitas
Dayana berlari dari area parkir motor, ya wanita cantik ini tidak mengendarai mobil karena untuk mempersingkat waktu dirinya menggunakan jasa ojek. “Dimana kamu Dewa?”, gumam Dayana, kepalanya bergerak ke kanan dan kiri.
Bertanya pada beberapa mahasiswa lain dimana keberadaan Dewa, tapi sayang tak ada yang mengetahui. Mencoba menelepon pun rasanya percuma karena ponsel dokter tampan itu tidak aktif.
Dayana mengabaikan niat dan janjinya untuk menjauhi Dokter Dewa , sekarang yang lebih utama dan penting adalah keselamatan adik sepupu serta anak-anaknya.
__ADS_1
“Pak, apa kelas dokter spesialis jantung sudah selesai?”, tanya Dayana pada petugas.
“Masih ada 2 kelas lagi, kalau pagi sudah selesai”, jawabnya.
Dayana berpikir pasti Dewa berada di kantin Universitas, tetapi sesampainya di tempat yang sangat ramai itu tak kunjung menemukan sosok tampan yang dicarinya.
“Aaaarghh, dimana kamu Dewa? Istrimu membutuhkanmu”
“Ah ya”, Dayana memiliki ide untuk meminta bantuan pada petugas informasi.
Berselang 15 menit bisa Dayana lihat Dewa berlari ke arahnya, tatapannya pun berubah kecewa karena yang datang bukan wanita dalam bayangan Dewa.
“Dayana? Ada perlu apa sampai meminta pihak informasi memanggil namaku?”, datar Dewa.
“Dokter, sebaiknya kita cepat ke rumah sakit. Dwyne membutuhkan mu, ayo cepat”
“APA?”, Dewa mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya. “Ah sial, kalau dengan mobil bisa memakan waktu lagi”, kesal Dewa.
“Naik ojek, aku sudah membawa 2. Mereka menunggu di parkiran motor. Cepat ka”
“Selamatkan lah istri dan anak-anakku”, monolog Dewa.
.
.
Dewa berlari kencang memasuki gedung GB Hospital, sungguh ia tak tenang saat ini. Dayana juga tidak banyak bicara kondisi Dwyne karena keduanya bergegas menuju rumah sakit.
“Sayang, sayang. Dimana kamu Dwyne?”, panik Dewa.
“Dewa kamu kemana saja, cepat masuk ke ruang operasi”, ucap Bunda Nayra.
Dewa membuka pintu utama ruangan itu, udara dingin begitu terasa lalu membuka lagi pintu ruang tunggu pasien dan terkejut mendapati Dwyne memegang tangan ibu mertuanya sembari menangis.
“Sayang, maafkan aku, sayang”, Dewa mengecupi tangan Dwyne yang terpasang selang infus.
“Kamu jahat Dewa”, sergah ibu hamil ini.
__ADS_1
“Tidak, tidak jangan katakan itu”
“Dewa”, panggil Dokter Samantha, menjelaskan keadaan Dwyne dan detik itu Dewa menandatangi prosedur yang akan dijalani sang istri.
“Aku cinta kamu Dwyne, aku juga cinta anak-anak kita”, Dewa ikut masuk ke ruangan operasi.
Dokter anastesi terbaik yang dimiliki GB Hospital memasuki ruangan dan segera menyuntikan cairan bius pada tulang ekor istri Dewa Bagas Darka. Hingga beberapa detik kemudian tubuh bagian bawah Dwyne tak terasa lagi.
Dwyne hanya bisa mendengar suara denting alat-alat kedokteran, Dewa setia memegangi satu tangan istrinya dan membenamkan wajah di ceruk leher jenjang Dwyne.
“Dokter bayi pertama”, ucap Samantha pada dokter spesialis anak.
Oek Oek Oek
Suara tangis bayi menggema dalam ruangan, kristal bening mengalir dari sudut mata indah Dwyne, ia terharu bisa mendengar tangis bayinya.
“Selamat nyonya dan Dokter Dewa, bayinya laki-laki”, ucap Dokter Spesialis anak yang langsung membawa bayi itu untuk mendapat penanganan lebih lanjut.
“Satu lagi dok”, ucap perawat senior yang mendampingi.
Bisa Dwyne rasakan sesuatu di tarik dari dalam perutnya, Dewa dan Dwyne menegang karena tidak mendengar tangis bayi.
“Dokter?”, tanya Dewa melihat bagaimana Dokter Samantha dan spesialis anak berusaha membuat bayi kedua menangis. Beberapa metode sedang dilakukan keduanya.
“Dewa, ada apa dengan anak kedua ku?”, lirih Dwyne.
Tubuh Dewa terhuyung ke belakang melihat bahasa isyarat dari tim dokter yang menangani putranya.
“Dewa, katakan ada apa?”, bentak Dwyne.
Dokter Samantha bergerak cepat menutup kembali luka sayatan pisau bedah di perut Dwyne, sebagai dokter senior ia telah mampu menguasai diri agar tidak larut dalam kesedihan.
“Kamu kuat sayang, mama yakin itu”.
Tekanan darah Dwyne mulai naik dan ini tentu menjadi penghambat proses penyelesaian operasi.
...TBC...
__ADS_1