
BAB 112
Beberapa bulan kemudian, waktu yang semakin cepat dijalani oleh setiap insan dibelahan bumi. Begitupun Dewa dan Dwyne, menyaksikan sendiri tumbuh kembang Baby Denver sangat baik dan bertambah lucu serta cerdas.
Setiap satu bulan sekali Dewa dan Dwyne menyempatkan mengunjungi area pemakaman, kedua orang tua ini memanjatkan doa untuk buah hati mereka yang pergi lebih dulu. Tidak bisa dipungkiri kesedihan masih sering menggelayuti Dwyne, sebagai ibu memang berat apalagi semakin lucu tingkah pola Denver, seakan ada bayangan Dafa di dekat saudara kembarnya.
“Mama dan Papa menyayangi mu Aryatama Dafa Bradley”, lirih Dwyne hampir meneteskan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya.
“Sudah sayang, ayo kita pulang”, Dewa merangkul bahu Dwyne yang selalu rapuh bertandang ke kuburan kecil ini. “Dafa mendapat kebahagiaan sendiri di sana, sayang. Dia pasti menyayangi mu”, Dewa mengecup pelipis Dwyne sebelum keduanya pulang.
“Dafa, mama pulang dulu ya. Lain waktu mama akan datang bersama Denver”, lirih Dwyne suaranya bergetar.
Dewa menggenggam tangan sang istri keluar area pemakaman, menghapus air mata yang tumpah membasahi pipi mulus istrinya.”Sayang tenanglah, jangan menangis lagi ya”, peluk erat Dewa untuk istrinya.
Setibanya di rumah, Dewa dan Dwyne disambut oleh kehadiran Oma Nilla, Oma Anggi dan Opa Dave namun Denna tidak turut serta. Adik bungsu itu sedang ujian semester akhir sebelum memasuki bangku perkuliahan.
Celotehan Denver membuat rumah semakin hangat dan berwarna, mengundang gelak tawa semua orang yang hadir.
.
.
Dua hari berlalu
Tepat hari ini usia Denver 1 tahun, dan acara ulang tahun pertama pun dirayakan cukup sederhana, hanya dihadiri oleh kerabat terdekat saja. Dewa dan Dwyne lebih menginginkan pesta yang mengutamakan kebersamaan keluarga.
Batita yang baru bisa berjalan itu berlari menghindari pengasuhnya, tidak mau memakai tuksedo pemberian Oma Kezia. Denver tertawa terus berlari sampai mendorong kuat pintu kamar orang tuanya. Sontak saja sepasang suami istri di dalam kamar itu terkejut karena putra kecil mereka tiba-tiba masuk, disaat Dewa memagut bibir istrinya dan jangan lupa tangan yang telah merambat kemana-mana.
__ADS_1
“Papa, mama top (stop), top, beti, beti”, memisahkan kedua orang itu agar menjaga jarak.
“Ya ampun Tuan Muda Denver”,teriak pengasuh yang menutup mata malu melihat tuan dan nyonyanya.
“Pak, bu maaf. Denver ayo sini pakai jasnya”, bujuk rayu yang tidak mempan bagi Arkatama Denver.
Dewa dan Dwyne salah tingkah terciduk oleh putra kecil mereka, “Sayang, kamu cari mama dan papa?”, suara Dwyne begitu lembut tak ada jejak emosi di dalamnya.
“Biar saja mba, Denver bersama kami”,ucap Dewa tegas, mengambil tuksedo dan dasi kupu-kupu dari tangan pengasuh.
Denver pun menangis karena ia kasihan pada mamanya yang selalu mendapat gigitan dari serangga ketika dekat dengan Dewa.
“Anak ini berlebihan”, gerutu Dewa yang harus rela membagi istrinya dengan Denver, bahkan mungkin Dewa hanya mendapat sisa waktu saja . Setelah Dwyne pulang kerja, Denver selalu menempel pada mamanya sampai memasuki waktu tidur. Sedangkan Dewa tetap disibukan dengan aktifitas pendidikan spesialisnya, pulang larut malam dan tak jarang istrinya telah lelap tertidur bersama Denver.
“Denver kenapa tidak mau pakai ini?”, tunjuk Dewa ke arah tangannya.
“Au mama, au mama”
“Sini sayang”, Dwyne menggendong putranya dan membantu memakai tuksedo kecil serta dasi, semakin menyempurnakan penampilan Denver.
Dewa dan Dwyne gemar sekali menciumi pipi dan kepala harum khas anak batita ini sampai Denver merasa geli tertawa riang.
“Sayang anak kita sudah besar, aku tidak menyangka menyenangkan sekali memilikinya. Iya seandainya Dafa bisa selamat pasti keduanya bermain bersama”, Dwyne meneteskan air mata ingat putranya yang bahkan wajahnya pun tidak ia lihat, namun Dwyne yakin Dafa sama tampannya seperti Denver karena keduanya kembar identik.
“Denver bagaimana kalau papa memberimu adik bayi?”, bisik Dewa, “Denver mau ya?”, melihat Denver yang mengangguk semangat, Dewa puas mendapat jawaban meskipun putra kecilnya itu belum mengerti apa arti yang dimaksud adik bayi.
“Aw, sakit sayang”, Dwyne menjewer telinga suaminya.
__ADS_1
“Kalian pikir mama tidak tahu apa yang sedang di bahas? Huh”, ketus Dwyne menatap tajam pada suaminya yang selalu menghasut ini. “Dewa, bukankah dokter bilang, aku masih harus istirahat dan belum boleh mengandung lagi sampai waktu tertentu? Ish kamu ini bagaimana sih, kamu seorang dokter tapi berusaha melanggarnya. Menyebalkan”, ketus Dwyne.
“Maaf sayang, aku hanya ingin memiliki banyak anak darimu eh, maksudku supaya Denver tidak kesepian saat kita kerja”, Dewa menunjukan deret gigi putih bersihnya pada sang istri, lalu memeluk Dwyne dan Denver bersamaan. “Papa menyayangi kalian”, mengecup puncak kepala Denver dan Mama Dwyne.
“Nah sekarang Denver, tunggu lagi sama mbak ya”, Dewa menggendong keluar kamar putranya dan menitipkan pada pengasuh tapi Mama Nayla mengajak Denver turun lebih dulu sebelum acara dimulai.
Tentu kesempatan bagi Dewa untuk memesrai istrinya meskipun hanya dengan waktu singkat. Dewa segera memasuki kamar, menutup rapat dan mengunci pintu, mencari sosok wanita yang ia cintai. “Sayang kamu dimana?”
Kaki Dewa melangkah membuka pintu walk in closet, menemukan Dwyne yang sedang memoles pewarna bibir.
“Ah Dewa”, Dwyne cemberut karena Dewa menghampirinya tiba-tiba hingga pewarna itu tidak rapi.
“Maaf sayang”, berjongkok dengan satu lutut menyentuh lantai. Menghapus sisa noda pink pada sisi bibir manis dan kenyal Dwyne, ibu jari Dewa begitu lembut mengusapnya, jujur Dwyne dibuat meremang oleh suami tampannya ini.
“Sayang”, pandangan Dewa berubah dipenuhi kabut gaira.
“Ah”, sekejap tubuh Dwyne telah melayang di udara, Dewa menggendongnya membawa ke atas ranjang. Menciumi leher jenjang dan menghirup rakus aromanya.
“Dewa, berhenti jangan sekarang. Kamu tahu keluarga besar kita menunggu di bawah”, tolak Dwyne. Pasti Dewa akan memperlambat waktu acara.
Dokter tampan nan baik hati ini melirik pada jam di atas nakas, seringai senyum tersungging di bibir. “Masih ada waktu 30 menit lagi sayang”, bisik Dewa membuka kancing kemeja lalu dalam sekejap telah polos.
“Dewa tapi, hhmp”, belum tuntas kata-kata Dwyne keluar dari mulut, telah Dewa bungkam dengan bibirnya.
Dwyne yang semula menolak tak kuasa jua menahan apa yang tubuhnya rasakan, hingga sepasang suami istri ini melakukan permainan singkat dan berbagi peluh serta suara merdu memenuhi kamar luas ini. Untung saja kedap suara jika tidak pasti semua anggota keluarga yang hadir mendengar d-e-s-a-ha-n keduanya.
Dewa tertawa kecil melihat Dwyne melilitkan selimut pada tubuhnya, wanita itu masih saja malu padahal telah puluhan mungkin ratusan kali melakukannya.
__ADS_1
“Ah semua ini gara-gara kamu Dewa, aku harus mandi lagi”, teriak Dwyne dari dalam kamar mandi apalagi mendapati tanda merah pada bagian atas dadanya.”Hah, selalu saja”.
...TBC...