Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 47 - Karena Tendangan


__ADS_3

BAB 47


Dewa sedang bersiap pulang dari klinik, sedikit meregangkan tubuh karena lelah menyelesaikan proses administrasi pendidikannya. Tiba-tiba suara telepon membuat matanya menyipit, tidak biasa Papa Rayden menghubunginya malam hari.


“Iya Pah, aku di klinik”


“Apa?, iya Pah. Dewa segera pulang, terima kasih informasinya Pah”


Dewa menutup sambungan telepon, berjalan cepat memasuki mobil dan menginjak pedal gas tidak sabaran usai menerima kabar papa mertuanya.


Dewa tiba pukul 11 malam ke rumah mertuanya, waktu yang cukup cepat memang karena jalanan menjelang tengah malam sangat lenggang. Dewa cemas karena istrinya sakit namun tak mau menerima perawatan ke rumah sakit.


“Istrimu di kamar, Dewa”, ujar Papa Rayden yang berdiri di dekat tangga.


“Iya Pah, terima kasih”, Dewa sedikit berlari menaiki anak tangga, lalu membuka pintu perlahan. “Dwyne”, lirihnya mendapati wanita cantik terlelap beralaskan sofa dan tanpa selimut. Dewa mengambil selimut di atas kasur menutupi tubuh Dwyne yang terekspose bagian bahu dan pahanya. “Sebentar sayang, aku mandi dulu”, mengecup kening wanitanya.


“Aku tidak mau memberi kesempatan padamu,  kamu itu sama saja seperti pria lain, selalu mengumbar janji tanpa bisa memenuhinya”, Dwyne meracau dalam tidur, sontak Dewa menghentikan langkah kaki menuju kamar mandi.


“Aku berbeda sayang”, bisik Dewa tepat di telinga Dwyne, lalu melanjutkan masuk kamar mandi.


“Hah? Tadi apa?”, Dwyne tersentak karena merasakan sesuatu, langsung terduduk mengedarkan pandangan pada kamarnya yang sangat sepi. Kembali melihat smartphone namun nihil tak ada pesan atau panggilan dari Dewa.


“Mungkin aku mimpi”, gumamnya dan melanjutkan tidur.


Baru saja menutup mata, Dwyne mendengar suara pintu kamar mandi yang bergeser, kedua bola matanya melebar. Dwyne mengepalkan kedua tangan di bawah selimut. “Mana mungkin orang asing bisa masuk ke sini”, cicitnya.


Tentu saja karena rumah dengan keamanan tingkat tinggi ini selain di jaga ketat oleh banyak petugas ada sistem yang membantu melindungi dari ancaman pihak-pihak tidak bertanggung jawab.


Dwyne menajamkan telinga, langkah kaki seseorang semakin dekat bahkan menghampirinya, dapat ia dengar juga suara napas itu. “Orang gila macam apa yang memasuki rumah ini?, sampai memakai sabun ku”, kepal Dwyne teleh bersiap mengambil ancang-ancang hendak meninju orang asing itu.


“Kau salah berhadapan denganku, aku buat babak belur kau”, batin Dwyne.

__ADS_1


Selimut yang digunakan bergeser sedikit, Dwyne yakin orang asing ini adalah pria mesum. “Haaaaa”, istri Dewa Bagas Darka menendang kuat tubuh yang hanya berbalut kain handuk putih, mungkin jika tidak di pegang kuat telah lolos jatuh ke lantai.


“Dasar pria mesum, beraninya mencari masalah denganku, hah?", Dwyne menjambak rambut dan melayangkan tinju di udara. “DEWA?”, pekik Dwyne menyadari ternyata bukan pria asing yang memasuki kamarnya melainkan sang suami.


“Ahhh, Dwyne kamu makan apa hari ini?”, mengerang sakit, karena perutnya mendapat tendangan serta bokong dan tulang punggung yang sangat ngilu dirasakan. “Istriku kuat sekali”, Dewa mengaduh sakit karena tidak siap mendapat serangan yang begitu mendadak ini, ia pikir wanitanya telah terlelap.


Dwyne yang tepat berada di atas tubuh suaminya hanya bergeming, benar-benar rasa bersalah memenuhi hatinya. “Dewa, aku.....aku tidak sengaja”, lirih Dwyne.


Seketika dokter tampan ini menengadahkan kepala menatap wanitanya yang hanya menggunakan dress rumahan bertali spaghetti, pertama kali mendengar seorang Dwyne merubah suaranya menjadi pelan tanpa sifat arogan menyertai dalam kalimat yang keluar dari bibirnya.


“Dwyne, aku yang salah. Aku minta maaf”, Dewa mencoba bangun namun tertahan sosok cantik yang duduk di atas perutnya. “Sayang bisa kamu bangun?”, lirih Dewa.


“Ah ya, maaf Dewa”, membantu sang suami berdiri bahkan memapah Dewa pada ranjang.


Dewa hanya tersenyum, lagi-lagi pertama kali mendengar ucapan maaf lolos dari bibir pink sang istri. ”Bukan masalah”, Dewa menarik napas, akibat tendangan Dwyne memberinya rasa mual.


“Kamu mau kemana?”, tanya wanita cantik berambut indah ini.


“Aku mau ambil kotak obat di dalam sana”, tunjuk Dewa pada lemari kecil.


“Ehem, Dwyne bisa bantu aku mengoleskan salep ini di punggung?”, pinta Dewa merasa kesulitan jika mengobati bagian belakang punggungnya.


“APA?, kau....., baiklah”, Dwyne yang hendak marah karena harus menyentuh kulit suaminya tidak jadi setelah mengingat dialah yang mengakibatkan semua ini terjadi.


Dewa berbaring menelungkup di atas ranjang, menunggu wanitanya mengoleskan salep pada bagian punggung, ”Dwyne, sayang kenapa kamu diam?”, kepala Dewa menengok ke belakang.


“Kemarin malam dan tadi pagi dia dingin, sekarang seperti tidak terjadi sesuatu”, batin Dwyne merasa aneh pada suaminya.


“Dwyne, aku kedinginan”


“Hah? Apa?, tunggu sebentar”, Dwyne mulai mengeluarkan sedikit salep pada jari telunjuk dan menyentuh kulit punggung Dewa gemetaran, tentu hal ini pertama kali baginya menyentuh kulit pria selain keluarga, kalau Dariel dan Papa Rayden sudah biasa, bahkan memeluk saudara kembarnya dengan otot perut terekspos.

__ADS_1


Dewa tersenyum geli dan menyusupkan kepala pada bantal bersarung hijau, ingin tertawa karena benar-benar istrinya ini belum bersentuhan dengan pria. “Kamu tidak apa-apa Dwyne?”.


“Tidak, memang aku kenapa?”, nada suara angkuh kembali keluar dari mulut Dwyne Bradley. “Selesai”, ucapnya merasa lega, menghembuskan napas kasar.


“Ini belum”, Dewa melonggarkan handuk dan menunjuk pada bagian bokong yang memerah.


“APA?, obati saja sendiri, terlalu banyak memerintah”, Dwyne melempar salep di atas ranjang dan bergegas keluar kamar. Namun beberapa detik kemudian ia kembali dan mengambil salep yang tergeletak di sisi Dewa. “Apa tidak ada sarung tangan?”, tanyanya bak bocah lugu, benar-benar tidak ingin menyentuh kulit diarea sensitif itu.


“Tidak, untuk apa?”, Dewa heran dengan pertanyaan sang istri.


“Kalau saja bukan aku yang membuatnya terluka, mana mungkin aku mau menyentuhmu Dewa”, gerutu Dwyne dalam hati disertai irama jantung yang bertalu-talu.


“Cepat Dwyne, aku kedinginan”.


“Ck, bawel”, seru Dwyne Bradley.


Memejamkan mata mengobati tubuh bagian belakang Dewa yang nampak memar, terburu-buru sampai gumpalan salep pun ada di kulit Dewa. ”Selesai, sudah kan?, aku mau tidur. Minggir”, usir Dwyne pada suaminya.


“Apa kamu tega melihat suamimu tidur di sofa?, ayolah Dwyne punggungku itu sakit”, ucap Dewa sedikit sedih. “Bolehkah malam ini aku tidur di sini?”, menunjuk pada kasur empuk.


“Ah sudahlah, tapi ingat kalau kamu macam-macam ku buat lebih memar dari sekarang, paham?”, Dwyne memasang wajah angkuhnya.


“Memangnya kamu pikir macam-macam seperti apa yang akan aku lakukan?”, Dewa sengaja mendekat pada Dwyne bahkan kening keduanya hampir bersentuh.


“Apa?”, Dwyne menatap tajam Dewa.”Tentu saja seperti ini, ingat tidak boleh mendekat”, ucap Dwyne sedikit gugup.


Dewa yang rindu mendengar ocehan sang istri tertawa ringan dan merengkuh pinggul wanita di depannya yang tengah gugup, “Seperti ini kah?”, mengecup bibir pink yang sedari tadi mengoceh padanya.


...TBC...


...*****...

__ADS_1


Minta semangatnya dan dukungan untuk othor, like, komen dan hadiah juga votenya di tunggu syekali


Terima kasih 🥰


__ADS_2